Monday, April 27, 2009

sekadar mencatat

Karma tertegun beberapa kejap. Buliran keringat sebesar jagung menetes disesela dahinya yang berkerut bimbang. Sementara matanya nanar menatap rajanya yang tak lagi mampu bergerak kemana-mana. Seolah tegak berdiri ditengah kumparan ragu dalam balutan cemas yang membatu. Maju selangkah saja, tentu akan menjadi bulan-bulanan kaki kuda lawannya. Kalaupun toh ada sejumput kenekatan untuk beringsut kesamping kiri, benteng kokoh itu akan segera meruntuhkan kewibawaannya menjadi berkeping-keping. Mundur, jelas bukan pilihan bijaksana dan jauh dari pengertian untuk disebut sebagai cerdas karena ada dua gajah yang siap membetot dan membanting tanpa ampun dengan belalainya.
Karma mulai gelisah, butir-butir keringat sebesar biji tasbih itu mewiridkan kecemasannya. Haruskah menyerah sampai disini? Mengakhiri permainan dengan kekalahan tak terampunkan. Suara detak jam disudut ruang itu melindapkan nyalinya. Tak ada suara apapun, kecuali dua ekor cicak yang tengah pacaran seperti mengejek nasibnya.
Degup jantung yang kian memburu serta detak waktu yang terus saja berlalu melagukan orkestrasi kematian bagi dirinya.sebentar-sebentar diliriknya Sudjana yang menghiasi air mukanya penuh senyum kemenangan. Masih saja tak terdengar bunyi apapun. Kebekuan menyergap seisi ruangan. Terutama bagi Karma yang tertunduk lesu mati kutu.
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Alam disekitar Karma seakan berputar balik. Serupa permainan kuda-kudaan di pasar malam dalam mimpi kanak-kanaknya. Kuda-kuda itu terlihat lucu dan menggemaskan tak segarang kuda dalam genggaman tangan Sudjana yang kini tengah mengancam bukan saja posisi pun juga nyawa Sang Baginda Raja. Tragisnya, kuda-kuda Karma sendiri mulai goyah membendung gempuran dari setiap lini. Berharap pada serdadu dalam situasi ini menjadi sia-sia. Tak ada yang mampu membebaskannya dalam situasi terjepit ini. Tak juga para menteri apalagi beteng Karma yang biasanya kokoh menjaga eksistensi kini pun nampak lowong tak berpenghuni. Sekali dorong bisa langsung doyong.
Dalam hitungan detik, begitu baginda raja mengumumkan penyerahan dirinya dalam dalam skaak yang sangat mat itu, Karmapun akan segera mengalami perubahan besar di dalam hidupnya. Senyum sinis Sudjana menebarkan ancaman. Sungguh pilihan yang teramat sulit ditanggungkan. Bahkan dulu prabu Yudhistira sulung para Pandawa itu itu tak pernah mengalami dilema serumit ini. Lantaran prabu Yudhistira hanya kalah dalam permainan dadu dan bukannya permainan catur yang ternyata lebih rumit dan penuh kejutan dari pada permainan dadu. Dan yang lebih sulit adalah pilihan akibat dari permainan itu sendiri. Kalau prabu Yudhistira dulu cukup dengan merelakan Drupadi dan terusir dari rumahnya di Indraprasta Regency, sementara Karma mesti menelan pilihan yang sakit untuk mengikhlaskan Warni istrinya yang dicintai dengan segenap rindu atau rela membiarkan anak gadisnya Wening jadi santapan Sudjana dan staf nya.
Pilihan yang teramat melelahkan. Bahkan teramat melelahkan hingga tak satupun pencatat kisah wayang menuliskannya dalam lontar waktu yang membelenggu.
Karma benar-benar sendirian. Ia iri hati setengah mati pada Yudhistira yang sempat mengusung penderitaan serupa ini bersama saudara-saudaranya sesama Gank Pandawa. Sementara dia mesti menelannya sendirian sepanjang jaman.
Warni melintas buat mengasong gelas-gelas kosong. Meja beku serupa perawan frigid yang tiada pernah tersulut simpul birahinya. Dingin menggigit tulang. Sepi, tak ada suara apa-apa. Kembali suara cicak cekikikan pacaran disudut ruang.
Sudjana menelan ludahnya dengan senyum kemenangan penuh gairah nakal. Karma menekuri nasibnya. Warni mendadak diam dan tak terjemahkan. Wening, anak gadisnya yang tertidur sejak sore tak akan pernah sesekali membayangkan bila saat bangun nanti akan disergap kumparan nasib yang membungkusnya dalam pengap yang teramat gelap.
Gempa di dada Karma tak terdeteksi skala richternya seakan meledak dan membuatnya jadi bubur basi di ujung pisau sepi.

Friday, December 12, 2008

Nonton Film Dokumenter

Menyaksikan pembukaan Festival Film Dokumenter #7 2008 bersama Komunitas Dokumenter di Gedung Sosietet Taman Budaya Yogyakarta, sabtu malam 6 Desember 2008 yang baru lewat aku menikmati suguhan film pembuka yang bertajuk Operation Homecoming: Writing the Wartime Experience besutan Richard Robbins yang berdurasi sekitar 81 menit. Sebuah film hasil Pendanaan Pemerintah Amerika Serikat dalam bidang kesenian (The US National Endowment for the Arts) yang mengirimkan penulis berpengalaman ke Afganistan dan Irak untuk memberi lokakarya tentang penulisan kepada sejumlah tentara Amerika. Maka jadilah film dokumenter karya Richard Robbins ini bertabur puisi, cerita fiksi, surat, buku harian serta riwayat hidup disamping tentunya juga wawancara dengan tentara Amerika yang mengungkapkan pandangan pribadi mereka mengenai perang. Tak ketinggalan para veteran yang ikutan nostalgia serta nukilan karya para penulis serta filsuf menjadikan film ini lebih bermakna luas daripada sekadar film perang.

Beberapa testimony yang diungkap oleh perajurit yang rata-rata belia membukakan mataku, bahwa perang bukan sekadar persoalan picisan menang kalah pun juga bukan perkara remeh seperti menguasai dan dikuasai. Ada semacam kebanggaan dan rasa menjadi bagian dari yang mewarnai sejarah adalah perasaan lain yang muncul dibenak tentara remaja itu. Perjuangan mereka menaklukkan rasa ngeri saat berhadapan dengan moncong senjata lawan serta pacuan andrenalin yang gegap gempita saat peluru berseliweran diatas kepala mereka.

Bisa jadi aku tidak pernah mengalami peperangan seperti yang dialami oleh bapak maupun kakek buyutku dahulu saat mereka berjuang untuk menendang pantat Kolonial yang kurang ajar mengangkangi ibu kita yang pertiwi Indonesia. Namun yang kudengar dari cerita mereka yang mengalami maupun lewat pembacaan melalui wacana sejarah, perjuangan para orang tua kita dulu tak kalah heroiknya dengan yang kulihat di layar sosietet malam itu.

Sebuah ironi memang saat aku menyadari bahwa ruangan tempat aku nonton film tadi ternyata juga hasil produksi kolonial Belanda yang meninggalkan gedung semewah sosietet untuk memutar film yang menyalakan semangatku sebagai rakyat jelita di negerimu Indonesia. Bahkan aku sempat berandaiandai, kalau saja dulu kita tidak dijajah Belanda, belum tentu kita memiliki gedung seanggun sosietet ini. Tapi tentunya tak perlulah kita berpikir untuk dijajah lagi agar seenggaknya bisa membangun negeri ini menjadi kurang lebih setara dengan Eropa maupun Amerika sekalipun. Tapi kadang asyik juga mungkin kalau ada perang lagi, setidaknya bisa mengurangi jumlah pengangguran serta biar nampak ada kegiatan gitu lho.


Film yang juga sempat kutonton adalah Peace Mission karya Dorothea Wenner yang berdurasi sekitar 80 menit bikinan Jerman tahun 2008. Kalau hanya membayangkan judulnya kita bisa saja terkecoh. Film ini tidak menggambarkan sebuah misi perdamaian tertentu, namun sebuah rekaman perjalanan seorang pejuang sinema wanita dari Nigeria yang akrab dipanggil sebagai Peace. Nona Peace adalah putri dari pengusaha minyak berkebangsaan Nigeria, sebuah negeri di Afrika yang berpenduduk 50% Muslim dan 50% Katholik. Nah, Nona Peace ini punya misi untuk menjadikan industri perfilman di Nigeria (Nollywood) bisa sejajar dengan Hollywood (AS) maupun setidaknya Bollywood (India). Dengan jumlah produksi film mencapai 2000 judul pertahun disebuah Negara seperti Nigeria, tentunya bukan sesuatu yang mainmain bahkan boleh tuh disebut sebagai bukan main! Lantas dari mana mereka mendapatkan dana untuk memproduksi filmfilm sebanyak itu? Ternyata sebagian besar produksi film di Nigeria ditopang oleh industri minyak keluarganya mbak Piece tadi. Saya ikut berdoa, semoga Nollywood segera dikenal menyusul Bollywood dan Hollywood yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat dunia. Tentu saja dengan cara bukan hanya memperbanyak jumlah produksi filmnya tapi juga mesti menggeser mindset yang selama ini dipaksakan bangsa barat (lagilagi kolonial) dalam melihat Afrika. Perfilman Afrika harus menampilkan wajah Afrikanya sendiri dalam bahasa sinema, bukan sekadar wajah sinema barat dalam bahasa Afrika, nanti seperti tetangganya di Asia yang berjudul Indonesia itu lho, yang sampai hari ini belum menemukan wajah sinema Indonesia kecuali pemeran dan bahasanya namun pola ucap sinemanya selalu berwajah barat. Atau janganjangan negeri ini diamdiam sedang menyiapkan diri untuk jadi Dollywood? Kalau itu yang terjadi, no comment dech.


Hold Me Tight, Let Me Go karya Kim Longinotto dari United Kingdom yang berdurasi sekitar 100 menit produksi tahun 2007 ini menceritakan tentang rumah singgah bagi anak-anak dalam kondisi yang tidak biasa bernama Mulberry Bush di daerah Oxford. Berbentuk asrama dan dihuni oleh sekitar 40 anak yang tidak biasa karena mereka dikeluarkan dari sekolah, ngaco dirumah serta bermacam kenakalan anak-anak yang orangtuanya sendiri sudah angkat tangan. Disini kita bisa melihat betapa kesabaran ternyata menjadi kata kunci memahami perilaku yang tak biasa yang ditunjukkan oleh anak-anak yang agresif, destruktif serta hyperaktif itu. Sepertinya ujaran kesabaran itu ada batasnya tak berlaku dalam kamus hidup pengasuh asrama anak mbejijak di Inggris ini. Wajah letih mereka terhapus senyum bahagia saat mengantar anak-anak itu kembali ke keluarganya dalam kondisi wajar dan diterima kembali oleh masyarakat. Waw, kalau saja Lembaga Pemasyarakatan di negeri ini bisa mengadopsi metode mereka tentu penjara bukan lagi menjadi sekolah kriminal yang menghasilkan lulusan lebih lihai dan canggih dalam modus operandi tindak kejahatan pasti masyarakat akan hidup lebih nyaman dan pastinya saya tidak begitu sungkan lagi menyebut diri sebagai orang Indonesia.


Film lumayan menarik yang sempat kutonton adalah Mad About English karya Lian Pek dari Singapura yang berdurasi 82 menit produksi 2008. Film ini menggambarkan antusiasme masyarakat China menyambut Olimpiade Beijing dengan memperdalam penguasaan mereka terhadap bahasa Inggris untuk menyambut tamu-tamu dari banyak negara dengan bermacammacam bahasa yang datang ke China dalam rangka Olimpiade. Mau nggak mau seluruh lapisan masyarakat china dari Balita, remaja sampai tua bangka musti menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi yang dipahami oleh sebagian besar tamu Olimpiade. Bahkan seorang ahli grammar secara khusus berkeliling kota Beijing untuk menertibkan papan nama di wilayah publik yang nampak rancu. Sopir Taxi, pelayan restoran, serta siapapun yang berhubungan dengan orang lain berlombalomba menguasai bahasa Inggris. Beberapa guru bahasa Inggris khusus didatangkan dari Hongkong yang memang paling pengalaman dijajah Inggris. Poster Paman Mao yang nangkring di lapangan dekat Kota Terlarang (Forbiden City) seperti tersenyum sinis dan berkata,”owe bilang apa..bahasa kita (China tentu maksudnya) mustinya jadi bahasa nomel satu didunia..karena jumlah penduduk kita paling banyak di dunia, haiyyaaa..”


Film yang pengen kutonton tapi gak jadi karena tertahan di pabean adalah A Jihad For Love. Padahal film ini konon gak ada hubungannya dengan kekerasan atas nama perang suci seperti yang sering digambarkan oleh media barat pada umumnya Barangkali negeri ini kelewat “jihadophobia” tanpa sungguhsungguh mau mengerti apa sih sesungguhnya pengertian jihad itu. Jadi begitu mendengar kata jihad, stigma yang muncul adalah kekerasan. Inilah mindset salah kaprah yang mustinya harus segera di up grade kalo mau maju sebagai bangsa. Itu kalo mau, kalo ngga ya silahkan saja teruskan kekonyolanmu.


Hanya ini yang bisa kulakukan, kapankapan kita lanjutkan lagi catatan perjalanan CS berikutnya dilain kesempatan dan peristiwa…Salam.



Friday, September 26, 2008

Risalah Risau (edisi lanjutan)

Pelajaran Moral Dari Komik1)

Ada yang menarik setelah aku nonton X MEN 3, The Final Stand. Sesuatu yang kudapatkan dari film yang diangkat dari komik terbitan Marvel ini ialah, betapa dimensi cinta menjadi Nampak begitu luar biasa. Kekuatan Cinta, aku membahasakannya demikian, ternyata mampu mengontrol ketidakseimbangan emosi pada diri Jean (Mutant dengan kekuatan tingkat 5, tertinggi di komunitasnya bahkan melampaui Charles Xavier maupun Eric Sang Magneto). Kenapa Jean jadi Nampak istimewa, tentu disamping mutasi bawah sadarnya yang sulit ditengarai, juga adalah refleksi kesepiannya yang begitu mencekam. Sebagaimana halnya Marie si Rogue, dalam keterbatasan kelebihannya, lebih sering didera kesakitan akibat kesepian. Rogue sulit berhubungan dengan orang lain justru karena kelebihan mutasinya. Sebagai gadis yang sedang memasuki masa puber, tentu saja Rogue pengen juga ngerasain gimana sih ciuman, sentuhan serta aktivitas romantic yang sewajarnya dinikmati oleh remaja seusianya. Hal inilah kemudian yang membuat Rogue seperti menemukan harapan setelah Worthing mengumumkan penemuannya. Lantas bagaimana dengan kaum mutant sendiri menyikapi hasil temuan Worthing. Rupanya mereka terbelah pada dua opsi (penolakan dan penerimaan) sesuatu yang sangatlah wajar dalam kehidupan.

Bagaimana kemudian ternyata Cinta menjadi obat yang lebih mujarab dari temuan manusia hasil kecanggihan teknologi sepanjang masa. Sebab cinta memang tidak bisa di produksi melalui sekadar kekuasaan ilmu pengetahuan. Ia (Cinta) hadir meruang memenuhi semesta merasuk kedalam sanubari siapapun saja yang dikehendaki. Lihatlah Jean, karena ketidakmampuannya dalam mengelola kekuatan yang ada dalam diri sendiri, maka kekasihnya Scott harus rela untuk mati atau entahlah (karena sampai film usai, tak pernah ditemukan jasad Scott, kecuali kacamata merahnya yang tak pernah berpisah dari dirinya selama ini).

Hal pengelolaan atau system manajemen barangkali yang perlu di stabillo dari kasus yang satu per satu muncul melalui perantaraan tokoh-tokoh dalam film ini. Ingatlah Cinta, saat kau saksikan bagaimana Logan sang Wolverin 'menjinakkan' naluri buas yang muncul dan tak terkontrol oleh kesadaran Jean. Dan betapa akhirnya cintapun rupanya telah menunjukkan jalan pembebasan bagi Jean meski harus ditebus dengan maut.

Kadang saya berpikir, kalau sedemikian agungnya pesan moral yang disampaikan komik Amerika, yang tentunya juga telah dibaca oleh sekian juta anak Amerika serta anak-anak dibelahan dunia manapun, kenapa bisa lahir monster bertubuh presiden seperti George Bush? Apakah George Bush belia termasuk anak yang dilarang membaca komik oleh orang tuanya, lantaran sebagian besar orang tua di dunia ini menganggap komik sebagai bacaan yang tak berfaedah dan lebih memilihkan bacaan untuk anaknya dalam standard berfikir orang tua. Bisa jadi memang bacaan Bush saat itu mungkin buku-buku tebalnya Machiavelli 'Ilprincipe' atau seenggaknya 'Mein Kampfe'nya Adolf Hitler yang mewariskan spirit berkuasa tanpa mengindahkan etik moral.

Orang tua dinegeri ini harus mau mulai lagi belajar kembali untuk tidak gampang melakukan penistaan (baca:Pelarangan) terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui persis kelebihan dan kekurangannya agar anak-anak bangsa kita tidak lagi kerdil wawasan karena diamputasi kreativitasnya oleh sistem pendidikan yang bodoh serta kapasitas menyedihkan dari guru sekolah yang hanya bisa mengajar tapi kurang mampu mendidik.

Beruntunglah saya yang sedari masa kanak-kanak telah terbiasa melalap komik. Karena kebetulan di rumah saya dipakai untuk Taman Bacaan yang cukup legendaris di jamannya yaitu Taman Bacaan Triyoga, di daerah Ngampilan Yogyakarta. Tradisi membaca (bukan hanya komik) pun juga cerita silat model Kho Ping Hoo, Gan KL, OKT serta roman sejarah seperti SH Mintardja dan Herman Pratikto pun bahkan majalah popular bulanan Intisari serta yang lainnya. Untuk bagian adegan hidupku yang seperti ini, aku ucapkan terimakasih mendalam atas nama cinta kepada papa dan mama di surga. Karena lewat mereka dan juga kakak-kakakku yang pernah ada, saya belajar mencintai kehidupan ini. Sebab dalam hal memilih, aku lebih memilih untuk berpihak pada kehidupan. Meski sama-sama heroiknya, ketika kita menyaksikan orang sekarat menjelang maut maupun bayi lahir, aku kok lebih bahagia saat mendengarkan tangisan bayi daripada rintihan eksotis ketika ruh terpisah dari raga.

Maka kalau saja kita percaya, bahwa cinta bisa berbuat lebih maksimal lagi bagi hidup yang lebih baik. Kenapa tak juga sekalipun kau terima uluran tanganku yang terbuka menantikan kau hadir dipelukanku sebagai sepasang kekasih yang dirindukan rembulan saat purnama menghiasi langit dengan wajahnya yang berbinar. Ra, lebih dari apapun. Kita bisa mulai kapan saja. Aku menunggumu. Itu juga kalau masih ada sejumput percaya dalam bathinmu buat aku. Doakan agar aku tak lekas lelah menanti dirimu. Sampaikan salamku buat keluarga di rumah. Bagaimanapun bila saatnya tiba nanti, aku juga akan menjadi bagian dari mereka semua dan kaupun bagian dariku dan keluargaku. Semoga ada merger yang menarik dikemudian hari.

1). tulisan ini pernah juga di posting di Catur Stanis Page (http://caturstanis.multiply.com)

Teriring salam untuk Putra Mahardhika dan kawankawan di Wizard Magazine Jakarta

Orang Miskin Dilarang Bercinta

Membaca tulisan di dinding sel yang kutinggali saat ini, aku dikejutkan oleh sebuah tulisan yang berbunyi,"Orang Miskin Dilarang Bercinta". Semula aku nggak begitu serius memperhatikan tulisan itu, namun lama kelamaan bathinku semacam digedor oleh sejumput rasa penasaran yang aneh. Benarkah orang miskin dilarang bercinta. Atau sebegitu mahalnya harga cinta di era merebaknya kapitalisme ini. Atau jangan-jangan, cinta tengah di jadikan komoditi ekspor non migas setelah kita tak mampu lagi meyakinkan tuan pongah yang bernama Paman Sam untuk sekadar meluangkan senyumnya yang berupa goodwill serta bermacam konsesi bagi sebuah negeri yang kesanggupannya baru pada taraf mengekspor pasir untuk lantas kemudian di jejali sejumlah benda olahan dari pasir itu menjadi sebentuk barang konsumsi yang diburu setengah mati oleh para penghayat modernitas yang keblinger dan akhirnya jatuh ke dalam genggaman mulut manis Sang Tuan Tanah yang sebagian besar pendapatannya dari merentenkan kekuasaan yang berbau modal itu.

Sejak aku mengenal sepak terjangnya yang bermuka dua itu, aku jadi di hela sangsi akan kesungguhan perhatiaannya. Standar ganda yang diterapkannya sungguh bikin aku pengen muntah.(cuman sayang, tak ada material yang bisa aku muntahkan, lantaran perutku lebih banyak terisi angin dari pada sebongkah makanan misalnya. Maka kentut menjadi katup pelepas yang cukup melegakan ditengah situasi yang tidak bisa tidak merubah wajah dunia menjadi tak berkarakter. Sedari mula aku telah sadari. Bahwa tidaklah mudah dan sederhana menemukan Perawat Cinta itu.

Aku jadi ingat kisah seorang kawanku, yang tak mau lagi meneruskan kuliahnya lantaran ia tak begitu lagi percaya pada system pendidikan di negeri ini. Orangnya sebenarnya lumayan cerdas. Bahkan kalau hanya sekadar mencari posisi aman, menjadi dosenpun bukan perkara yang sulit untuknya. Cuma yang jadi masalah adalah karena dia sendiri telah menutup keinginannya untuk menyelesaikan perkuliahannya dijenjang pendidikan tinggi itu. Keluarganya sebetulnya tidak kurangkurang amat dalam memberikan perhatiannya. Keluarga mereka memang tidak seperti keluarga pada umumnya. Bahkan tingkat ketidak umuman nya sampai pada kondisi mendekati absurd. Meski juga seperti yang kubilang, tentu tidaklah begitu absurd-absurd amat.

Kebetulan kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Papanya yang pensiunan militer itu (purnawirawan kali yee!), di pekerjakan kembali, atau istilah kerennya di"karya"kan kembali disebuah institusi kenegaraan yang berjudul Sekretariat Negara, sementara Mama nya adalah pensiunan pegawai negeri di kantor Gubernuran, Kepatihan. Dari ilustrasi ini bisa dibayangkan, cukup aman sebetulnya posisi ekonomi kawanku itu. Apalagi posisi dia sebagai anak bungsu tentu mempermudahnya untuk mendapat akses kasih sayang serta cinta dari keluarga(cieee!) pendek kata dalam urusan bahagia, pasti dia tergolong pakarnya.

Lantas kemudian apa yang membuatnya galau sehingga sepertinya kehilangan rasa syukur nikmat yang mestinya bisa dia pelihara sampai hari kiamat. Ternyata urusan kasih sayang itu tak sesederhana dengan terpenuhinya segala materi duniawi. Sampai di bagian ini, aku sering menyesali, kenapa dia harus memakan buah sebelum waktunya tepat. Tepatnya dalam usia semuda itu dia telah mencoba untuk memasuki dunia orang tua semacam kasepuhan (dalam kejawen) serta Tasawuf (dalam islam). Maka jadilah ia sebagai orang tua dengan kostum anak muda bisa dibayangkan ngga sich, betapa ngga matchingnya.

Ditengah situasi yang membuat temanku itu Nampak aneh dimata teman-temannya rupanya diam-diam dia sedang merencanakan sesuatu untuk masa depan. Sampai-sampai kawan-kawan di kampusnya waktu itu menjulukinya sebagai perpustakaan berjalan (untuk mengimbangi penyebutan Apotik Keliling bagi para pengedar pil) tapi bahagiakah kawan kita itu dengan predikat-predikat yang disandangnya? Atau justru ia tengah bersembunyi berpayungkan kamuflase itu?

Mungkin lebih tepat kalau kita tanyakan langsung padanya kelak bila kalian menjumpainya. Beberapa kawan, sering menyesalkan keputusannya untuk meninggalkan kampus (padahal tinggal 22 SKS lagi dari 122 SKS yang telah ditempuhnya untuk 144 SKS yang semestinya diselesaikannya). Tanpa mengurangi rasa hormat bagi kecerdasan dan dedikasinya bagi teater, aku akan mengacungkan sepuluh jempol andai aku memilikinya.

Ada sementara orang, bahkan sempat melihatnya keluar masuk Sarkem (flower market, southern Tugu Railway Station) tempat mangkal penjual daging ons-onsan yang legendaris nan tak lekang oleh jaman itu. Apa yang dilakukannya didalam sana tentu hanya dia yang tahu. Apakah ia tengah melakukan observasi untuk naskah dramanya yang baru atau tengah meneliti jenis penyakit social lainnya. Atau bisa jadi ia tengah terobsesi untuk melakukan pengulangan adegan tertentu yang dirasa nikmat buatnya.

Yang membuat saya kadang miris sembari meringis ngeri adalah pembaiatan dirinya sebagai Homo Theatricus dengan sebuah ikrar," I give my live to die in the theatre forever". Meski kini kita lebih sering menyaksikannya sebagai penonton titer daripada pelaku. Meskipun dia juga cukup aktiv sebagai seorang moderator dari sebah milis tentang teater yang kalau nggak salah bernama Ngobrolin_Teater.

Sehari Sebelum Galungan

Hidup serupa tangan-tangan gaib yang melilitkan benang tak kasat mata ketubuh

kita dan lantas menggerakkannya semauNya.(Catur Stanis,2007)

Matahari masih saja nongol malu-malu, saat kau bangunkan aku sepagi shubuh itu. Perjalanan yang meletihkan serta suasana sejuk menjelang pagi itu membuatku nikmat untuk berguling-guling di ranjang mimpi. Sementara di dapur, nyonyamu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Aroma masakan menyengat membangunkan cacing-cacing di perutku. Aku beringsut bangun saat kau lempar seperangkat alat mandi menerpa tubuh dan mukaku.

"Hari ini adalah hari Penampahan," ujarmu singkat sembari menyiapkan bambu berhias janur (daun kelapa yang masih muda).

Aku lantas ingat, besok pagi adalah Upacara Peringatan Hari Raya Galungan, setelah kemarin aku turut menyaksikan pemotongan (untuk tidak menyebut sebagai pembunuhan) hewan sebagai lawar dan sesajen. Dan ini hari adalah kesempatan terakhir untuk memancang Penjor di sekitar pintu pagar rumah. Kadang pikiran nakalku berandai-andai, kalau saja kelak bambu khusus buat Penjor itu sudah langka dan sulit ditemukan lagi, akibat rakus manusia mengekploitasi alam serta meningkatnya kawasan hunian/pemukiman. Apa tidak mungkin, kelak pipa besi mengganti fungsi bambu, yang tentu saja akan berbeda muatan filosofisnya. Semoga saja yang berwenang di kementrian lingkungan hidup, segera melestarikan tanaman bambu tersebut, agar saudara-saudara kita umat Hindu, tak perlu kesulitan dalam menyelenggarakan upacara ritual yang menggunakan bambu sebagai salah satu property penyangganya.

Bahkan tadinya aku hampir saja mengira ini sekadar mimpi, saat terbangun dari lelap tidur tadi pagi. Karena yang ku ingat aku masih berada di Solo, setelah kemarin dulu,(25/6/2007) aku berangkat ke kota itu bersama kawan-kawan Sanggar Nuun, yang mengadakan pentas teater keliling di Solo-Salatiga-Semarang dan Jogja. Lantas sehari sesudahnya,(26/6/2007) Thendra yang di"kawal" Brekele, serta Indrian Koto serta Sukma dan temannya datang di acara Temu Penyair Mahasiswa Solo-Semarang-Purwokerto di Teater Arena TBS.

Aku tak habis pikir dengan perjalananku ini. Beberapa malam lalu aku masih terlihat sliwar-sliwer (lalu-lalang) di Jogja, tiga hari yang lalu aku berkeliaran di Solo. Dan sekarang karena kuasa SUPERVISOR AGUNGKU yang telah menggerakkan seseorang yang baik hati seperti Wayan Sapra yang sudi menerimaku menginap di pondoknya di Peliatan, beberapa kilometer dari Ubud yang tersohor itu. Kami bahkan sempat lewat bekas rumah yang dulu pernah di diami Blanco serta seorang perupa berkebangsaan Jerman yang sayang sekali ku lupa namanya, perupa dari Jerman itu konon ikut membidani lahirnya Tarian Cak/Ketjak yang ternama itu.

Jadilah pagi menjelang siang ini aku mandi di sungai yang jernih dengan bebatuan yang cukup besar. Sebuah lanskap alam yang luar biasa. Saat aku turun ke sungai untuk mandi, aku di sergap rasa malu yang luar biasa. Tanpa sadar aku segera menutupi bagian vitalku dengan kedua belah tanganku. Sesaat berendam dalam sejuk dingin air sungai yang mengalir jernih itu, kudengar beberapa perempuan desa berbisik agak keras kepada sesamanya,"Ternyata burung orang Jawa itu mirip senter ya…" Meledaklah ketawa di antara mereka, akupun melengos malu sembari membenamkan tubuhku di air. Namun aku cukup lega juga, karena mereka para gadis yang sempat melihat "burung"ku itu hanya memperhatikan bentuk burungku yang berbeda (karena punyaku di sunat, sedang kebanyakan lelaki disana nggak), sementara mereka tidak begitu mempersoalkan ukurannya.

Sambil menikmati aliran sejuk air alam itu, lamunanku melayang pada peristiwa heroik saat Ki Maya Denawa, seorang raja yang di kenal kejam dan bengis itu tersungkur roboh di tangan Dewa Wisnu dan Dewa Indra yang sakti dan bijaksana dalam sebuah pertempuran yang cukup seru. Peristiwa inilah yang kemudian di peringati sebagai Hari Raya Galungan, yang bisa juga dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma (perbuatan baik) melawan A-dharma (perbuatan jahat). Sedangkan Galungan sendiri berasal dari kata Gal dan Lungan. Gal berasal dari kata penggal atau panggul sedang lungan bisa juga diartikan sebagai patah atau patahan.

Ah, mungkin terlalu nyaman aku berendam di sungai ini hingga hampir saja aku lupa kalau sore ini aku harus segera berkemas meninggalkan Bali dan terbang kembali Jogja, (padahal aku pengen banget menikmati saat Kuningan di sepuluh hari kedepan, sambil juga menikmati suasana Tumpek Landep serta penghormatan bagi Dewi Saraswati dan yang lainnya). Untuk sebuah perhelatan Hari Minggu Yang Berteater dalam rangkaian acara pasar seni FKY XIX-2007, besok pada hari minggu tanggal 1 juli 2007, aku tinggalkan Bali untuk sementara, sampai saat waktu memungkinkanku kembali kesana lagi. Semoga saja.

Terimakasih Kesempatan!

Lantas Segalanya Berlalu...

Balik ke Jogja, disambut hujan yang aneh. dengan kereta Prameks yang interiornya mirip-mirip kereta di film My Sassy Girl, film korea yang bikin andes nangis (kau tau kini betapa cengengnya dia serta konyol tentunya)Ke FKY sebentar, ketemu Iwan dan Performance Clubnya, Cutter serta Buyung Mentari yang menyalamiku hangat setelah kita berpisah di Art Camp. Kudengar kabar Kang Wawan meninggal di Rumah Sakit di Jakarta setelah kelelahan dengan kanvasnya di Ancol. Kemarin bergelasgelas Ciu Bekonang menggelontor tenggorokanku lantas kini berliter La Pen memberondong lambungku...kapan lagi bisa kucecap setetes Arak Bali? (hehehe,ketawa yang perih) Minggu sore,meramaikan Story Tellingnya Hindra di Selasar Utara Beteng Vredeburg, bersama Umar dan yang lain. Ketemu Uung yang makin gimana gitu? Setelah Gintani menraktirku dengan es teh, rasa hauspun beranjak lalu. Ah, Aku merasakan, kini tulisanku jadi begitu kosong. Tanpa denyut, tak berdarah serta pucat pasi. Setelah segalanya berlalu sebaiknya kusudahi saja. Inilah Bunuh Diriku kemudian. Memilih untuk diam dengan segenap keutuhannya

Edited by Catur Stanis in Koto’s Room on 26 September 2008 at 00:04 WIB

Risalah Risau

Sekadar Catatan Tentang Temuan :

Malam yang ganjil usai berbuka puasa aku menemukan tulisantulisan lamaku yang dulu sempat nongkrong di blog Friendster seputar tahun 2007an atau 2007-2006 barangkali, entahlah. Aku senantiasa gagap mengingat tahuntahun lewat serta sering pula lupa mencatat. Ucapan terimakasih tentunya layak kusampaikan kepada Indrian Koto yang telah menyimpannya di komputer hingga bisa kupindai kembali serta kuhadirkan lagi lewat Blogspot ini.

Sekali lagi ini tulisan lama semoga masih layak di baca, terutama bagi yang belum sempat membacanya di Friendster, bagi yang sudah pernah itungitung semacam nostalgia, pendek kata selamat menikmati saja.

Kenapa akhirnya aku memilih Risalah Risau sebagai tajuk kompilasi tulisan ini, barangkali alasan sederhananya adalah “kerisauanlah yang menjadi picu pemantik nyala hasratku menorehkan catatan ini waktu itu”. Mungkin.

Kepada siapapun saja tentunya maklum kalau aku sekarang lebih sering terlihat berpacaran dengan SunYi meski dulu sekali pernah juga mencoba mendekati Ra dan May yang fenomenal itu, setidaknya fenomenal buat diriku,hehehe.

Okey dari pada ntar jadi lebih panjang pengantarnya dari pada yang diantar ada baiknya kusudahi cicitcuit ini, selebihnya selamat membaca sajalah…

Dear, Ra.

Dengerin lagunya White Lion yang bertajuk You're All I Need bareng Kangen-nya Dewa 19 sambil menghisap sebatang Dji Sam Soe ditemani seteguk kopi pahit. Aku jadi ingat Pub Ringan, ingat Jogja, ingat kawankawan yang terjebak di kenyamanan Jogja, ingat kamu. Ah, biadab betul kenangan itu. Yang membuatku mati kutu di tempat yang jauh ini. Di hamparan gedung bertingkat 231 lantai ini. Aku tak sungguh sungguh memimpikannya untuk ada di negeri kita Indonesia. Di tempat yang jauh dan tinggi ini aku melambaikan tanganku. Sia-sia. Sebab tak seorangpun yang kukenal dan mengenalku di tempat yang super asing ini. Aku sendiri tak benar mengerti, kenapa aku bisa berada di sini. Tempat yang dulu sesekali hanya bisa kubayangkan ataupun ku tonton di TV yang tak begitu jelas gambarnya di Pub, dulu sekali.

Kini dalam dekapan teknologi ultra modern, aku terdampar di sebuah tempat yang super canggih dalam balutan obat-obatan dari teknologi yang luar biasa sophisticated. Ah, kalau saja ini mimpi. Pasti aku ngga ingin bangun lagi. Serupa saat bertemu denganmu berabad yang lampau. Mungkin benar kata beberapa kawan, pertemuan kita hanyalah lintasan peristiwa. Mungkin pertemuan di Pub Ringan tertanggal 23 Januari 2007 silam, hanyalah pertemuan yang kesekian. Bukan pertama memang. Mungkin kita pernah ditemukan kelak di masa lampau. Di satu waktu yang tak terjemahkan. Di situasi yang membuat kita gagu dan buta untuk menyadari.

Ra, aku hanya bisa merasakannya. Tak kurang apalagi lebih. Sebab lebih dari yang terucapkan oleh setiap symbol, aku seperti mengenalmu jauh sebelum kita ketemu di malam biadab 23 Januari 2007 itu.

Ra, bisa saja kau mengira aku tengah merayumu dengan rayuan klise tentang sebuah dongeng yang dituturkan oleh para leluhur. Tidak Ra. Yakinlah aku tidak sedang ingin merayumu. Aku hanya tak ingin berbohong padamu. Aku hanya tak mau menipumu. Aku, hanya mau bilang padamu. Bahwa kita telah dipertemukan suatu waktu. Hanya Kau dan Aku tanpa yang lain. Ya, hanya ada kau dan aku Ra. Ah, kegilaan cap apalagi ini? Ditengah ketatnya dateline yang harus kupenuhi. Di situasi yang membuatku pengap oleh meeting demi meeting dengan banyak klien dari seluruh penjuru dunia. Di kepulan sergapan kesibukan yang menguntit siang malamku, selalu saja kamu datang diam-diam menyelinap untuk kemudian melempar seutas senyuman.

Ra, membaca senyummu dalam pejam bobokmu di sofa tempo hari. Aku merasakan surga dalam genggaman tanganku. Maaf kalau membuatmu kaget saat kau terbangun dan melihat aku duduk disisimu. Sungguh aku tak ingin membuatmu kaget. Aku hanya kangen setengah mati. Aku cukup menikmati nyenyak tidurmu waktu itu. Membayang Kamajaya menunggui Dewi Ratih yang lelap karena kelelahan sepulang dari acaranya di kampus. Whooooaaaahhh!!! Aku sudah gila rupanya.

Dan kegilaan termanis adalah ketika menjadi kekasih gelapmu. Gelap, lantaran kau tak sungguh mau tahu kalau aku mencintaimu.Sesekali dengerin aja lagunya White Lion diatas, kau akan tahu betapa dahsyat rasa sayangku padamu. Itu juga kalau elo mau kalau ngga, yo wis!

Pada Suatu Ketika

Duduk sendiri di bangku Plasa Sastra, aku dikejutkan oleh kedatangan Profesor

yang begitu tibatiba. Dan tibatiba saja tanpa memberiku kesempatan bernafas

sejenak dia telah melancarkan pukulannya bertubitubi.

"Kenapa kau tak menulis lagi Nis?"

"Masa itu sudah lewat Prof."

"Ah, masa. Kulihat tulisanmu akhirakhir ini banyak menghiasi Blog di FSmu."

"Itu sekadar pemanasan Prof, belum apaapa."

Profesor mengangkat alisnya dan memperbaiki posisi duduknya agak nyaman

bersandar di bangku panjang itu. Dua cangkir Coffee Late dengan taburan cokelat

diatasnya menerbitkan selera.

"Bagaimana dengan perjalananmu ke Bali kemarin?" pertanyaan yang begitu menohok

dan langsung menancap di bibir bathinku.

"Lumayan. Tapi terlalu singkat. Karena aku harus terbang lagi ke Jogja untuk

Minggu Yang Berteater".

"Sudah dengar soal "heboh sastra" seputar FKY?"

Aku purapura kaget dan mengangkat bahuku pelan sembari mukaku kusetel bloon.

"Ngga usah akting gitu. Aku tahu kamu memang aktor…"

"Pernah tepatnya. Itu dulu, dulu sekali. Sebelum segala sesuatunya berubah

begitu cepat."

"Kamu tidak siap dengan perubahan ya?"

"Siapa bilang!"

"Kamu sendiri. Tidak secara verbal memang. Tapi cukup menjelaskan."

Kali ini aku mengernyitkan dahiku sungguhan. Non akting, benerbener natural.

"Ngaku aja, kamu bingung to?"

Seperti biasa aku tersenyum dalam fase yang tak terjemahkan. Sesaat melintas

Fira. Melambaikan tangan sejenak dan lenyap ditelan dingin malam. Aku mulai

merapatkan jacketku. Hawa dingin yang menusuk mengebor bathinku yang tibatiba

kosong.

"Kenapa diam?"

"Ah, nggak."

"Oke, kita ganti topik aja kalau begitu."

Serasa aku seperti didepan ruang sidang dewan dosen. Ini bukan pendadaran

mestinya. Kecipak suara air kolam itu memudarkan kesunyian.

"Kenapa kau mesti berhenti?"

"Maaf, bukankah itu pertanyaan yang sama?" aku bertanya ragu.

Profesor tersenyum sambil memainkan kacamata minusnya.

"Tapi kau belum jawab pertanyaanku"

"Aku tidak pernah sungguhsungguh berhenti. Aku terus melakukannya Prof. hanya

saja indonesiamu ini tidak begitu sungguhsungguh menganggapku perlu ada."

Profesor terbatukbatuk dahsyat. Setelah agak reda batuknya ia meneruskan.

"Kenapa tidak kau mulai saja dengan melihat dengan cara yang berbeda?"

Aku diam tak mengerti.

"Kalau kau melalui pintu yang sama yang telah mengecewakanmu.kenapa tak kau coba

melewati pintu yang lain. Bukankah masih cukup banyak tersedia pintu. Dan kalau

memang tak lagi kau temukan pintu, kukira kau cukup cerdas untuk memasukinya

tanpa melalui pintu apapun. Bukankah itu kelebihanmu. Memilih jalan yang tak

banyak dilalui orang."

"Tapi,…" Aku ragu meneruskan.

Profesor terbahakbahak menyaksikan kegugupanku.

"Aktor Penyendiri Yang Lebih Menyukai Kesunyian. Sampai kapan kau akan

bertahan?"

Nona mendatangiku setelah berbasa yang cukup basi dengan Profesor. Sesaat

setelah professor berlalu.

"Kemana aja Mas?" rengeknya manja.

Kenapa dia? Kenapa bukan Ra. Padahal jauh diseberang bathinku yang berdebu oleh

lumut waktu, aku selalu berharap Ra datang menjengukku. Untuk sekadar menorehkan

senyuman yang mutlak bahasanya itu. Mendengar suara Ra saja, aku serasa jadi

astronot yang piknik ke bulan. Apalagi kalau aku tayangkan kembali lintasan

adegan waktu itu. Saat kami tertawa berkarungkarung di pojok warung sambil

menikmati buah Wani. Wow seolah surga dalam dekapan dech.

"Idih, ditanya kok diam aja sich. Kangen ama mbak Ira ya?"

"Lho kok tahu?"

"Emang kamu serius ama dia?" cocornya membesut ku kesudut.

"Kamu adalah orang yang kesekian milyar yang menanyakan hal itu. Emangnya kenapa

kalau aku serius? Itu kan urusanku. Kenapa juga kalian yang ribet."

"Ih, kok jadi sewot gitu sech?"

"Bukannya sewot, aku tuh cuman ngga abis ngerti. Apa sich yang membuat kalian

jadi heboh melihat hubungan kami. Mbok biasa aja. Kayak infotainment banget sich

elo."

"Tuh, kan marah kan…"

"Aku ngga marah sama kamu dan orang-orang sepertimu. Aku cuman ingin, semua

orang siapapun dia ngeliat ini sebagai sebuah kewajaran."

"Ngga takut kecewa?"

"Kupikir itu konsekwensi logis."

Aneh juga orangorangan ini. Kenapa mereka meributkan soal perkawinan. Padahal aku tidak pernah mengajak Ra menikah dalam waktu dekat ini. Aku hanya merasa menemukan teman yang asyik buat ngobrol. Pembunuh sepi yang cukup piawai. Aku memang tak pernah sembunyi mengaguminya. Tapi itu bukan alasan untuk memperistrinya kan. Dia merdeka dengan pilihannya. Toh terpautnya rasa dua hati tak harus diakhiri dengan pernikahan kan. Kalau kami enjoy begini, kenapa dunia jadi ngga begitu nyaman buat di huni?

Ah, kalian. Selalu saja melihat dari sisi keliatannya. Dan lebih cenderung menebalkan sisi perbedaan itu. Biarin aja berbeda, yang penting asyik. Ra, kau mesti jawab itu. Jangan diam aja donk. Mereka menyangka aku ingin mengawinimu padahal aku ingin menjadi kawanmu. Aku ngeri membayangkan kau menjauh dariku. Kembalilah seperti waktu itu.

Kalau boleh aku berterus terang, aku bahagia banget saat kau datang malam itu. Ra, maafkan kenaifanku. Maafkan bila yang terjadi membuatmu terluka. Kumohon jangan benci diriku karena cintaku. Ampuni diriku yang membebanimu dengan rasa rindu. Tetaplah seperti itu. Tetap menjadi kupukupu yang lucu. Aku akan kembali kesudut pilu muara sepi mendekap sunyi menggigit jari.

Sayang Ada Orang Lain

Telah lama tak kuterima lagi SanDek (pesan-pendek,kata lain untuk SMS yang kebaratbaratan itu), mungkin dia cukup sibuk buat merawat diri sampai lupa atau tepatnya melupakan yang ada disini. Ah, segera kutepis prasangka tak menentu ini. Aneh ngga sich, kalo lagi kangen bawaannya pengen ketemu terus. Padahal juga ntar kalo udah ketemu palingan juga cuman diem-dieman and saling curi-curi liat dari jarak yang cukup jauh tak tersentuh. Ada masa dimana aku gak bisa jauh darinya. Bawaannya pengen deket terus. Cuman asyiknya, kita berdua kan tergolong makhluk yang lumayan sibuk, makanya kita jadi jarang ketemu biar tetap berlangsung itu rindu.

Pernah sekali waktu kuragukan hubungan kami, dan aku mencoba mencari cem-ceman lain. Tapi herannya, semakin aku nyoba buat ngejauh, eh dianya malah makin getol aja nyamperin gue tiap waktu. Nggak malem, siang pokoknya kapan aja dan dimana aja dech. Seneng dech gue.(walo datengnya cuman lewat mimpi). Yang ngga mimpi adalah saat menemukan dia bobok di sofa pub satu ketika, dan aku menikmati pemandangan yang luar biasa dari pejam matanya. Meski Cuma bisa menciumi sepatu hitamnya, tapi cukuplah. Apalagi hubungan kami saat itu lagi benerbener berjarak.

Sesekali dateng "SanDek"nya yang ngasi tau dimana posisi dosky. Duh, serasa terbang dech gue. Abisnya lama banget ngga kedengeran kabar beritanye, tau-tau dah mo pamitan buat liburan pulang ke kampung halamannya, nyang di seberang pulau tu. Gue kan jadi gimana gitu.

$$$

Nyaris tak percaya, membaca ulang beberapa jajaran huruf yang membentuk kata dan terangkai menjadi kalimat serta sambung menyambung menjadi uantaian alinea diatas. Aku seperti dibawa ke masa silam, beberapa tahun lewat saat aku masih sering balik ke Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dulu Papaku pernah tinggal di situ. Dan kami sering kumpul waktu lebaran tiba. Kalau orang-orang lain, pada umumnya mudik ke desa-desa, dari dulu yang aku jalanin, eh jalani ding! Aku senantiasa mudik ke Betokaw alias Batavia atau Betawi.

Pernah dengar cerita, kenapa diberi nama Betawi khan?

Pada suatu ketika, di masa pendudukan VOC (Organisasi Dagang Belanda), Batavia dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang pastinya bule dari Belanda dong, masa Bule dari Hongkong sich. Asal elo tau istilah "Gubernur Jenderal" ini adalah sebuah pembahasaan dari istilah dalam Holland Sprechens "Generaal Governoer", yang dilestarikan di era yang konon merdeka dengan "Gubernur" (jadi jangan heran kalo di masa ORBA berkuasa, gubernurnya emang kebanyakan Jenderal, soalnya militer sich. Apalagi AKABRI, rektornya aja Gubernur) serta diikuti dengan latah di seantero penjuru Nusantara yang telah di Indonesiakan oleh Belanda. (bila ada waktu, akan kuceritakan kelak, betapa tidak orisinilnya keindonesiaan kita itu, lantaran aroma Belanda begitu kuat menguntitnya).

Back to case, saat itu Tentara Kolonial Belanda begitu kerepotan menghadapi sepak terjang prajurit Mataram di bawah komando Sultan Agung yang mengepung Beteng Pertahanan terakhir Belanda dari delapan penjuru mata angin. Bayangin aja, betapa kedernya Jaan Pieter Zoen Coen menghadapi strategi tempur Mataram dengan Gelar Sapit Urang1)-nya yang dimodifikasi dengan pola "hit and run"2). Saking nggak bisa apa-apanya, tentara Belanda itu rela untuk terkurung di dalam beteng mereka sampai berbulan-bulan lamanya. Lama kelamaan, persedian amunisi Belandapun ludes tak berbekas. Setelah putar otak cari akal, akhirnya Sang Jenderal mengerahkan anak buahnya untuk berak bersama-sama serta menjadikan tahi produksi Belanda itu sebagai senjata pamungkas untuk menghalau prajurit Mataram yang gigih berjuang. Maka moncong meriam yang beramunisikan tahi itupun segera di arahkan ke basis pertahanan prajurit Mataram yang berada di luar beteng. Bisa di tebak adegan berikutnya…Beberapa orang prajurit Mataram yang tengah asyik leyeh-leyeh ngaso di sekitar daerah yang sekarang bernama Matraman (untuk menghormati leluhur mereka yang enjoy disana dan nggan mudik ke Jawa) tiba-tiba disergap aroma yang merangsang perut untuk mual dan lantas muntah-muntah itu. Akibatnya seantero Batavia beraroma tahi. Dan saat dua orang prajurit Mataram yang terganggu istirahat makan siangnya itu berdebat seru diantara mereka.

"Nuwun sewu Ki Sanak, njenengan mambet mboten?"

"Nuwun injih. Kadosipun menika rak mambet tai to."

"Lha injih, napa ki sanak mboten ngraosaken. Awit sampun pinten pinten ndinten

menika, yen kula raosaken kok nggih pancen njijiki nggih?"

"Nanging saestu menika, mambet tai to kang mas?"

"Lha injih sampun cethu menika!!!"3)

Sambil menutupi hidungnya, dua prajurit itu berbicara terus tentang "mambet tai", karena artikulasi vocal mereka menjadi tidak jelas lantaran polusi udara yang luar biasa menjijikan itu, Mang Ikin, penjual Kethoprak yang biasa ngetem di deket-deket sono,nyang emang kupingnya kebetulan juga rada-rada bolot, dengerinnya,"Orang Jawa tadi bilang tempat ini namenye Betawi".

Bisa jadi ada versi lain. Kenapa nggak? Namanya juga cerita, kisah, dongeng. Aku toh bukan Guru Sejarah yang tengah bertutur di depan kelas diantara murid-murid yang setengah hati menerima pelajaran, karena kelewat sering di bohongi. Murid-murid SD pun tahu kalau setiap penguasa bisa memesan sejarahnya sendiri-sendiri. Bagaimana mereka ngga tau, kalo merekalah korban pertama dari sebuah sistem yang bodoh. Anak-anak itu menjadi korban dari keegoisan pendidik yang tak begitu cerdas menyikapi perkembangan serta didukung oleh sistem pendidikan yang ceroboh. Saat anak-anak SD itu mengeja kembali pelajaran Bahasa Inggrisnya, mereka menemukan: bahwa yang pas untuk menuliskan "sejarah" dalam bahasa inggris adalah "His Story". Pantas saja sampai mereka gede, sampai punya jabatan-jabatan tertentu di tempat-tempat itu tuh anak-anak yang bertubuh orang tua itu selalu pengen menuliskan sejarahnya sendiri. Seolah tak ada orang lain di dunia ini. Seolah tak pernah ada Jurusan Sejarah di kampus-kampus perguruan tinggi kita.Runyam.Kaco.Katrok.Celeng Mencret…

Dan memang begitulah. Emang elo pikir kehidupan ini baik-baik saja gitu apa? Emang elo tinggal dimana selama ini? Di negeri dongeng kali. Bersama Oky dan Nirmala dengan tongkat ajaibnya, serupa Doraemon dan kantong ajaibnya. Padahal setahuku Puri Nirmala itu Rumah Sakit khusus yang merawat orang-orang dengan kecenderungan Neurotic di bilangan Babarsari Jogja. Jangan-jangan kita semua memang tengah mengidap penyakit otak semua. Hingga kita tidak pernah lagi sungguh-sungguh tau mana yang baik mana yang buruk, mana atas mana bawah, mana kiri mana kanan. Mana di mana anak kambingnya di mana mana. Karena setiap penguasa membutuhkan peternakan kambing berwarna hitam, agar apabila ada salah-salah langkah didalam penyelenggaraan kekuasaannya, cukup sediakan kambing berwarna hitam siap eksekusi sebagai semacam lawar, mungkin.

Kembali ke fenomena kangen. Gimana Ra, kok SMSku ngga pernah di bales sich. Jijik ya ama aku? Oke dech. Makasih. Tanpa tersipu kulangkahkan kaki kembali menekuri sepi. Di Malioboro sepagi itu, dengan nasi bungkus dalam genggaman. Beberapa ekor lalat terbang rendah sekali, seperti sedang memamerkan manuver terbaru hasil kursus singkat Air Show. Ah, masa-masa indah saat menerbangkan jet tempur itu, cukup sudahlah jadi penghias buffet kenangan.

"Stanis, jangan lupa nanti sepulang Les Piano mampir ketempat Tante Dewi Listiana

buat ngambil pesenan Mama!"

Mamaku ah, selalu saja membuncahkan rindu. Kapan terakhir aku nangis di pangkuannya? Oh, ya saat Papaku marah besar dan aku di rantai di pintu pagar halaman depan rumah. Semua mata anak-anak tetangga menontonku. Mamaku menangis sambil menyuapi aku yang terikat tanganku dan jadi pertunjukan gratis para tetangga. Mama dan Papa yang ada di surga. Baik-baiklah kalian di sana. Di deket Tuhan, tentu tak perlu ada lagi pertengkaran khan? Tak perlu ada suasana tegang di rumah, yang membuat kami anak-anakmu lebih suka main di jalan. Dan di jalanan kami tumbuh liar di luar pengawasanmu. Sebab kami bukan pesakitan dan kalian bukanlah sipir penjaga kemerdekaan kami. Sering aku tak pulang ke rumah, menunggu lebam-lebam disekujur badan dan luka-luka ini mengering serta mampat. Agar kalian tetap melihat kami sebagai anak-anak manis, sholeh dan rajin menabung. Ah, kini aku sendirian di Jogja menjelang lebaran Mama dan Papa. Setelah semuanya menjauh, aku serupa Ahasveros4) yang di tolak kehidupan. Bahkan sekonyol apapun Sysyphus, dia masih lumayan enjoy hidupnya.

Seperti katamu Guru, "Meski telah kau untai seribu kata, namun pintu-pintu di Kepatihan, Bulaksumur, Notoprajan, Timoho. Tergembok rapat bagi akal sehat dan hati nuranimu"5).

Aku lelah Guru, tapi belum kalah. Semoga. Meski aku harus terus berjuang sekuat tenaga untuk menghimpit dengan batu sebesar gunung dua binatang buas yang saling cakar dan saling gigit didalam jiwaku. Akulah tlatah pertempuran itu sendiri. Siang malam yang kulakukan hanyalah menunggu dan menunggu. Sampai tiba Ra, kekasihku.

Ternyata tiga minggu itu lama nian ya?

:Glosary::

1.Gelar Sapit Urang adalah sebuah formasi tata keprajuritan biasanya untuk

kondisi musuh dalam posisi terjepit atau pasukan Mataram dalam posisi diatas

angin. Formasi yang lain seperti Garuda Ngleyang, dan lain-lain

2.Hit and Run, terinspirasi gaya bertinju Muhammad Ali yang sering dibahasakan

secara sastra menjadi 'menari bak kupukupu menyengat bagai lebah'

3. Coba aja cari dalam kamus Jawa-Indonesia, hahaha

4.Ahasveros adalah lelaki yang tak membukakan pintu saat Jesus di salib dan

kehausan. Ia merasa dirinya dikutuk sepanjang masa karena mengira Jesus benarbenar di

salib.

5.Nukilan Puisi EmHa Ainun Nadjib, Jogja Tak Menyapamu Lagi Antologi Puisi

'Sembilu'.

Melaju Bersama Prameks

Ra, melaju dengan kereta Prameks sore ini, ingatanku melayang pada film My Sassy Girl, film Korea yang cukup menguras airmata kawan-kawanku yang menyaksikannya, terutama yang berkategori cengeng tentu saja (hahaha). Tapi tentunya bukan pada bagian adegan muntah dikepala orang itu lho,(hehehe). Memang masih di adegan kereta itu juga yang kalau dicermati, interiornya agak-agak mirip Prameks ini.

Ra, beberapa hari terakhir ini aku memang lebih sering tinggal di kota yang konon masih bertalian darah dengan Jogja. Setidaknya dari wacana sejarah yang sempat kulirik diam-diam, Solo atau Surakarta Hadiningrat ini masih terhitung saudara tua dari Yogyakarta Hadiningrat. Dua keraton besar sisa pemenggalan kolonial Belanda yang akrab di kenal publik sebagai devide et impera alias ‘membagi dan menguasai’ seperti yang lazim dilakukan oleh sesuatu yang menguasai sesuatu yang lain. (haha, rasakan betapa njelimetnya bahasaku).

Ra, kalau untuk sementara ini aku lebih sering terlihat dan terlibat di Solo, ini bukan sekadar romantisme sejarah untuk membangkitkan lagi kenangan atas sebuah kota yang pernah melahirkan orang-orang sekaliber Rendra dan Sapardi Djoko Damono misalnya. Karena jangan-jangan Rendra maupun Sapardi sendiri tak begitu menganggap perlu untuk menyuntuki romantisme semacam itu. Tapi ini semata pencarian seorang Catur Stanis yang senantiasa memelihara diri dalam ‘kegelisahan nan tak kunjung usai’ itu. Sampai di kalimat yang terakhir itu, bathinku geleng-geleng sendiri sambil berdecak mencibir,”Ah..Lo bisa aja Nis!”

Dan memang itulah yang selama ini menyalakan semangatku untuk bergerak kewilayah yang seringkali sulit dipahami oleh kawan-kawanku. Mobilitas yang begitu tinggi serta luapan energi yang seolah tiada habis untuk menyuntuki kaum muda yang berkutat diwilayah kesenian khususnya titer (kata penyempurna dari teater yang kebarat-baratan serta nampak kurang cerdas bagi sebuah kata serapan).

Aku tidak ingin melulu sekadar memperbandingkan dua kota itu. Yang kulakukan lebih sebagai upaya penemuan kembali jejak yang telah lama hilang akibat kontaminasi yang ditinggalkan oleh kaki menjijikkan sepatu kolonial yang meluluh lantakan tatanan harmoni sebuah peradaban yang konon bernama Mataram.

1755 adalah awal pemecahan untuk penguasaan itu. Perjanjian Gianti atau sebagian menyebut sebagai Palihan Nagari (Palihan=Pembagian). Ada yang mengartikannya sebagai pembagian menjadi dua atau lebih. Mengingat pada perkembangannya, ulah Belanda itu tidak hanya menghasilkan Mataram yang terpecah menjadi dua, Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Yogyakarta. Pun juga memunculkan satelit-satelit baru yang bernama Mangkunegaran dan Pakualaman. Sebuah ironi tragis dari sebuah bangsa yang begitu mudah ditelikung oleh strategi licik kaum penjajah. Dan inilah fakta yang tak boleh hanya terhenti sebagai epos semata namun mestinya juga disikapi selayaknya reflektor untuk menyalakan kreativitas masa depan. Seperti ucapan gagah yang sering didengungkan oleh banyak pihak, hanya bangsa yang besar yang bisa memaknai peristiwa sejarah sebagai hikmah.

Lantas hikmah apa yang bisa kita panen untuk masa depan?

Adalah sebuah pengutuhan Konsepsi Joglo mestinya. Joglo adalah bentuk arsitektural bangunan yang banyak terdapat di daerah Jogja maupun Solo serta tentu saja di seantero Jawa bagian tengah serta beberapa bagian di timur. Tapi Joglo yang kumaksudkan disini adalah konsepsi sikap Jogja-Solo itu sendiri.

Bagiku yang lahir di era paska penjajahan Kolonial yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang merasa dirinya kuat seperti Eropa misalnya, adalah sebuah kekonyolan ketika harus memperbandingkan dan apalagi mempertandingkan hasil budaya dua kota Jogja dan Solo. Bukan pada persoalan kalah menang memang, pun juga bukan perkara siapa mempengaruhi siapa. Aku lebih melihatnya sebagai sebuah keasyikan tersendiri ketika aku harus menjahit kembali tatanan pergaulan yang robek itu.

Ah, sudahlah. Agak berlebihan kurasa mimpi kali ini. Sementara sebentar lagi laju Prameks akan segera berhenti sesaat di Stasiun Lempuyangan, untuk meneruskan perjalanannya sampai pemberhentian terakhir di Stasiun Tugu Yogya. Dan perempuan yang diamdiam memperhatikanku dengan seksama saat kutulis catatan diatas laju Prameks ini pun sebentarsebentar mulai beranjak dari tempat duduknya yang kebetulan tepat didepanku. Seulas senyum kusambar secepat kilat melupakan sejenak bayangan mu Ra, yang entah kenapa selalu saja menguntitku kemanapun ku berlalu.(kumohon bermilyar ampunanmu atas kenakalanku ini, sungguh melupakanmu adalah siksaan terberat bagi hidupku)

Mungkin sesela waktu nanti kuajak kamu Ra, naik Prameks ini. Sekadar jalanjalan mengunjungi Solo yang membuat bathinku berseri. Tidak seperti Jogja yang kenyamanannya membuat terlena itu. Bukankah dinegerimu yang jauh itu tak terdapat sebilahpun rel kereta api? Kayaknya asyik juga kalau kita pacaran diatas kereta yang melaju wira-wiri antara Jogja-Solo.

Edited by Catur Stanis in Koto’s Room on 25 September 2008 at 23:30 WIB

Friday, June 20, 2008

DAGING DALAM KALENG (Retyped edition)




DAGING DALAM KALENG
(Sebuah Salah Paham)
KARYA SAMUEL BECKETT
ALIHBAHASA :MAX ARIFIN
Di ketik kembali oleh Catur Stanis

Dramatic Personae;
1. Stanis, Lelaki buta penggesek biola
2. Antok Agusta, Lelaki lumpuh berkursi roda


Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
Stanis, buta, duduk di atas bangku dingklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-

Pause.-


1.Stanis. : Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. Antok masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-

2.Antok : Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!

[Pause].

Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[Dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?

3.Stanis : Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?

4.Antok : Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?
[Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?

[Pause]

5.Stanis : Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?

6.Antok : Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.

[Pause]
7.Stanis : Sekarang ini siang atau malam?

8.Antok : Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?

9.Stanis : Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?

10.Antok : Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?

11.Stanis : Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.

[Pause].-

12.Antok : Dia ? Dia siapa ?

13.Stanis : Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]

14.Antok : Sekarang ?

15.Stanis : Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.

16.Antok : Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?

17.Stanis : Aku akan selamanya seperti diriku.

18.Antok : Mari !

19.Stanis : [Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.

20.Antok : [Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.

21.Stanis : Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !

22.Antok : Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong dirinya ke belakang sedikit, berhenti]. Dan aku kembali lagi ke A [dengan penuh kesulitan]. Garis lurus ! Ruang kosong ! [Pause]. Bisa aku mulai menggerakkan kau ?

23.Stanis : Kadang-kadang aku mendengar langkah-langkah orang mendekat. Atau suara-suara. Aku bilang pada diriku, mereka itu sedang berjalan pulang, beberapa orang memang berjalan pulang, mencoba dan memulai lagi atau sedang mencari seseorang yang mereka tinggalkan di belakang.

24.Antok : Kembali! [Pause] Siapa yang mau kembali ke mari ? [Pause] Padahal kau tidak pernah menyeru ! [ Pause] Berteriaklah ! [Pause]. Tidak ?

25.Stanis : Apakah kau mengamati sesuatu yang tidak ada?

26.Antok : Oh, aku? Mengamati sesuatu ? Kau tahu, aku duduk di sana, tergeletak di atas kursi, di kegelapan selama 23 jam dalam sehari. [Marah] Apa yang harus kuamati ? [Pause]. Kau pikir kita akan mengadakan semacam perlombaan setelah kau mulai mengenal aku, he ?

27.Stanis : Kau bilang tadi daging dalam kaleng ?

28.Antok : Tepat.Bagaimana kau hidup selama ini? Kau tentulah kelaparan.

29.Stanis. : Di mana mana banyak terdapat sesuatu.

30.Antok : Yang dapat dimakan?

31.Stanis : Kadang-kadang.-

32.Antok : Kenapa tidak kau biarkan saja dirimu mati kelaparan?

33.Stanis : Dalam hidupku aku pernah berbahagia. Suatu hari aku mendapat sedekah berupa buah-buahan sebanyak satu keranjang besar.

34.Antok : Tidak !

35.Stanis : O, ya, cuma satu keranjang kecil penuh buah-buahan di pertengahan jalan ini.

36.Antok : Oke, baiklah. Tapi kenapa tidak kau biarkan dirimu mati ?

37.Stanis : Aku memang pernah memikirkan hal itu.

38.Antok : [Mangkel].Tapi kau toh tidak melakukannya.
39.Stanis : Aku cukup bahagia.[Pause]
Memang aku selalu tidak bahagia, tapi cukup bahagia.

40.Antok : Tapi kau tentulah setiap harinya akan bertambah tidak bahagia.

41.Stanis : [Marah].Aku cukup bahagia. [Pause]

42.Antok : Sekiranya memang kita-kita ini dibuat untuk kepentingan satu sama lain, bagaimana ?

43.Stanis : [Gerak gerik yang penuh arti].Kini, bagaimana semua hal itu tampaknya ?

44.Antok : Oh, aku ? Aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Cuma maju-mundur didepan pintu rumahku. Sebelumnya aku tidak pernah ke mari.

45.Stanis : Tapi apakah kau mencari dirimu?

46.Antok : Bukan, bukan begitu !

47.Stanis : Setelah masa kegelapan itu, kau tidak………

48.Antok : [Marah].Bukan?! [Pause]. Tentu, kalau kau mau aku mencari diriku, aku akan melakukannya. Dan akhirnya kau tidak keberatan mendorong kursi rodaku ini, aku akanmencoba melukiskan pemandangan di sekitar kita sementara kita melaju ke depan.

49.Stanis : Maksudmu aku akan menuntunmu ? Aku tidak mau tersesat lagi.

50. Antok : Tentu. Aku akan bilang begini; Hati-hati, Billy, kita sedang menuju ke sebuah tumpukan kotoran yang besar. Mundur sedikit dan belok ke kiri. Itulah kata-kata yang akan kuberikan padamu.

51.Stanis : Kau akan bilang begitu ?

52.Antok : [Tampak puas] Gampang bukan? Gampang sekali, Billy. Di sana dalam parit aku melihat sebuah kaleng. Mudah mudahan ia berisi sop. Atau mungkin juga sayur kacang buncis.

53.Stanis : Sayur kacang-buncis ! [Pause].-

54.Antok : Apakah kau mulai menyukai aku ? [Pause]
Atau itu cuma imajinasiku.

55.Stanis : Sayur buncis ! [Ia bangun, mengambil mangkoknya dan manyodorkan ke arah Antok, meminta]. Di mana engkau ?

56.Antok : Di sini, temanku sayang. [Stanis mencoba mendorong kursi roda itu dengan serampangan]. Berhenti,berhenti !

57.Stanis : [Terus juga mendorong]. Bukankah ini suatu berkah bagimu? Atau katakanlah semacam hadiah !

58.Antok : Berhenti ! [Ia mencondongkan badannya ke belakang. Stanis membiarkan kursi roda itu menggelinding dan melompat ke belakang. Pause. Stanis menggapai –gapai mencari bangku tempat duduknya. Maju.Berhenti, menggapai-gapai lagi. Tidak ditemukan bangku tempat duduknya itu]. Maafkan aku. [Pause]. Maafkan aku, Billy.

59.Stanis : Di mana aku ? [Pause].Di mana aku tadi ?

60.Antok : Rupanya aku kini kehilangan dia. Padahal ia sudah mulai menyukai aku. Tapi aku mengecewakan dia. Ia akan meninggalkan aku dan aku tidak akan melihat dia lagi. Aku tidak akan melihat siapapun lagi. Kita tidak akan mendengar suara-suara manusia lagi.

61.Stanis : Apakah kau tidak mendengarnya ? Keluhan dan rintihan yang sama sejak dari buaian ibunda sampai ke kuburan.

62.Antok : [Mengerang].Lakukanlah sesuatu untukku sebelum aku pergi.

63.Stanis : Di sana. Kau bisa dengar ? [Pause].Aku tidak bisa pergi ![Pause].Kau dengar ?

64.Antok : Kau tidak bisa pergi ?

65.Stanis : Aku tidak bisa pergi tanpa alat-alatku ini.

66.Antok : Alat-alat apa itu yang menjadi milikmu ?

67.Stanis : Tak ada.

68.Antok : Lho,katanya kau tidak bisa pergi tanpa alat-alatmu.

69.Stanis : Memang. [Ia mulai meraba-raba lagi, lalu berhenti].Akhirnya aku akan mendapatkannya.[Pause].Atau aku tinggalkan saja.

70.Antok : Tolong perbaiki selimut pada kakiku. Kakiku terasa sangat dingin.[Stanis berhenti].Bisa saja kulakukan sendiri, tapi akan terlalu lama.[Pause].Lakukanlah untukku, Billy.Sudah itu aku bisa kembali ke sudut yang sepi itu dan di sana aku bilang: aku telah melihat orang untuk terakhir kalinya, aku mengecewakan dia setelah dia sempat menolong aku.

[Pause]

Kutemukan kepingan-kepingan cinta di sudut hatiku dan kematiannya dapat kupadukan dengan jenis diriku.[Pause].Kenapa kau memandang tercengang seperti itu padaku ? [Pause].Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas kukatakan? [Pause].Bagaimana rupa jiwaku?[ Stanis berjalan dengan meraba-raba menuju padanya].

71.Stanis : Bersuaralah !
[Antok mengeluarkan suara. Stanis meraba-raba menuju padanya lagi.Berhenti].

72.Antok : Apakah alat penciumanmu sudah tumpul ?

73.Stanis : Dimana-mana cuma tercium bau busuk.
[Stanis membuka lebar-lebar tangannya].Apakah tanganmu tidak bisa menjangkau tanganku? [Ia berdiri diam,tanpa gerak dengan tangan terbuka ke depan].


74.Antok : Sebentar.Kau kan tidak melakukan sesuatu dengan cuma-cuma.[Pause].Kumaksudkan,tanpa syarat.[Pause].Tuhan Maha Pengasih.[Pause.Ia dapat memegang tangan Stanis dan menarik ke dekatnya].

75.Stanis : Kakimu ?

76.Antok : Apa ?

77.Stanis : Kau bilang kakimu !

78.Antok : Aku cuma tahu kata kaki.[Pause]. Ya ,kakiku,cobalah bungkuskan dengan baik
[Stanis membungkuk, meraba-raba].Berlututlah, dengan berlutut kukira kau akan lebih santai.[Antok membantu Stanis untuk berlutut di suatu tempat yang baik].Ah, di sana !

79.Stanis : [Merasa diganggu].Biarkan tanganku merabamu.Kau ingin supaya aku membantumu, tapi kau pegang tanganku.
[Antok membiarkan tangannya meraba dan ia merasa geli ketika selimut kakinya diraba].Apakah kau cuma mempunyai satu kaki?

80.Antok : Memang cuma satu.

81.Stanis : Dan yang satunya?

82.Antok : Membusuk, lalu dipotong.[Stanis membungkus kaki yang satu ini]

83.Stanis : Sudah cukup?

84.Antok : Ketatkan sedikit.[Stanis melakukannya].Cekatan sekali tanganmu.
[Pause].-

85.Stanis : [Meraba-raba, menuju perut Antok].Apakah ini bagian-bagian lainnya ?
86.Antok : Kini kau boleh berdiri dan meminta balas jasamu.

87.Stanis : Bagian-bagian lainnya bagaimana ?
88.Antok : Bagian-bagian lainnya memang tidak dipotong, kalau itu yang kau ingin ketahui.[Tangan Stanis meraba ke atas lagi, meraba wajah Antok].

89.Stanis : Ini wajahmu ?
90.Antok : Sumpah, memang itu wajahku.[Pause].Seperti apa kira-kira wajahku itu? [Jari-jari Stanis meraba ketempat-tempat lainnya]. Itu ? Itu namanya kutil.

91.Stanis : Merah ?

92.Antok : Ungu ! [Stanis menarik tangannya, tapi tetap berlutut].Tanganmu memang cekatan ! [Pause]

93.Stanis : Masih tetap siang ?

94.Antok : Siang ?[Memandang ke angkasa].Terserah kalau kau mau.[Memandang].Memang tak ada kata yang tepat untuk itu.

95.Stanis : Kira-kira akan segera malam? [Antok membungkukkan badannya pada Stanis dan memegang pundak Stanis]

96.Antok : Mari,Billy,berdirilah,kini kau mulai merepotkan aku.

97.Stanis : Apakah akan segera malam ?

98.Antok : [Memandang ke langit].Siang….malam….[memandang lagi].kadang-kadang tampak bagiku dunia ini begitu angkuh dan sombong; diberikannya kita siang tanpa matahari, di tengah-tengah jantung musim dingin, di suatu malam yang kelabu.[Memegang bahu Stanis lagi].marilah,Billy, berdirilah, kau kini mulai merintangi aku.

99.Stanis : Apakah dimana-mana tampak rumput ?

100.Antok :Tidak.

101.Stanis : [Gemas].Tidak tampak hijau di mana-mana ?

102.Antok : Cuma ada sedikit lumut.[Pause.Stanis mengelus-elus selimut kaki Antok, lalu meletakkan kepalanya di atas kaki Antok itu].
Tuhan Maha Pemurah ! Apakah kau tidak akan berdoa ?

103.Stanis : Tidak !

104.Antok : Atau menangis barangkali ?

105.Stanis :Tidak.[Pause].Aku bisa meletakkan kepala seperti ini untuk selama-lamanya, di atas lutut seorang teman tua.

106.Antok : Lutut! [Menggoncang-goncangkan badan Stanis dengan keras].Apakah kau tidak bisa bangun?

107.Stanis :[Membenah dirinya agar lebih nyaman].Alangkah tenang dan damainya ! [Antok menolaknya dengan keras. Stanis jatuh dan bertelokan pada tangannya]. Dora,istriku sering bilang bila aku tidak cukup memperoleh uang: Kau dan harpamu! Lebih baik kau merangkak ke segenap penjuru dunia dengan medali-medali ayahmu yang kau sematkan di pantat celanamu dan kotak uang bergantungan di lehermu. Kau dan alat musikmu itu! Kau pikir kau ini siapa sih ?
Dan dia membiarkan aku tidur di lantai.[Pause]. Siapakah aku ini ?…….[Pause].Ah, aku tidak mampu menerkanya. [Pause].Lalu dia berdiri. Tidak pernah mampu.[Ia mulai meraba lagi, mencari tempat duduknya, lalu berhenti dan memasang telinga seperti mendengar sesuatu].Jika suara-suara itu cukup lama kudengar, maka sebuah harpa dengan satu tali cukuplah.

108.Antok : Harpamu ? [Pause].Macam apakah kiranya harpamu itu ?

109.Stanis : Dulu pernah aku memiliki sebuah harpa kecil.Tapi diamlah, dan biarkan aku mendengar sesuatu.[Pause]

110.Antok : Berapa lama kau mampu diam seperti itu ?

111. Stanis :Aku bisa berjam-jam mendengar segala macam suara.
[Keduanya memasang telinga, mendengar]

112.Antok : Suara-suara apakah itu ?

113.Stanis : Aku tidak tahu suara apa itu.
[Keduanya memasang telinga lagi.Mendengar]

114.Antok :Aku dapat melihatnya.[Pause].Aku dapat…………

115.Stanis :[Marah] Apakah kau tidak mau diam ?

116.Antok : Tidak ! [Antok melepaskan kepala Stanis yang dipegang dari tadi].Aku dapat melihat dengan jelas, itu di tempat dudukmu.[Pause]. Bagaimana kalau aku mengambilnya lalu kabur? [Pause]. Eh, Billy, bagaimana tanggapanmu ? [Pause].
Suatu hari nanti, akan ada orang tua yang lain, muncul dari persembunyiannya dan mendapatkan kau sedang membunyikan harmonikamu. Dan kau akan mengatakan padanya, bahwa kau pernah memiliki sebuah biola kecil.[Pause]. Eh, Billy ! [Pause] Atau kau sedang menyanyi. [Pause]Eh ,Billy, bagaimana tanggapanmu ?[Pause]
Dan di sana, ia akan bersiut-siut pada angin musim dingin setelah kehilangan harmonika kecilnya.
[Ia mendorong Stanis dengan tongkatnya]. Eh, Billy ?
[Stanis berputar, memegang ujung tongkat itu dan merampasnya dari tangan Antok].

Layar. Layar.-


Mataram,6 Februari 1978.
Jogja,24 Juni 2008...

Thursday, June 12, 2008

Angkatan 88

Sebelas Juni...membawa ingatanku terbang ke satu peristiwa di masa silam. Saat itu tahun 1983. Masih SD aku, atau SMP? Ah, tak penting benar. Aku selalu lupa mencatat biografi ku sendiri yang berhubungan dengan sekolah maupun sekolahan. Seperti umumnya warga negara disebuah negeri yang konon meletakkan Pancasila sebagai dasar bagi negaranya, maka pendidikan (mestinya) menjadi prioritas perhatian pemerintah disamping prioritas-prioritas yang lain.
Dan akupun sempat sekolah juga waktu itu. Namun bukan ini yang hendak aku torehkan dalam catatanku kali ini. Aku hendak menceritakan tentang peristiwa Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tahun 1983 itu..Lima tahun sebelum pada hari dan bulan yang sama ditahun 1988, aku terdaftar sebagai salah satu mahasiswa jurusan teater bersama sekitar 30 an temanteman yang lain. Kebanyakan kami adalah lulusan SMA dan sederajat waktu. Ada yang dari jogja seperti Rubiyanto dan Arief Sujar AN, ada yang dari Jawa Timur seperti Antok Agusta, Jumaali Al Hamra serta Heri Dwi Rudi Prasetyo serta Dwi Pristino Feriyanto. Serta tentunya masih banyak lagi.
Angkatan 88 adalah angkatan keempat dari jurusan teater di ISI Yogyakarta setelah angkatan pertama 85. Dan tahun ini genap 20 tahun usia angkatan ini, tanpa ada tandatanda untuk mengadakan sebuah pertemuan kembali semacam kangenkangenan berlabel reuni, misalnya.
Duapuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah pertemanan. Kesibukan mungkin memisahkan jarak diantara kami. Kabar kawankawan yang tak jelas lagi rimbanya. Seperti kita maklumi bersama, dunia kesenian tak ubahnya serupa belantara estetik yang menghasilkan spesies yang tumbuh di koloninya masingmasing. Dan dari sekitar 30an kawan seangkatan tak ada sepertiganya yang masih kadang melintas di ingatan, yang lainnya entah kemana.
Saya pribadi, sebetulnya merindukan untuk bisa berkumpul kembali bersama ketigapuluh kawankawan yang karena tugasnya mungkin sudah menyebar kemanamana. Seperti Dhapy Fajar Rahardjo yang sekarang ada di Palangkaraya. Eri Juliadi di Jakarta. Juga Murtono serta Catur Puja Sulistyawan. Ada Abdul Salam di Lampung, serta Anik yang buka warung brongkos di Jln Letjend Suprapto Jogja. Lalu kemana yang lain? Irno Sukarno Putro, Zulkarnain, Nur Yulianto, Tuti Martini serta yang lainnya. Nyonya Leyloor tentu masih di jogja bersama keluarga tapi bagaimana kabar Sugita misalnya. Tikno masih kudengar berjuang ditanah kelahirannya di Demak, tapi bagaimana dengan Agustinus serta yang lainnya.
Kalo ada diantara pembaca blogku yang tau keberadaan kawankawan angkatan 88 jurusan teater, silahkan kabari aku agar rindu yang mengeram dikalbu ini tak lantas membatu.

Friday, June 6, 2008

TERPENJARA

Joint Film Productions pasca gempa menggandengku untuk sebuah project nekad bikin film dengan budget minimal. Karena aku percaya, idealisme kawankawan muda ini mesti disalurkan maka akupun menyanggupinya.
Inilah salah satu film yang sempat membuat Juri FFI bingung untuk mengkategorikannya..sayangnya tak ada kriteria bagi film nekad di ajang festival film itu..

Wednesday, May 14, 2008

Tunggu Tanggal Mainnya

Lupakan perseteruan yang hampir menjadi abadi antara dua orang yang tengah memperebutkan gelar puncak kedahsyatan seni peran (Robert De Niro VS Al Pacino)

Yang anda saksikan dibawah ini, adalah pertemuan yang bakal dinantikan publik di panggung drama maupun layar sinema kita. Sebelum ada produser yang mempertemukan mereka...silahkan menikmati slide di bawah ini.

Friday, April 11, 2008

Angie yang telah pergi...



Angie, Angie, when will those clouds all disappear?
Angie, Angie, where will it lead us from here?
With no loving in our souls and no money in our coats
You can't say we're satisfied
But Angie, Angie, you can't say we never tried
Angie, you're beautiful, but ain't it time we said good-bye?
Angie, I still love you, remember all those nights we cried?
All the dreams we held so close seemed to all go up in smoke
Let me whisper in your ear:
Angie, Angie, where will it lead us from here?

Oh, Angie, don't you weep, all your kisses still taste sweet
I hate that sadness in your eyes
But Angie, Angie, ain't it time we said good-bye?
With no loving in our souls and no money in our coats
You can't say we're satisfied
But Angie, I still love you, baby
Ev'rywhere I look I see your eyes
There ain't a woman that comes close to you
Come on Baby, dry your eyes
But Angie, Angie, ain't it good to be alive?
Angie, Angie, they can't say we never tried

Dulu selagi SMA aku punya teman cowok yang begitu tergilagila pada cewek yang bernama Anggiasari. Diapun sering melantunkan lagu Rolling Stones ini untuk meredakan kegelisahan emosionalnya. Saat itu karena sering mendengarnya, akupun jadi ikutan menyukai lagu ini.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat dekat dengan perempuan yang bernama Anggi dari salah satu kampus di Jogja, maka hariharikupun berlalu lewat lantunan baitbait Rolling Stones diatas.

Padahal Angie yang di nyanyiin Rolling Stones itu sebenarnya kisah perselingkuhan biasa antara dua orang kawan dengan satu wanita. Sebuah kisah biasa memang, dan itulah istimewanya.

Perhatikan kalimat, "With no loving in our soul, and no money in our coats" yang bukan saja membuat penabuh drum dari kugiran Rolling Stones terkesiap, pun juga aku yang mendengarnya berulangkali. Barangkali inilah mistery bunyi itu, yang sering memukau dengan caranya yang paling purba.

Sungguh, cinta dan uang itu jarang bisa bersatu. Kalau saja para pelacur yang menyewakan perabot pribadinya di lokalisasi maupun jalanan itu mengedepankan cinta, tentunya tak ada alasan bagi sebuah transaksi yang berujung pada pembayaran dengan uang untuk sesuatu yang sesungguhnya bisa didapatkan dengan gratis.

Tapi begitulah kehidupan, senantiasa menyisakan ironi tak kunjung henti...

Thursday, April 10, 2008

MataMu Makin Ungu Kurasa...



Kembali dari perjalanan yang tak jelas. Putarputar Jogja dengan Trans Jogja yang adem dan anti tembakau itu. Selalu saja kutemukan sesuatu yang baru, seperti sore itu. Saat aku bertemu dengan dua ABG dari Semarang yang konon mau pulang namun kehabisan ongkos. Sekalipun aku bukan orang yang kayakaya banget tapi naluri sebagai manusia yang pernah hidup dalam himpitan keadaan yang menjepit, aku terdorong niat untuk berbagi.


Malam itu Terminal Giwangan sepi. Tak ada lagi bis jurusan Semarang. Kecuali mau ngebelabelain untuk nongkrong di ruang tunggu sampai pukul empat pagi menjelang. Sementara dua gadis itu merengek pengen segera pulang. Sungguh, hanya satu keinginan berbagi itulah aku mengantar mereka dengan taksi.


Sampai di adegan itu, engkau bisa saja menyangka aku berlebihan uang hingga maumaunya ngeluarin duit Rp 350.000 buat ongkos jalan kami bertiga ke Semarang. Tapi ingin kuteriakkan dengan lirih pada semesta, sesungguhnya akupun tiada memiliki uang berlebih. Mungkin serupa cinta. Tapi tentunya bukan cinta yang berlabelkan asmara mudamudi. Ini semacam cinta yang lebih luhur maqamnya. Serupa cinta para awlia melihat saudaranya kebingungan di kota yang makin lama makin membingungkan.


Yang kubayangkan adalah kegilaan, bila membiarkan mereka berdua dalam kebingungan di terminal yang tidak bisa dibilang ramah itu. Sungguh aku hanya ingin berbagi. Bahkan aku tak sanggup memakai kata "menolong" untuk perkara ini. Alangkah sombongnya diriku yang mengira bisa menolong, karena sesungguhnya dirikupun masih banyak membutuhkan pertolongan.


Kalau kuguratkan catatan ini, bukan maksudku untuk menepiskan ikhlas. Namun lebih sebagai semacam rambu agar kita lebih hatihati. Tidak jarang, maksud baik belum tentu diterima sebagai kebaikan itu sendiri. Dan aku (semoga Tuhan menganggukkan kepalaNya), cukup mempersiapkan diri untuk tikaman kesakitan yang harus kucecap berulangkali. Seorang kawan dalam perjalanan menasihatiku, "ini sekadar ujian bagi keikhlasan". Dan aku sangat menerima statement tersebut. Sebab bagiku yang utama, niatku untuk mengantarkan mereka pulang ke kotanya sudah terlaksana.


Bisa jadi ini adalah catatan paling remehtemeh yang kalian liat dalam blogku. Dan untuk itu, kumohonkan maaf sebesarbesarnya pada kalian semua yang sempat mengintip catatan ini. Aku lantas jadi ingat kisah klasik tentang seorang pemuda tampan yang kerjaannya seharihari cuman duduk bengong ditepi sebuah danau sembari mengagumi ketampanannya sendiri. (Tentu tanpa kuberitahu kalian sudah sangat hapal dengan legenda Narcisus itu). Yang membuatku takjub dari kisah Narcisus itu bisa jadi berbeda dengan yang dirasakan oleh para bidadari yang menangisi kematian Sang Narcisus. Yang membuatku takjub adalah perubahan yang terjadi pada rasa air kolam itu yang berubah menjadi asin air mata setelah kematian si Narcisus. Apakah Sang kolam merasa kehilangan Narcisus? Ternyata bukan. Dia, kolam itu menangis karena tak bisa lagi melihat keindahannya sendiri yang terpantul dari mata bening si Narcisus. Jadi sesungguhnya siapa mengagumi siapa? Pertanyaan yang belum sempat terjawab setelah melampaui sekian dekade helaan waktu.


Dan aku, (saya sering protes kalo aku senantiasa memanjakan aku) tak lebih serupa kalian juga kawankawan. Yang kadang hanyut oleh sesuatu yang sederhana dan bodoh. Aku yang sempat belajar akting sekian lama ternyata mudah saja dikibuli oleh akting murahan dari dua remaja yang baru saja mengenal dunia. Apakah sedemikian siasianya hidupku ini? Aih, kalau saja aku tak ingat belaian tangan Mursyidku yang membisiku dalam dekap hangatNya, "Nrimo adalah satusatunya obat mujarab yang mesti segera ku tenggak".


Terimakasih Guru. Untuk itu aku mesti belajar berjalan kembali. Meniti batas alfabeta agar sampai pada alifbata berikutnya.


Sampai pada alinea tersebut tak terasa embun merabunkan kaca di mataku. Bukan karena ngantuk ternyata. Namun sekadar tetesan air, yang entah bagaimana mekanismenya, begitu saja nongol membasahi pipi dan meluncur terus menderas di tuts keyboard laptopku. Aku merasa jadi begitu cengeng dan sepele.Hehehehe.

Namun kadang manusia berencana DIA sendiri yang maha menguasai segenap kehendak yang menentukan segalanya. Entah sengaja atau tidak, salah satu dari ABG itu sempat meminjam hapeku dan menghubungi seseorang yang menurut penuturannya adalah kakak sepupunya di kota Semarang. Yang untungnya masih tersimpan di memory hapeku. Orang yang dihubungi itu punya nomor 085640688875, berjenis kelamin perempuan dan suaranya hampirhampir mirip dengan salah satu dari dua abg itu. Soal nama tidaklah begitu penting benar, karena setiap orang bisa mengaku sebagai apapun dan atau siapapun. Yang pasti, setelah nomor tersebut kuhubungi, orang diseberang sana bukannya bersikap kooperatif untuk menyelesaikan masalah namun justru berlaku naif untuk membingungkan diriku. Aku juga tak tau, apakah setelah ini, nomor itu masih diaktivkan atau dia akan buang kartunya untuk diganti nomor lain, sebagaimana lazimnya kebiasaan orangorang di negeri ini untuk gontaganti nomor. Itu hak dia dan silahkan saja. Setidaknya aku makin mengerti, bahwa kadang kekonyolan itu menjadi sedemikian penuh makna.

Monday, April 7, 2008

Ladies and gentleman...inilah...CATUR STANIS!!!

Wednesday, April 2, 2008

cerita biasa



Jogja barusan bangun tidur saat kucium bibirnya yang basah oleh embun pagi ini. Dan kuda besi itu membawaku kembali ke kota tua yang tak jenak untuk berlamalama kutinggalkan. Kemaren aku masih di Jakarta, mengantar keberangkatan sepasang pejuang yang berangkat mengikuti panggilan umrah, dan hari ini aku telah kembali disini, di kotamu yang indah.
Siang membawaku dalam dekapan hangat Yati. seperti malammalam yang panjang.Hanya menyisakan rintih setelah orgasme nan takkunjung padam itu. Kali ini kami bermain lagi, bukan pada persoalan kalah dan menang namun lebih sekadar sebuah pemuasan atas hasrat purba yang tertunda.
Hampir saja kamimengakhirinya dengan pertengkaran kecil diujung pertempuran sederhana itu. Tentang siapa yang lebih dahulu keluar, pun juga tentang lenguhan yang terdengar ganjil. Ah, masih adakah yang menarik dari persenggamaan tanpa cinta ini? Kecuali berlomba lari untuk sampai di finish dan lantas menyadari saat semuanya telah berkubang dalam lengket yang anyir itu. Lukakah itu? Atau kenikmatan yang lain, entahlah.
Tubuh itu masih juga tubuh yang sama yang kunikmati beberapa saat lewat, tapi entahlah kini yang kurasakan hanyalah pengulangan tanpa gairah. Telanjur rutin dan kehilangan sentuhan misteriusnya.
Setelah ini, apa menariknya sebuah persuami istrian?

Friday, March 14, 2008

Obituary



Harihari belakangan ini betapa ritual kematian menjadi serupa rutinitas disekitarku. Tanggal 11 maret lalu, seorang kawan mati di seturan setelah menabrak pohon sepulang dari kafe. 13 maret kemarin kawan yang lain juga dipanggil menghadap keharibaan Ilahi setelah berjuang melawan penyakitnya yang tak tertanggulangi. aku mencium bau hangatnya air mata cinta yang bergulir pelan disesela mata dokter tua itu. Bahkan genggamannya yang gemetar seperti menancapkan sesuatu di ceruk bathinku. aku hanya bisa terdiam.
Saat melayat di Tambakboyo siang itu. kusempatkan diri menengok pusara ibu, bapak serta kakak perempuanku yang berbaring tenang di kompleks pekuburan tak jauh dari perumnas Condongcatur Yogya.
Hanya seutas doa dan beberapa kuntum bunga seadanya yang kutemukan disana sempat kusematkan di mahkota pusara mereka. Semoga kedamaian senantiasa tercipta bagi yang kucinta dan kini bersemayam di alam yang berbeda.
Mengingat mereka, aku jadi teringat pula, pada saatnya nanti akupun akan menyusul seperti mereka.

2 juli 1996, adalah hari dimana bapakku yang renta. Yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk bekerja, kembali ke hadiratNya. Siang yang panas dan air mata yang mulai mengering. Tak ada kata perpisahan kecuali sesungging senyuman bagi buah keikhlasan dalam pelepasan.

25 desember 1999, ibuku menyusulnya ke alam sana. Guyuran hujan siang itu tak mampu meredakan amuk batinku yang rusuh. Aku seperti disundut kenyataan bahwa segala yang indah tiada pernah abadi. Aku meluberkan air di mata kala itu.

Kemudian 27 oktober 2002, adalah saat bagiku untuk mengucapkan sayonara bagi kakak tercinta, yang telah cukup lama menelan penderitaan dalam hidupnya. Aku hampir yakin dia cukup bahagia disana sebagaimana kakak perempuanku yang lebih dulu meninggalkan hingar dunia di 6 november 1988 (Lima bulan setelah aku kuliah dan empat hari menjelang peringatan detikdetik nongolku di dunia).

Akhirnya, saat kuguratkan catatan ini, aroma kematian masih saja tercium begitu kuat disekelilingku, menguntit siang malamku.

Friday, March 7, 2008

DR Humoris Causa



Terimakasih kepada kesempatan yang telah mengantarku sampai ke Kantin Bu Bambang di sebelah selatan kampus ISI. Hampir setahun lebih aku tak mengunjungi tempat ini. Terakhir sekitar januari 2007 saat Cuwie dan Yayan berkolaborasi mementaskan 'sahabat terbaik'nya James Saunders di Auditorium Jurusan Teater FSP ISI Jogja. Segelas cofeemix hangat serta pertemuan kecil dengan kawankawan yang kebetulan bersamaan mampir di tempat itu. Ada Mijil yang lagi nunggu peserta Festival, Nanik yang mungil, Wawan serta Ali pun tak ketinggalan sejumlah figur yang sekilas lewat.

Malam nya nonton pertunjukan sembari meraih door prize berujud tempat sendok dan garpu yang di sangka sebagai blender oleh MCnya. Betul-betul aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa malam itu. Kembali ke panggung bermandi cahaya lampu serta meraih prestasi memenangkan doorprize yang luar biasa.
Secara psikologis, aku lebih bahagia daripada sekadar mendapatkan gelar doktor honoris causa. Tapi kurasa jurusan teater belum begitu sinting untuk mempertimbangkan pemberian gelar seperti itu buatku. Mungkin cukuplah dengan gelar humoris causa bagiku,huhuhu.

Pulang dari sewon mampir Angkringan seorang kawan serta mencicipi tongseng kuda di Prawirotaman. Inilah kebahagiaan yang lain itu. Cukup lama aku menunggu kesempatan bisa menikmati daging kuda, akhirnya di 6 maret yang bebarengan dengan ultah TEMPO itulah aku berhasil mewujudkannya.
Aku teringat kembali cover pertama majalah TEMPO terbitan 6 Maret 1971 dengan laporan utamanya seputar kejuaraan dunia bulutangkis itu. "Kraak di Senayan" begitulah bunyinya. Selamat untuk TEMPO dariku pembaca setiamu sejak tuju satu!Hehehe.

Sempat mampir ke satu tempat buat nonton GRnya teater Gandrik. Ketemu kawankawan yang lama tak bersua, ada Jemek, Edo, Samuel Indratmo, Tomon, Buthet, Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Jadhuk, Whani, Purwanto, Si Ong, Agus Noor serta masih buanyak lagi. Ada yang bilang, kalo nggak ada peristiwa Gandrik, tentu Catur Stanis tak akan sudi menginjakkan kakinya di TBY lagi. Benar nggaknya asumsi ini, kita lihat saja nanti.

Monday, February 18, 2008

HRR! Basuki Mawa Bea



Membaca kembali pertunjukan teater dari Studio Teater PPPPTK Seni dan Budaya(d/h:PPPG Kesenian) Yogyakarta yang dipergelarkan di auditoriumnya yang megah di dusun Klidon, Besi, Ngaglik Sleman Yogyakarta (Jalan Kaliurang KM 13,5) malam jum’at tanggal 1 november 2007, pukul 20.00 waktu setempat. Kali ini mengetengahkan sebuah lakon yang bertajuk HRR! Karya Eko Ompong yang sekaligus juga bertindak sebagai sutradara dalam pertunjukan kali ini. Adapun para pendukung pergelaran ini diantaranya adalah Andi Pepok, Andri Surawan, Wawan Kondo, Moh Shodiq serta perempuan Australia yang tengah mukim di Sleman, Annie Sloman. Bertindak selaku assisten sutradara sekaligus piñata cahaya adalah Putut Buchori AM. Penata Busana Heru Subagiyo dan Sindhu. Musik oleh Irfaq BA dan Wawan Kris. Bertindak sebagai penyelia pertunjukan ini, Whani Darmawan dan Sardjana SH.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar 50 menit ini menawarkan tema utama seputar dolanan (permainan) anak-anak yang diperkuat dengan gestikulasi serta estetika tubuh para aktornya. Serupa yang lazim dalam permainan akrobat dan ketangkasan lainnya.

Muncul dari kegelapan, empat sosok yang mengenakan t-shirt putih dengan celana tight warna gelap serta asesoris rumbai-rumbai menghias pinggangnya. Sementara muka mereka dibaluri bedak sebagaimana biasa kita saksikan dalam pantomime serta dandanan rambut mereka yang bergaya Mohawk.

Pilihan colouring lampu pada stat general justru menguatkan aksentuasi warna-warni yang ada disekujur tubuh mereka. Semangat keriangan serta ceria mewarnai pengadeganan ini. Sangat pas dengan karakteristik anak-anak sebagaimana yang dimaksudkan oleh naskah lakon mereka kali ini.

Inilah dunia permainan kanak-kanak yang segar, spontan serta tak jarang memunculkan kecerdasan tak terduga dan seringkali tak terbayangkan oleh orang tua atau siapa saja yang merasa dirinya tua. Kita seringkali terpana oleh kecerdasan yang datangnya dari mereka yang selama ini kita sangka sekadar hanya kanak-kanak.

Saya lebih dari percaya, bahwa melalui proses ini, para aktor bukan saja menemukan keasyikan berproses. Pun juga semoga mereka mendapatkan semacam tabungan artistik bagi perjalanan keaktoran mereka dikemudian hari. Apalagi kalo mereka peka memulungnya akan mendapatkan sesuatu yang berharga bagi sisi kemanusiaan mereka.

Saya seperti diingatkan kembali untuk menoleh kebelakang saat masih menjadi actor dulu, pun juga saat saya melakukan aktivitas penanaman nilai disejumlah teater berbasis kampus di jogja dulu, saya selalu memesankan satu hal : Ruang berbagi untuk meleburkan egosentrisme dengan kekuatan kekitaan. Dan melalui HRR! Inilah para aktor dituntut untuk bisa meruang dalam frame berpikir semacam itu. Bukan semata pada kejenialan individu melainkan lebih pada kematangan kebersamaan. Begitulah dunia kanak-kanak dengan permainannya, mengajari kita yang kadang sok dewasa ini dengan sesuatu yang luar biasa.

Dan sayapun lantas ingat pada pepatah warisan leluhur, Hrr! Basuki mawa bea. Tentu saja kalo kita sepakat bahwa bea disitu tidak harus disama sepadankan dengan materi semata. Apalagi kalau kita mampu memungut sisi immateri dari teater yang tak terbantahkan itu.

Saya berharap, melalui pertunjukan semacam ini, bukan hanya penonton yang pulang dengan berbekal buah permenungan pun juga para pelakunya termasuk aktor dan siapa saja yang terlibat dalam pertunjukan ini bisa juga memperoleh anugerah tak ternilai yang bertitel : “penyadaran atas diri yang Manusia”

Demikian dari saya, sampai jumpa di pertunjukan berikutnya. Special buat Annie Sloman, semoga ada lain waktu untuk me‘review‘nya. :)


Ngobrolin PARTY di Pink ReTro Yogya



Beberapa saat lewat usai meluncurkan PARTY di Pink ReTro Jl Gedawan Yogya. Dengan ditemani secangkir kopi dan kentang goreng serta sebungkus Marlboro, Catur Stanis menerima kedatangan reporter majalah sastra dan budaya HORAISIN serta terlibat dalam perbincangan hangat saat malam menanti pagi. Catur Stanis (untuk selanjutnya kita sebut sebagaiCS,RED) dan penanya (enaknya disingkat P aja ya,RED).Berikut petikan dialog mereka sembari menanti hujan reda.
P : Selamat Malam
CS : Malam
P : Bisakah anda ceritakan tentang PARTY ini?
CS : Party adalah sebuah perkumpulan. Ajang kumpulkumpul yang bisa diikuti siapa saja yang mengira dirinya orang teater
P : Maaf, kenapa anda menggunakan istilah "mengira?"
CS : (Agak Dongkol Sedikit) Apa salahnya dengan "mengira"? Bukankah setiap kita sering melakukan hal ini. Kita mengira diri kita umat manusia padahal kita baru belajar menjadi manusia. Kita mengira diri kita waras padahal tak ditemukan alat bukti dalam diri kita yang menunjukkan kewarasan itu. Kita mengira diri kita baik dan benar, padahal belum tentu. Serta tentu masih banyak lagi.
P : Kembali ke PARTY, kenapa anda memilih akronim serupa ini? Berkesan mainmain dan tidak nampak serius.
CS : Biarin saja. Memang dunia ini sendau gurau dan mainmain belaka..hahhaha Kalau yang ini tentu kalimat dari Tuhan saya lho yang saya kutip dari kitabNya. Maka biarlah PARTY bermula dari mainmain menuju kesungguhan. Akan lebih naif dan konyol, saya rasa apabila diawali dengan kesungguhan namun hasilnya justru mainmain.
P : Sama seperti waktu anda kuliah dulu ya?
CS : (Agak Kaget) Apa?
P : Anda mengawali perkuliahan dengan sungguhsungguh kemudian lantas...
Belum selesai wartawan itu dengan kalimatnya, Catur Stanis memotongnya dengan anggun,
CS : Itu persepsi awam! Dan awam senantiasa melihat dalam perspektif buram. Kalo saya berhak menggunakan hak jawab saya, saya akan mengatakan kepada anda dan orangorang yang berpikir seperti anda dengan kalimat; "Saya memulai segalanya dengan sungguhsungguh dan mengakhirinya dengan bukan main!"
P : Tapi kenapa masyarakat kita cenderung menilai Anda sebagai pribadi yang tak begitu serius menjalani hidup anda?
CS : (Sembari tersenyum muanis) Ah, tahu apa masyarakat dengan diri saya. Mereka serupa menggunakan kacamata kuda untuk meneropong sisi kepribadian saya yang semestinya kudu dilihat dalam kebeningan mikroskoptik.
P : Kalo begitu anda sedang memulai konflik dengan masyarakat donk.
CS : Nanti dulu, masyarakat yang seperti apa dulu. Saya rasa terlalu bodoh untuk mengibarkan bendera konflik dengan siapapun yang kebetulan berbeda pilihan sikap dengan kita. makanya saya bangun PARTY dengan sistem keanggotaan yang cukup fleksibel tanpa ikatan AD/ART maupun aturan main dalam kertas lainnya. Itu semata demi menghindarkan diri dari kemungkinan konflik yang tak begitu perlu itu. Saya tidak akan memaksa siapapun untuk harus bergabung. siapa mau bergabung ayo, ngga juga ngga masyalah...
P : Lantas kenapa harus ada PARTY?
CS : Kenapa harus tidak ada?
P : Anda tidak menjawab pertanyaan saya
CS : Saya akan menjawabnya seandainya ada alasan cerdas dari pertanyaan anda. Dan saya berhak diam untuk pertanyaan yang tak berkwalitas seperti pertanyaan anda barusan,
P : Oke, baiklah. Kalo begitu apa reaksi anda menghadapi mereka yang memandang sinis akan kehadiran PARTY?
CS : Biarin aja. saya kira sikap saya akan sama dengan sikap saya saat menghadapi siapa saja yang memandang sinis kehadiran saya dimuka bumi ini. Minimal saya akan menghibur diri saya dengan meyakinkan pada diri saya sendiri semoga saya masih tercatat sebagai anggota manusia.
P : Kalo begitu anda masih juga ingin diakui donk oleh mereka.
CS : Mereka yang mana? Mereka yang memandang dengan segenap bening jiwa atau mereka yang menatap nanar dan melihat samar karena tertutupi cawet bosok dibathinnya?
P : Cawet Bosok? (Kaget dan hampir saja menahan tawa)
CS : Mungkin seperti itu.
setelah melewati saatsaat yang menegangkan, kehadiran nyonya rumah lumayan menyegarkan
P : Apa citacita anda bersama PARTY?
CS : Saya mengandaikan sebuah tata pergaulan teater yang manusiawi. Bagaimanapun aktor bukan sekadar robot yang digerakkan oleh sutradara. Dan sutradara tidak harus memiliki otoritas melampaui kuasa Tuhan. Bagaimanapun juga mereka tetap manusia dan seyogyanya diperlakukan secara manusiawi.
P : Padahal anda sendiri termasuk korban dari sistem yang tak manusiawi itu
CS : Saya tidak pernah mengiRa diri saya sebagai korban. Saya hanya mencoba menjalani hidup apa adanya, selaras dengan alam dan Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi disetiap gerak langkah ucapan pikiran dan perbuatan saya. Kalo lantas kemudian ada benturan, saya akan mencari celah keluar dari konflik untuk mengambil jalan pintas yang terbaik buat siapa saja, bukan saja buat saya atau mereka tapi tentunya buat semuanya dimana saja, kapan saja.
P : Kalo begitu anda akan terus berlari mengejar bayangan ilusi.
CS : Lebih terdengar seperti lagunya Anggun C Sasmi saya kira nada pertanyaan anda, Dan karena bagi saya ini sekadar retorik ya, silahkan diminum dulu kopinya nanti keburu dingin lho.
P : Anda memang cukup piawai dalam menghindar serta meloloskan diri dari jebakan pertanyaan.
CS : Terimakasih, dan sorry saya tak biasa menerima pujian. Karena kebiasaan orang selama ini hanya senang memuji saya dibelakang punggung saya,hahaha.
P : Apa makna kritik bagi anda?
CS : Sebagaimana halnya pupuk bagi pertumbuhan kreativ maupun pematangan kepribadian serta pendewasaan pola pikir. Asal proporsional serta tahu persis bagaimana menghadapi model tanaman yang hendak kita pupuk.
P : Agak melompat, kenapa anda seolah menolak komersialisasi atas pekerjaan anda?
CS : Saya hidup dilingkungan yang sangat kental dengan jargon "Hidup-hidupilah teater dan jangan cari hidup melalui teater".
P : Terus gimana dunk caranya?
CS : Ya saya harus jadi orang yang berharta, minimal konglomerat atau apa gitu, untuk mengongkosi diri saya sendiri dan tentunya bagi teater saya.
P : Menurut anda sendiri Teater itu apa?
CS : Teater adalah saya. Lihatlah saya, pelajarilah baikbaik, kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu itu.
tibatiba lampu di resto itu padam, tanda hari sudah siang dan kami pun berpisah jalan. Sesungguhnya masih cukup banyak pertanyaan yang belum terselesaikan, tapi siapa yang berani jamin bahwa tidak ada hari esok untuk ketemu.
Senyum manis Catur Stanis mengantar kepergian Clara, wartawati muda yang harus diakui emang lumayan manis itu.
Sejenak melambaikan tangan pada Bis Kota Jalur 7 untuk melanjutkan langkah menuju ke Sekolah Tinggi Tinggi Sekali. Konon ada dengar pendapat soal PARTY ini. Belum tidur emang, tapi nggak harus capek khan?

Di Aula sekolah itu telah hadir sekian ratus siswa, mereka nampak antusias mengikuti acara 1 Jam Bersama Catur Stanis ini.



Thursday, February 14, 2008

Kronologis Romantis #1



Selasa, 21 Agustus 2007
, sekitar pukul 19. lebih sedikit waktu itu.
Aku sedang duduk menekuri meja kaca, memelototi kertas yang ada didepanku, menggoreskan beberapa kalimat, mencoret sebagian kata serta memungut kembali yang sempat tercecer. Tanpa kusadari dari arah mana, sebuah suara lembut nan merdu menyapu gendang telingaku.
"Wah, sibuk sekali"
Begitu lembut, dan tangan mungilnya (sengaja) menyentuh pundakku. Sejenak mati rasa. Segera kututup bukuku, menyimak kehadirannya.
"Kok sendirian?" Tanyanya lagi
"Biasa, namanya juga pejalan sunyi. Harus selalu sendirian kayaknya. Lah kamu sendiri?"
"Ehm, nunggu teman"
Beberapa pelayan, salah satu mrongos giginya menggoda.
"Kok ngga sama mas biasanya?"
Dia tersenyum. Dan harus kuakui manis sekali.
Sejenak kukuliti yang terhampar didepan mata, sampai tiba-tiba,..CUT! Ganti adegan berikutnya.
Setelah cowok yang dimaksud para pelayan itu datang. Basabasi sebentar. Nraktir kopi serta berbagi rokok, akhirnya cowok itu pamitan sebentar untuk mengambil sesuatu.
Sesaat setelah cowok itu berlalu. Perempuan di depanku itu sempat melempar senyumnya yang membius memabukkan.
"Kamu pikir aku pacaran dengannya?" Pertanyaan yang datang tiba-tiba dan tiba-tiba saja menggedor bathinku.
Aku diam, tak ambil peduli. Hanya deru nafas yang memburu serta sesungging senyuman diplomatis kusodorkan.
(Mungkin agak susah juga untuk dibayangkan senyuman yang diplomatis itu)
Tak banyak yang kami bincangkan setelah itu. Kecuali menikmati saat indah waktu dia menghabiskan mie telornya.

Rabu, 22 Agustus 2007, masih dalam hitungan waktu hampir sama seperti kemarin, ditempat yang sama tapi dimeja berbeda dengan perempuan yang tak sama pula.
Perempuan itu barusan balik dari KKN di daerah Wonosari, datang ketempat ini buat latihan untuk memperingati 40 hari meninggalnya seorang budayawan jawa.
Tunggu punya tunggu, waktu melaju dipukul dua puluh satu. Tak nampak ada tanda-tanda kehadiran mereka yang latian. Kegelisahan menampak di raut manis itu. Berbeda dengan perempuan yang ngobrol denganku kemarin yang begitu postmo, yang ini agaknya lumayan klasik. Rambutnya terburai membelai pantat. Dan carnya bertutur katapun agak tertata. Bahkan cenderung mriyayeni. Aku sebetulnya agak jengah juga saat menggenggam tangannya. Namun naluri sebagai Don Juan merangsangku untuk akal-akalan memberondongnya dengan pertanyaan nakal.

Kamis, 23 Agustus 2007, sore hari usai retrospeksi di Ruang Seminar, Kulihat Ra bersama Ri duduk di kantin sebelah utara Taman Pintar. Sementara aku lagi asyik menggandeng perempuan lain. (Bener-bener perempuan lain selain dua yang kemarin)
Ah, hidup ini tentu akan sangat indah...kalo saja malamnya aku tak harus kehilangan komunikatorku.

(To Be Continued)

Tuesday, January 22, 2008

You Can if you think "Yakin!"



Membuka-buka halaman awal 2008, aku memulainya dengan semacam optimisme tertentu. ada suasana yang dibangun lebih khusyu dari tahun-tahun sebelumnya. Berawal dari perjalanan ke Solo di jumat siang, 18 januari (yang tak jelas itu) sampai akhirnya harus kembali lagi ke Jogja, keesokan harinya. Belum sempat merenungkan apa yang terjadi pada diriku, aku telah disibukkan untuk berkelana ke wilayah teater.

Mampir ke salah satu teater berbasis kampus di jogja utara sebentar sabtu sore (19 januari), berasyik masyuk dengan beberapa orang disana sembari menjalani 'persembahan buat Dewa Anggur', lantas diantar seorang teman ke Bumi Perkemahan Babarsari yang lagi ngadain diklat dan workshop teater oleh Persaudaraan Teater Bening STEI. Hadir agak malaman, Kirun, Sigit (ex ManTel) serta Ines. Setelah sebelumnya Siteng yang hadir bersama Ripo, Danis serta Ali.

Malam bergerak pelan atau menjemput pagi tepatnya, di Bumi Perkemahan Babarsari yang lumayan dingin, lahirlah nama-nama seperti, Tomblok, Konyil, Ciprut, Kronjot, Citual serta Kancut bagi peserta diklat angkatan ke Sepuluh Komunitas Bening itu. inilah malam-malam yang mendahsyatkanku sebagai manusia teater sekaligus presiden PARTY. Inilah agenda awal tahun Party dalam prosesi teater. Salah satu hal yang sempat muncul dalam orasiku dihadapan peserta diklat adalah statement seperti ini,
"Kalau kalian diklat 3 atau 5 hari untuk seumur hidup kalian..maka aku yang Catur Stanis ini menjalani hidup model diklat dari bangun tidur sampai tidur lagi."

Minggu malam senin, saat ritual olah sukma yang diiringi suasana malam bulan sepotong semangka, ada kejadian yang sulit kulupakan, saat seorang peserta yang kumat asmanya mengalami kejang-kejang. (asal kalian tahu, beberapa jam sebelum kejadian itu, kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang cukup hangat..pokoknya dahsyat dech!) aku yang dengan kuasa Allah berada dekat tempat kejadian segera melakukan standar pertolongan darurat. Bahkan aku tak perlu malu mengakui kepada dunia, bahwasanya aku sempat meneteskan air mata bahagia setelah melewati saat-saat mendebarkan itu. (apalagi saat dia tidur di pangkuanku yang hangat)

Panggilan papi darinya buatku adalah ketulusan yang harus kujaga sampai kapanpun. terimakasih Tuhan, karena kehadiranku bisa berguna bagi sesama. Terimakasih kawan-kawan teater...dari manapun anda berasal dengan latar belakang komunitas apapun, kita adalah keluarga. Dan kalian adalah keluargaku pula. Akulah papi bagi teater di Jogja untuk generasi saat ini.

Kami sempat membincangkan kemungkinan kedekatan ini. Aih, aku seperti lupa saja..bahwa dimanapun aku berada, terutama didunia kesenian seperti teater ini aku senantiasa lekat dan lengket dengan makhluk lembut yang berjudul perempuan. Hampir dimana saja. Entahlah, ada sesuatu yang membuat para wanita itu mudah sekali untuk berbondong-bondong mendekati diriku. Ini sudah kodrat alam mungkin, ah..entahlah.

Sayup-sayup terdengar suara Rano Karno beberapa tahun silam saat ia masih kanak-kanak melantunkan lagu seperti...
karena cahaya harapan
masa depanku nampak gemerlapan
semangat mimpi mimpiku
mendorong laju
menggelapkanku
apapun jua yang kupandang
semua kemilauan
penuh riang
bagai dalam taman bunga
hidup penuh berlimpah cahaya
namun aku tahu
tak boleh lupa
Tuhan slalu menguji kita
Tuhan slalu menguji kita...

Lagu itu sempat populer seiring arus kepopuleran Rano Karno saat jadi bintang cilik waktu itu. (kurang lebih tahun 70an kalo kutak salah ingat)

Melihat mereka pulang dengan selamat sampai kampusnya didaerah Kotabaru, aku terharu dan bangga, ikut mengantarkan mereka menemukan jati dirinya sebagai manusia. Untuk siapapun saja yang terlibat dalam acara di 19-20 dan 21 Januari itu aku ucapkan selamat dan semoga tetap selamat.

Catur Stanis Thank's To : Keluarga Besar Komunitas Bening STEI, Rofiq, Dzikril, Taufiq, Sulthon, Nafi, Nurul, Dewi, Mudji, Muthmainah, Zul, serta siapa saja yang tak bisa kusebut satu per satu. Spesial buat Nova...'malam itu sungguh indah bagi kita', terutama bagi saya. Terimakasih telah membagi waktunya untuk membuatku mencicipi rasa bahagia!

Friday, December 28, 2007

Menutup Tahun 2007



Hujan begitu deras dan anginnya tambah kenceng. Aku harus akui terlampau dingin untuk berbasahbasah sendirian, ditepi sebuah warung yang mulai berangkat sepi. Sebentar lagi seperti biasa, pengantar sawi itu akan datang dengan motor tuanya seraya tersenyum dan berkata,"Kok belum tidur mas?" Dan aku menjawab ogahogahan, sekadar basa yang cenderung basi.
Beberapa hari terakhir ini aku disibukkan dengan kegiatan baru yang bertitel Nostalgia SMA. Entah darimana juntrungannya, tibatiba saja aku dipertemukan dengan temanteman semasa SMA yang tentu saja kini sudah banyak yang berkeluarga. Selalu ada yang bisa kubawa pulang selepas bertemu kawan lama yang telah sekian waktu terpisah jarakAda yang jadi ibu rumah tangga, membesarkan anakanaknya di rumah (satu profesi wanita karir yang sangat kukagumi, sebagaimana aku mengagumi perempuan yang ibuku). Ada yang jadi pengusaha rumah makan Padang, ada yang buka Resto B2 (hahaha), ada yang jadi suplier barang elektronik, ada yang jadi Bakul Pitik Pasar Demangan, ada yang jadi Satpam Sekolah, ada yang berwira-usaha dan sebagainya. Pendek kata, kulihat mereka sangat menikmati kehidupannya. Akan halnya diriku, aku cukup bersyukur dianugerahi cinta yang luar biasa, yang membuatku bisa bergerak kemanapun aku suka. (Dulu ada yang sempat bilang, kalo semangat berteaterku itu dialihkan untuk mengejar perempuan, tentu prestasi yang tercipta adalah rentengan perempuan dari Atjeh sampai Papua,hahaha) Ketemu lagi ama mbah Mursyid yang baru saja pulang dari ngaji di surau, aku semacam digedor perasaan yang tak kunjung menentu. Hampir sama seperti waktu aku diberi kesempatan untuk meninggalkan Padepokan Ajar Sinau, beberapa waktu lewat. Kali ini, wajah tua nan memancarkan wibawa dari mbah Mursyid, membuatku keukeuh tak berdaya. Beliau bertanya tentang empat huruf dibelakang The Stanis. Seperti kita maklumi bersama, ada beberapa header blog yang kuberi judul dengan empat huruf dibelakang The Stanis. Seperti; The Stanis POST, The Stanis CODE, The Stanis HOME, The Stanis ZONE, The Stanis SAID, The Stanis CALL, The Stanis CAMP, The Stanis PAGE, The Stanis MAGZ, The Stanis GIRL (hehehe yang ini serupa bilangan imajiner dalam rumus matematika, sering dibicarakan namun wujudnya ngga begitu jelas adanya...sama sebangun dengan Ether, Medan Magnet serta benda abstrak lainnya. Kenapa dengan EMPAT huruf? Bisa saja karena aku kebetulan adalah anak keempat. Pun juga aku pernah tercatat sebagai angkatan keempat di Jurusan Teater, pada satu tempat pada satu waktu. Aih, bisa saja kau akan menyangkaku tengah mengadaada, terlebih saat kau dengar kelak pada satu waktu dimasa lampau tentang idiom The Stanis LOVE pun juga The Stanis LIVE, maupun The Stanis GAME dan The Stanis COOL(sepertinya ada yang tak selesai sampai disini.Dan benar saja, terngiang kata-kata mas Catur Stanis di depan generasi muda teater di Jogja beberapa saat lewat,"Janganlah engkau berpikir untuk membesarkan badanmu melebihi aku, namun pikirkanlah bagaimana engkau meninggikan prestasimu melampaui prestasiku". Terimakasih karena kau mengajariku banyak hal, maka kukembalikan semuanya kepada kearifan waktu untuk mengelolanya menjadi perimbangan. Kesempatan menutup tahun 2007 ini, saya ucapkan terimakasih banyak serta banyakbanyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kehidupan Catur Stanis sepanjang 2007 ini.
Terimakasihku sebesarbesarnya untuk :
Eko Ompong,
Eko Bebek,
Agus Noor,
Mas Brotoseno,
Mas Bambang JP,
Mas Bodhol,
Mas Ndholet,
Susi Ivvaty,
Evi Idawaty,
Akhir Lu Sono,
Rendra ISI dan Ibed,
Catur Puja Sulistyawan dan Keluarga,
Mas Pur dan keluarga (mbak Astrid, Dika dan Dinda),
Warga dunia Teater dimanapun kalian berada,
Sanggar-sanggar Teater di Jogja dan Sekitarnya,
kawan-kawan Rumah Sastra,
Teater Tesa,
Teater Peron,
Penceng,
Jarot,
Bhre,
Joko Sumantri dan tumpangannya,
kawankawan Histerya semarang,
kawankawan Salatiga,
Elok dan Getarnya,
Mahunk dan sanggar Jepitnya,
Mustain dan Sanggar Nuun,
Mas Untung Basuki,
Lephen Purwarahardja,
dik Galuh Candra Kirana,
Keluarga Drg Dewi Anggraini di Gendeng,
Keluarga Bu Dien di Klitren,
Keluarga Mbak Tienuk Rifky di rumahnya,
semua keluarga, kerabat, warung angkringan maupun burjo,
Indrian Koto dan Mutia Sukma,
Mujibur Rahman,
Hamdy Salad dan Kawankawan Eska,
Dharmo Gundhul,
Knyut Y Kubro,
Keluarga Mundusaren,
Keluarga besar Kandhang Kopi (Acun dkk),
Keluarga Besar Putra Jogja (Budi dkk),
Keluarga besar Sekrup, GMT (Jalidu dkk),
Herlinatiens,
Mbak Yuli,
Aguk Wirawan,
Julung serta kawankawan LKiS,
Agus Setyawan dan TBY,
Neni Kedai Kebun,
Hindra skAnA, Sapto, Paimo dan kawankawan UNSTRAT,
Lanceng, Duja dan kost ambarrukmo,
Bob Sick Nologaten,
Teambull dan Joint Film, Beni Wahyada, Ipin,
Gito Leles,
Isa Shafarudin,
Bu Martodjo,
keluarga 57-58,
teater Ada,
TKT Teater Kebon Teboe STIE YKPN,
Aley dan Hendra serta Bethem dan kost Miliran,
keluarga Angling,
Rudi Heru Sutedja,
semua kawankawan yang dengan keterbatasan daya ingat tak sempat tercatat, setidaknya terimakasih karena kalian masih melihatku sebagai manusia bukan semata seonggok property bagian dari setting panggung.Kalianlah alasanku untuk bergerak terus dan terus bergerak...semoga ada waktu bagi kita bersua di 2008, semoga.

Friday, December 21, 2007

Sayonara bagi anda semua



maafkan aku kawankawan...

kalau kehadiranku serupa ancaman bagi kenyamanan hidup kalian. meski sebenarnya aku tak ingin menjadi pecundang, seperti yang diam-diam sering diterakan oleh mereka tentu saja dibelakang telingaku.

bisa jadi orang diseluruh indonesia raya ini telah sangat tahu, betapa berantakannya hidupku. beberapa kawan dalam tanda petik pernah menyarankan agar aku segera keluar dari kondisi memperih-hatikan ini dan segera meng up grade diri.

maafkanlah diriku yang hina dina ini bila mengganggu kenyamanan hidup kalian melalui kehadiranku. barangkali serupa seperti yang dibilang Radio Head lewat tembang kerennya Creep berikut ini,



When you were here before, couldn't look you in the eye

You're just like an angel, your skin makes me cry

You float like a feather

In a beautiful world

And I wish I was special

You're so fucking special

But I'm a creep, I'm a weirdo

What the hell am I doing here?

I don't belong here

I don't care if it hurts, I want to have control

I want a perfect body, I want a perfect soul

I want you to notice, when I'm not around

You're so fucking special

I wish I was special

But I'm a creep, I'm a weirdo

What the hell am I doing here?

I don't belong here, ohhh ohhhh

She's running out again....

She's running out, she's run, run, run, run....run....

Whatever makes you happy

Whatever you want

You're so fucking special

I wish I was special

But I'm a creep, I'm a weirdo

What the hell am I doing here?

I don't belong here

I don't belong here


Perhatikan lyric diatas dan andaikan she disitu sebagai anda semua. Pasti anda akan mengiyakan, bahwa dalam segala hal saya memang bagian paling tidak penting dalam hidup ini. Maka kalau saja kata maaf bisa menjadi serupa lem yang merekatkan kembali yang terkoyak, maka saya memilih untuk diam dengan segala konsekwensinya.


Terimakasih karena kalian telah menjadikan saya semata benda, pajangan atau bisa jadi asesoris. Serupa karikatur yang bergerak luntanglantung mengotori udara negeri ini. Saya memang tidak pantas untuk dikenali dan dipergauli sebagaimana lazimnya bangsa manusia. apakah sedemikian menggemaskannya diri saya? Sehingga anda semua lebih memilih untuk membiarkan diri saya terpuruk disini dalam kedzaliman?


Bisa saja anda semua benar. Bahwa saya memang tidak waras sebagaimana telah diumumkan disepanjang jalanan dilorong-lorong sekujur jogja. Tapi kok saya tetap percaya, Jogja bukanlah satusatunya ruang tempat bagi manusia berjenis seperti saya. Mungkin ada tempat lain, kalopun ngga bisa jadi nasib saya seperti lyric dibawah ini,



He's a real nowhere Man,

Sitting in his Nowhere Land,

Making all his nowhere plans
for nobody.


Doesn't have a point of view,

Knows not where he's going to,

Isn't he a bit like you and me?


Nowhere Man, please listen,

You don't know what you're missing,

Nowhere Man, the world is at your command.


He's as blind as he can be,

Just sees what he wants to see,


Nowhere Man can you see me at all?

Nowhere Man, don't worry,

Take your time, don't hurry,


Leave it all till somebody else lends you a hand.


Doesn't have a point of view,

Knows not where he's going to,

Isn't he a bit like you and me?


He's a real Nowhere Man,

Sitting in his Nowhere Land,

Making all his nowhere plans for nobody.

Making all his nowhere plans for nobody.

Making all his nowhere plans for nobody.


cukup jelas bagi kalian semua, saya kira sekarang. itulah gambaran diri saya yang agak lebih lengkap. betapa saya hanyalah sekadar Creep yang Nowhere Man.


terimakasih atas kesempatan yang pernah kita nikmati bersama. selamat tinggal semua. aku harus pergi dan jangan pernah berharap saya untuk kembali. untuk kesekian kalinya. sembari memulung bait- bait dari lagu di bawah ini,



Is this the real life-

Is this just fantasy-

Caught in a landslide-

No escape from reality-

Open your eyes

Look up to the skies and see-

Im just a poor boy,

i need no sympathy-

Because Im easy come,easy go,

A little high,little low,

Anyway the wind blows,

doesnt really matter to me,

To me

Mama,just killed a man,

Put a gun against his head,

Pulled my trigger,now hes dead,

Mama,life had just begun,

But now I've gone and thrown it all away-

Mama ooo,

Didnt mean to make you cry-

If Im not back again this time tomorrow-

Carry on,carry on,

as if nothing really matters-


Too late,my time has come,

Sends shivers down my spine-

Bodys aching all the time,

Goodbye everybody-

Ive got to go-

Gotta leave you all behind and face the truth-

Mama ooo-


(any way the wind blows)


I dont want to die,

I sometimes wish I'd never been born at all-

I see a little silhouetto of a man,

Scaramouche,scaramouche will you do the fandango-

Thunderbolt and lightning-

very very frightening me-

Galileo,galileo,

Galileo galileo

Galileo figaro-

magnifico-

But Im just a poor boy and nobody loves me-

He's just a poor boy from a poor family-

Spare him his life from this monstrosity-

Easy come easy go-,

will you let me go-

Bismillah! no-,

we will not let you go-

let him go-

Bismillah! we will not let you go-

let him go

Bismillah! we will not let you go-

let me go

Will not let you go-

let me go

Will not let you go let me go

No,no,no,no,no,no,no-

Mama mia,mama mia,mama mia let me go-

Beelzebub has a devil put aside for me,for me,for me-


So you think you can stone me and spit in my eye-

So you think you can love me and leave me to die-

Oh baby-

cant do this to me baby-

Just gotta get out-just gotta get right outta here-

Nothing really matters,

Anyone can see,

Nothing really matters-,

nothing really matters to me,

Any way the wind blows....







selamat tinggal saya akan pulang ketempat yang tak perlu anda ketahui dan jangan hampiri saya lagi. [c][s]

Paint It Black-The Rolling Stones is My Favourite Song



I see a red door and I want it painted black
No colors anymore I want them to turn black
I see the girls walk by dressed in their summer clothes
I have to turn my head until my darkness goes
I see a line of cars and theyre all painted black
With flowers and my love both never to come back
I see people turn their heads and quickly look away
Like a new born baby it just happens every day
I look inside myself and see my heart is black
I see my red door and it has been painted black
Maybe then Ill fade away and not have to face the facts
Its not easy facin up when your whole world is black
No more will my green sea go turn a deeper blue
I could not foresee this thing happening to you
If I look hard enough into the settin sun
My love will laugh with me before the mornin' comes
I see a red door and I want it painted black
No colors anymore I want them to turn black
I see the girls walk by dressed in their summer clothes
I have to turn my head until my darkness goes
Hmm, hmm, hmm,...
I wanna see it painted, painted black
Black as night, black as coal
I wanna see the sun blotted out from the sky
I wanna see it painted, painted, painted, painted blackYeah!

This is written from the viewpoint of a person who is depressed. He wants everything to turn black to match his mood. The song seems to be about a lover who died:"I see a line of cars and they're all painted black" - The hearse and limos."With flowers and my love both never to come back" - The flowers from the funeral and her in the hearse. He talks about his heart being black because of his loss."I could not foresee this thing happening to you" - It was an unexpected and sudden death."If I look hard enough into the setting sun, my love will laugh with me before the morning comes" - This refers to her in Heaven.
(thanks, Daryn - Mays Landing, NJ)

The Rolling Stones wrote this as a much slower, conventional Soul song. When Bill Wyman began fooling around on the organ during the session doing a takeoff of their original as a spoof of music played at Jewish weddings. Co-manager Eric Easton (who had been an organist), and Charlie Watts joined in and improvised a double-time drum pattern, echoing the rhythm heard in some Middle Eastern dances. This new more upbeat rhythm was then used in the recording as a counterpoint to the morbid lyrics. Jagger got the line "I turn my head until my darkness goes" from James Joyce's Ulysses.
(thanks, Edward Pearce - Ashford, Kent, England, for above 2)

Stones guitarist Brian Jones played the sitar on this. He made good television by balancing the instrument on his lap during appearances. Keith Richards: "We were in Fiji for about 3 days. They make sitars and all sorts of Indian stuff. Sitars are made out of watermelons or pumpkins or something smashed so they go hard. They're very brittle and you have to be careful how you handle them. We had the sitars, we thought we'd try them out in the studio. To get the right sound on Paint It Black we found the sitar fitted perfectly. We tried a guitar but you can't bend it enough."
(thanks, Bertrand - Paris, France)

This was used as the theme song for Tour Of Duty, a CBS show about the Vietnam war which ran from 1987-1989. On the single, there is a comma before "Black" in the title. Some people thought this was a racial statement. Mick Jagger: "That was the time of lots of acid. It has sitars on it. It's like the beginnings of miserable psychedelia. That's what the Rolling Stones started - maybe we should have a revival of that."
(thanks, Bertrand - Paris, France)

U2 did a cover of this for the 7" B-side of "Who's Gonna Ride Your Wild Horses," and used some of it in live versions of "Bad." Other artists who have covered it include Deep Purple, Vanessa Carlton, GOB, Tea Party, Johnny Lang, Face to Face, Earth Crisis, We Are Sex Perverts (W.A.S.P.), Rage, Glenn Tipton, Elliott Smith, Eternal Afflict, Anvil, and Risa Song.
(thanks, Brett - Edmonton, Canada)

Jack Nitzsche played keyboards. Besides working with The Stones, Nitzsche arranged records for Phil Spector and scored many movies. Nitzsche had an unfortunate moment when he appeared on the TV show Cops after being arrested for waving a gun at a guy who stole his hat. He died of a heart attack in 2000 at age 63. The Stones former manager Allen Klein owns the publishing rights to this. In 1965, The Stones hired him and signed a deal they would later regret. With Klein controlling their money, The Stones signed over the publishing rights to all the songs they wrote up to 1969. Every time this is used in a commercial or TV show, Klein gets paid. This is featured in the closing credits of the movie The Devil's Advocate
(thanks, Kurt - Downers Grove, IL).

It is also heard at the end of Stanley Kubrick's movie Full Metal Jacket, where it serves as an allegory of the sorrow of the sudden death in the song relating to the emotional death of the men in the film, and of all men in war.
(thanks, Joseph - Taree, Australia)

"Paint It Black" was referenced in the second verse of the song "Thirteen" by Big Star: "Won't you tell your Dad get off my back? Tell him what we said 'bout Paint It Black. Rock 'n' Roll is here to stay. Come inside where it's OK. And I'll shake you."
(thanks, John - Tipperary, Ireland)

This song was used in the movie Stir Of Echoes with Kevin Bacon. In the movie, Bacon's character hears the first few chords of it in a memory, but could not think of the song. It drives him crazy through most of the movie.

Wednesday, December 19, 2007

thank's




terimakasih kuucapkan kepada kawankawan yang hendak menjadikanku sebagai setting/property dalam pertunjukan teaternya. beruntunglah saya yang tak berguna ini menginsyafi keberadaan kecipak riuh disebalik punggung yang cukup menghangatkan telinga.
sekali lagi terimakasih. karena kalian begitu lucu sebagai manusia.

Monday, December 10, 2007

dari Wot Galeh ke Purnabudaya via Karangmalang

Pulang dari Wot Galeh*, tempat para leluhur membentangkan talam dalam abadi tidur. Aku terdampar kembali ke lincak (kursi bambu) di depan Burjo "Putra Jogja". Beberapa kawan terlihat gegas melangkah dalam sebuah kesibukan buat perhelatan teater di sekitar kampus UNY untuk bulan desember 2007 sampai januari 2008 nanti.

Kawan-kawan UNSTRAT tengah sibuk mempersiapkan pentas teater 2 Kotanya di Solo dan Jogja, mengunduh naskah "Pada Suatu Hari"nya, Al Mukarom Arifin C Noer. Sengaja aku menyebut beliau (ACN) sebagai Al Mukarom, karena lewat tangan beliaulah, naskah drama modern di Indonesia menemukan puncak-puncak kreativitasnya. Dialah salah satu penulis naskah drama modern di Indonesia paling berpengaruh sampai hari ini. Sementara Teman-teman SEKRUP, F MIPA UNY, disibukkan dalam prosesi produksi pentas mereka MOHABATTEIN, yang terinspirasi oleh film India dalam judul yang sama. Tentu menarik membayangkan wajah panggung teater kita dalam balutan warna Bollywood dengan tari dan nyanyinya. Yang tak kalah menarik tentu saja persiapan adik-adik mahasiswa FBS yang mengambil mata kuliah Kajian Drama semester ini. Mereka juga tengah asyik-asyiknya mempersiapkan produksi pementasan sebagai bagian dari tugas akhir studi di mata kuliah yang bersangkutan. Ada 5 naskah drama realis yang mereka persiapkan. Antara lain : Malam Jahanam karya Motinggo Busye, Sendang Kali Angke karya Menthol Hartoyo, Isyu (adaptasi) karya Heru Kesawa Murti, Sidang Para Setan karya Jaka Umbaran (Pseudo name dari seorang budayawan Jogja yang dikenal luas di seantero jagat raya) serta satu lagi yang kalo tak salah ingat karya Menthol Hartoyo yang bertitel Sketsa Rezim. Benerbener sebuah perhelatan teater akhir tahun yang sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja. Apalagi yang saya dengar, kelima pertunjukan itu free pass alias gratis. Bahkan ada door prize nya segala. Lumayan buat penahan dingin di musim ujan yang ujian ini. hehehe.

"Maaf, kalo sentimen ini tak bisa saya tahan dan mencuat begitu saja...non verbal, tapi kekuatan seorang (mantan) aktor telah menghidupkannya dan memberikan tenaga untuk melahirkan dirinya..."

Seperti kalimat siapa ya? Ah tenang saja. Akupun tak hendak membiarkan kerut di keningmu jadi semakin dalam dan menenggelamkan kecantikanmu yang mutlak itu.

Benar-benar hari-hari yang berteater di kampus UNY untuk bulan Desember sampai Januari ini.

Disesela acara teater, aku masih juga sempatkan diri datang ke Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (d/h:Purnabudaya), di Bulaksumur. Sebuah ruang publik yang belum lama ini dipergunakan juga oleh Butet Kertaredjasa lewat monolognya SARIMIN. Puji Tuhan, Alhamdulillah akhirnya Jogja punya ruang bagi ekspresi berkesenian yang representatif tanpa harus bergantung pada taman yang tidak begitu pintar di sebelah Taman Pintar itu. Apalagi kalo kita mau menengok ranah ruang publik seperti Karta Pustaka di Bintaran, Auditorium LIP atau Stage Tari Tedja Kusuma di FBS UNY serta ruang-ruang yang lain seperti kedai kopi dan lapak remang dipinggir jalan. kita tak perlu lagi menyerahkan nasib pada ke-ganas-an sosietet. Apalagi kalo beneran rumours yang kudengar, Sasana Hinggil di Alun-alun selatan akan di jadikan sebagai sentra budaya kota Jogja. Kalau ini benar, aku sujud syukur sampai benthet dahiku atas anugerah tumbangnya arogansi ruang seperti yang diperagakan sosietet selama ini. Syukurlah, ternyata penggiat seni dan budaya di kota jogja ini cukup cerdas dan bijaksana. Semoga kedewasaan untuk meninggalkan sosietet ini adalah langkah yang berarti juga menuju masa gilang gemilang dunia seni dan budaya kota jogja. Allahumma Amiin.

Kehadiranku di PUSBUD UGM tak lain untuk menghadiri Festival Literasi Indonesia, yang melibatkan berbagai komunitas dalam lintasan yang terjalin indah. Ada komunitas bloger, ada komunitas buku, ada komunitas lingkungan, ada komunitas komik, ada komunitas pecinta buku, ada komunitas pembaca buku, ada komunitas penjual buku, ada komunitas penadah snack, ada komunitas jalan terus dan pokoknya banyak dan banyak sekali. ketemu Wawan Kondo dan ikutan bantu mendiagnosis penyakit masyarakat melalui klinik penyakit sedih yang kebetulan bersebelahan dengan stand Gayam 16 yang wangi dan indah di pandang penjaga standnya itu,hahaha.

Dunia buku dan bacaan bukanlah dunia asing buat seorang Catur Stanis. Sedari kecil aku terbiasa hidup dari koleksi buku-buku. Kebetulan orang tua kami waktu itu punya taman bacaan di daerah Ngampilan Yogyakarta yang bernama Tri Yoga. Aku tak tahu pasti, apakah mbah Dauzan Farook (MABULIR) pernah singgah di Taman bacaan kami. Namun mengingat jarak antara Kauman dan Ngampilan relativ cukup dekat, setidaknya bisa jadi pernah singgah dan silaturahmi disana. Semoga saja.

Tiga hari yang menyenangkan memang. dan cukup kenyang. Apalagi slogan yang ditawarkan cukup merangsang. "Mangan Ora Mangan Maca Buku". Sekalipun bagiku tentu akan berlaku, "sak beja-bejane wong maca buku isih beja wong maca buku karo mangan". Hahaha.
Ah. kawankawan masyarakat literasi yang baik, aku bahagia dan bangga telah menjadi bagian dari kegiatan kalian selama ini. Sayang, kutakbisa menghantar kepulangan Firman Venayaksa, presiden Rumah Dunia yang juga member lama milis Ngobrolin Teater serta banyak kerabat yang lain. Selamat untuk panitia, peserta, pengunjung serta penggembira seperti saya. Sampai jumpa di perhelatan yang lainnya. thanks Jambrong...ternyata kita sama-sama dari kandang itu pula,hahaha. Thank's Herlina Tiens untuk saat-saat indahnya. Dwi Cipta, Siho, Steve dan Maria, Wawan Kondo, Gendhon serta masih buanyaaak lagi. terimakasih secara khusus buat Perpustakaan UGM atas kerjasama hangatnya yang menarik. Kawan-kawan 1001 Buku, Sokola (Evi dkk), Papper Moon (Ria dkk), AWI, Viddy serta yang lainlainnya..mohon maaf tak tersebutkan satu persatu. Serta lesbian manis yang ketemu disalah satu stand PKBI, thanks. Oya sebelum lupa, terimakasih banyak buat Devi UBAYA di stand PUSDAKOTA atas ngobrol indahnya menjelang subuh tiba. Ah, kamu mengingatkanku akan banyak hal...

Monday, November 26, 2007

Nama Berbeda Wajah Mirip Semua

Berbicara tentang teater mahasiswa di Jogja. Aku disudutkan pada pertanyaan yang hampir menjadi klise (untuk tidak menyebutnya sebagai klasik). Yakni pertanyaan tentang identitas. Beberapa kawan cukup memaknai identitas itu hanya sampai pada pengertian dimilikinya nama. Namun bagiku, identitas utama adalah pada perwajahan dari komunitas yang mengusung teater sebagai kendaraan kreativnya. Apagunanya sebuah komunitas teater memiliki nama namun tidak dimilikinya format wajah yang membedakannya dengan komunitas lain. Bayangkanlah, betapa absurdnya kehidupan ini, jika kita semua memiliki wajah yang sama. Hanya nama yang membedakan, namun pola ucap serta gerak-gerik kita menjadi seragam. Apalagi wajahnya, makin mirip-mirip saja.

Padahal semestinya, teater mahasiswa di Jogja, cukup memiliki bekal untuk menemukan identitas spesifik yang membedakannya dengan komunitas lain. Bukankah teater mahasiswa di Jogja berangkat dari latar belakang kampus yang beragam. Kenapa bentuk ekspresinya bisa menjadi semata seragam? Sebuah keanehan yang bukan saja mengada-ada namun cenderung untuk menjadi sedemikian absurd.

Kegelisahan ini telah cukup lama sehingga membuat hubunganku dengan beberapa kawan di Jogja jadi seakan berjarak. Sungguh sebuah tata pergaulan yang absurd kukira. Dan sampai kapanpun jogja tak pernah beranjak dari absurditas semacam itu. Maka aku memilih untuk berdiam di tempat lain dan mencari kemungkinan buat berkembang lebih baik lagi. Dan kau tau kawan, aku ingin semuanya menjadi wajar, baik ada atau tiada aku diantara kalian.

Telah kukatakan pada seorang teman, saat kami ketemu di beranda kost temannya di bilangan Sapen Jogja, tentang pengunduran diriku dari segala aktivitas kesenian di kota Jogja. Dan kalau lantas kemudian kami memilih Solo, kalian mau apa? Sekali lagi ini soal pilihan semata kawan, dan tak ada hubungannya dengan cinta ataupun benci. Celeng mencretlah itu semua! Aku bergegas untuk menggantang harihariku kedepan karena memang hidup sudah sedemikian menantang.

Maka aku memilih untuk banting stir dari kehidupanku yang lalu dan meniatkan diri untuk mengubah hidupku, sukursukur jadi konglomerat atau apa gitu. Kamu pasti sulit untuk percaya, kalau aku bisa berpikir untuk meninggalkan kenikmatan semu yang bernama pergaulan komunitas, serta memilih kehidupan senyap dalam ruang di bathinku untuk menjadi seorang penyusur sunyi. Istilah pejalan sunyi menjadi remeh temeh sekarang, karena banyak orang telah merasa memilikinya. Dan pilihan menjadi penyusur ini adalah pilihan terindah dalam hidupku.

Akulah penyusur itu. Yang bergerak di gelisah malam menuntaskan rindu pada hamparan sebidang pulau yang jauh di sono noh. Biar saja mereka bilang saya seperti apapun saja, yang penting saya sedang berbuat untuk sesuatu. Setidaknya semoga bermakna buat diri ini. Selebihnya biar menjadi urusan semesta.

Aku sesungguhnya tak hendak lagi ingin memaki langit. Tapi memang barangkali inilah satusatunya cara agar tak menjadi kalut

Pesta itu Peristiwa itu




Selalu ada yang menarik saat duduk di meja penerima tamu di sebuah pertunjukan. Dolow sewaktu kawan-kawan salah satu teater kampus di jogja ini ngadain Study Pentas yang ngambil cerita (ah sorry ku lupa judulnya), akupun memposisikan diri duduk di sekitar meja penerima tamu. Saat itu kalo ngga salah ingat sekitar tahun 2005 atau 2006 gitu, [sorry dah agak uzur jadi biasa kan lupa]

Dan ini kembali terjadi saat kemarin (Minggu malam, 25 November 2007), aku duduk kembali di sudut itu.


Inilah pesta itu, kehadiran kawankawan dari komunitas-komunitas seni kota jogja, menunjukkan Jogja tak pernah kehabisan stok persaudaraan dalam kekeluargaan. Suasana itu yang kurasakan saat menyambut kehadiran mereka. Ada Anggi dan kawankawan UKM Seni UPN lainnya, ada Sasa dan rekanrekan Teater Tangga UMY lainnya, ada temanteman dari Komunitas KOIN FE UII, ada kawan-kawan TKT STIE YKPN, ada si Tank dan kawankawan Sangart-nya, ada Oembel dari PPKP UNY, Geblek dari Sarkem UNY, kawankawan Sanggar Nuun, kawankawan Terkam 28 AKPRIND, ada Tembonk dan Ilham dari ISI, ada Ajeng-Irma dan semua kawankawan TEATER ADA FSB UTY...pendek kata semuanya ada apapun bisa...


Seorang kawan yang lama tak bersua, membisikiku dengan sebuah kalimat, "Inikah pesta itu? inikah enjoy life with theater itu."

Aku jawab dengan penuh keyakinan,"inilah hidup itu!"


Bagaimana tidak hidup? Harapan yang tadinya sempat menipis akhirnya bisa di ubah menjadi sebentuk optimisme tertentu. sebagaimana peristiwaku ini, saat aku bertemu Irma (Teater ADA) aku jadi punya kemungkinan untuk membawa pulang kembali 'Acting Is Believing'. Dan itulah peristiwa teater, penuh kejutan dan seringkali tak terduga, bukan saja diwilayah pertunjukannya pun juga sampai pada psikologi penontonnya. Suatu saat kelak akan kuceritakan bagaimana hasil pengamatanku tentang penonton teater kita...Sesuatu yang akan sangat menarik, tapi ntar aja.


Justru mana kala kita tau, sampai dimana batas kemampuan diri serta indahnya kesanggupan dalam berbagi itulah, maka kita punya kemungkinan untuk berbuat lebih baik bagi teater yang lebih baik lagi. Teater di jogja adalah milik kalian kawankawan...maka perlakukanlah dengan sebaikbaiknya dan gunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan diri bahwa kalian bukanlah warga negara sekadar yang hanya layak untuk disepelekan.


Kalian warga dunia teater adalah insan pilihan zaman yang tidak bisa di pandang dengan sebelah mata begitu saja. Kalianlah pemilik masa depan itu. Dan sekarang saat untuk merebutnya! Bukan dengan berharap cemas menunggu kesempatan mereka memberikannya pada kita.


Warga dunia teater berbasis kampus yang saya cintai...The Party is coming up...Saatnya untuk bersenangsenang dan bergembira merayakan pesta bagi teater berbasis kampus. Apapun pilihan ideologi artistik kalian. Entah sebagai sutradara, aktor, penulis naskah, penata cahaya, set decorator, stage manager, costume and make up designer, skenografer, ataupun penonton setia peristiwa teater...kalian adalah warga sah dari dunia teater.


Sebagai warga yang sah dari negeri teater, kalian memiliki hak dan kewajiban yang sama dan di jamin oleh hukum panggung. hahahahaha.


Cuma tawa nan terdengar samar(!), namun pesta yang telah berlalu akan disusul oleh pestapesta yang hadir membanjir (bukan sekadar mengalir!!!Ingatlah itu di masa depan kalian!!!) kemudian. Kami tunggu kreativitas kalian, jangan berhenti sampai kapanpun. Aku ada bersama kalian kawankawan...



[Ruang Tanya Jiwa, 26 November 2007]


Catur Stanis, tidak memiliki dan dimiliki apapun

Saturday, November 24, 2007

Pledoi Sang Benalu

Tentang waktu yang terbuang itu dan harapan yang kehilangan kontrol dirinya. May, aku harus pulang. aku lelah memelihara waktu dalam genggamanku yang membatu. aku ingin...ah, segera kutepiskan sebab untuk ingin pun tentu membutuhkan modal yang tak sedikit. Apa yang bisa dilakukan oleh orang se nista diriku ini.

Seperti kaubilang May, lelaki menghargai dirinya dengan kesetiaan, meski bagiku kedengaran berlebihan apabila kesetiaan pada bayangbayang itu mengalahkan realitas yang sesungguhnya bisa kita maknai lebih.

Sesiang tadi aku berbincang dengan seorang kawan lama tentang banyak hal. tentang Pajajaran dan Majapahit yang terlibat konflik dimasa silam namun imbasnya begitu mencekam sampai detik ini. Untung di pulau jawa ini ada wilayah yang bernama Jateng dan DIY (dimana harmoni bersemayam). Apa jadinya apabila Jabar berbatasan langsung dengan Jatim? Sebuah perang yang tak kunjung usai.

Ah, pastilah kau mengiraku tengah mengigau kacau, lantaran semalam waktu begitu sempit bagi kita untuk menuntaskan segala perbincangan. dan kurasa tak harus tuntas, biarkan saja menggantung dan kelak bila kita mulai tersadar dari buai impian, akan kita dapati secarik kertas buram bertuliskan : tak ada yang diciptakan untuk menjadi siasia, semoga saja.

Tawaran demi tawaran berseliweran didepan mata, mengusikku serupa nyamuk yang mengerubungi putih gigimu...sebuah metafora yang kacau. Tapi biar saja, apa sich yang nggak kacau dari seorang nista seperti diriku.

Ssst...kubilangi sebuah rahasia, sesungguhnya julukan yang tepat buatku adalah nista itu sendiri, karena saat kau baca berulang, akan kau temukan keajaiban bunyi yang sama seperti yang kau temukan dalam HANTU dan TUHAN. Hantukah aku? Yang pasti bukan Tuhanlah...nggak enak ama tuhan beneran yang asyik nongkrong di Arsy sono sambil melirikku dan manggutmanggut penuh kebanggaan.

Kenapa DIA menciptakan makhluk serupa diriku? ntahlah...kurasa bukan iseng belaka. aku tak percaya kalo diriku adalah hasil keisengan Tuhan dalam menyelenggarakan dunia. Pasti ada maksudnya meski banyak dari kita belum tau.

Dan di solo, di solo...tempat tinggalku y.a.d... kawankawan mendekapku dalam kehangatan yang menakjubkan. Jadi tiada salah jika daku memilih solo sebagai hometown dan meninggalkan jogja yang sok istimewa itu.Satusatunya alasan kuatku untuk meninggalkan semuanya adalah, agar aku tak harus menjadi benalu dikotaku sendiri. Mungkin aku masih manusia yang menolak untuk dianggap dirinya sebagai parasit!!!

di sini, aku menemukan sekeping cinta yang luar biasa...

Friday, November 16, 2007

Ihwal Tontonan Dan Penonton


Pada pagi yang bergegas menjemput siang, Al Stanis yang dimuliakan Tuhan dengan pakaian compangcamping kebesarannya, Nampak menyeruput secangkir kopi pahit dan menghisap dalam-dalam sisa puntung rokok kreteknya semalam. Duduk bersandar pada sebatang pohon tua di pinggir jalan yang bersebelahan dengan sungai yang mengalir serupa cofeemix. sementara deru kendaraan bermotor berlautan dihadapannya. Al Stanis terlihat tenang, sesekali mata tuanya menerawang di kejauhan.
Datanglah kemudian seorang pemuda berambut gondrong dengan ransel kusam nongkrong di punggungnya, duduk disampingnya dan bertanya,
“Ceritakan pada kami ihwal tontonan dan penontonnya”
Maka dengan senyum anggunnya yang khas serta mengandung balutan prana, memancarkan perbawa, Al Stanis memulai sabdanya,
“Tontonan dan penonton adalah sekeping mata uang dua sisi. Ia menjadi ada dan berguna manakala keduanya hadir bersamasama.”
Tak ada tontonan tanpa penonton. Dan tak bisa disebut sebagai penonton apabila tiada menyaksikan peristiwa, sekalipun sejumput saja.
Maka tontonan senantiasa membutuhkan penontonnya dan begitu pula sebaliknya penonton akan selalu membutuhkan tontonannya.
Laksana suami menemui isteri, ada sekeping harapan, seonggok kecemasan serta kesanggupan untuk berbagi.
Bukan sebagaimana pelacur dan pelanggannya, yang dipertemukan semata oleh pemuasan ego pribadi dibungkus hukum jual beli.
Jadilah tontonan itu nikmat justru ketika bisa dinikmati oleh keduanya, bukan semata pemuasan dan atau penguasaan satu pihak atas pihak lainnya.
Adapun perihal penonton adalah sekumpulan individu yang memiliki pengenalan pada diri yang lebih baik. Mereka sangat mengenal dirinya sehingga menjadi asing satu sama lain manakala harus menoleh ke kanan maupun ke kiri.
Pernahkah engkau merasakan menjadi individu bebas, dalam ruang gelap dihadapan panggung dengan pesta cahayanya?
Aku sendiri, senantiasa membebaskan diriku sebagai penonton. Menyentuh bagian paling personal dari kenyamanan saat menyaksikan pertunjukan. Itulah sebabnya kenapa pada bagian penonton selalu di beri cahaya paling minimal, bukan pada persoalan membantu konsentrasi permainan di atas panggung saja kurasa, namun aku lebih melihatnya sebagai privatisasi personal bagi penonton. Kalau saja sekadar pemenuhan konsentrasi pemeranan, tentu penonton film di bioskop tak membutuhkan peredupan cahaya sedemikian rupa.
Akan halnya penonton, yang berdiam dalam kegelapan dengan segala kebebasan kemungkinannya, telah menjadi alasan yang terang benderang bagi kita untuk sebuah pengertian :”Penonton adalah raja.” Setidaknya Raja bagi dirinya sendiri.
::Jogja, 15 November 2007, di lantai Plasa Ambarrukmo yang meredakan gerah meluapkan gairah::

Monday, November 12, 2007

Jum'at,Sabtu,Minggu

Jum'at pagi yang basah, sisa guyuran hujan semalaman tak menyurutkan langkahku menuju Stasiun tua yang berdiri pucat di sudut kota itu. Stasiun itu masih sepi saat aku menemukan sesobek kertas tak bertanggal bertuliskan,"tak ada kata terlambat bagi kereta yang datang kemudian, lantaran kesempatan untuk menunggu adalah peluang bagi kemungkinan yang tak terduga". Dan benar saja, kegiatan menunggu itu memang membuatku bisa membuka kembali lembar-lembar ingatan yang membentang di sekujur malam-malam yang kumal. sejumput mimpi kubungkus pagi ini, terbayang senyummu yang samar didinding terbakar.

Jum'at siang yang sejuk dan kering di joglo Cepuri Parangkusuma, sebutir mimpi kucuri dari pias wajahmu yang kelelahan. Ada kedamaian menghampar dari pejam matamu. Sisa kelelahan dalam rentang perjalanan membuatku nanar menatap ungu ragumu. Hari belum beranjak sore saat kugamit langkah menuju tangga batu yang tersusun acak di kerindangan Makam Syech Maulana. Lanskap yang terhampar serta dada yang berdebar menunggu malam di reriungan canda.

Jum'at sore luput menangkap sunset yang bersembunyi disebalik kelam awan. Mungkin hujan deras di utara, sedang kita disini masih juga saling menrjemahkan tanda-tanda. Dibibir pantai ini, seulas senyummu menyejukkan bathinku, menjinakkan darahku.

Saat senja menjelma malam, dalam deru ombak yang hingar, bergelas-gelas kata kita bakar. Dan malampun lewat. Tanpa kata tanpa suara. Hanya beku angin mengabarkan mimpi yang tertunda. Hanya dengkur berpacu dalam dekapmu yang hangat dan damai.

Terimakasih karena kau perkenankan menjemput pagi bersamamu.

Sabtu siang di terminal yang bising, tak pernah kuucap selamat jalan, karena bagiku kemanapun engkau menjejakkan kaki, kau tak pernah berada dimana-mana selain senantiasa tinggal dalam ceruk bathinku yang membiru oleh lumut waktu.

Maka kuperkenankan siang membawamu berlalu.

Sore, di mobil Agus Noor yang melaju mengantarku menuju Sewon, aku lebih banyak terdiam. Titik-titik air yang basah itu mengingatkanku pada seuntai cerita yang dibawa oleh kemarin. Masing-masing punya cara tersendiri, masing-masing punya jalan untuk menggerakkan kaki.

Sabtu malam di lapangan depan Teater Arena ISI, bersama kawan-kawan kami menenggelamkan diri dalam putaran kisah yang dipaparkan teman-teman dari Sanggar Kampoeng Seni Banyoening.

Sengaja aku ketempat ini bukan semata menghindari acara di tempat lain. Namun lebih sebagai bentuk kecintaanku yang bisa jadi berlebihan kepada makhluk yang bernama teater.

Ngobrol dengan Dwi sebelum masuk ke ruang diskusi. Tiba-tiba saja bayangmu melintas. Bersama seonggok jagung bakar dan derai tawa yang entah dari mana.

Usai segalanya, kukendarai malam membelah kota bersama Joni Ariadinata. Di perempatan Gondomanan kami berpisah. Joni pulang ke Gamping dan aku melanjutkan langkah menuju kawasan Gowok.

Minggu siang di kamar Koto kurebahkan lelah sampai sore membangunkanku pergi ke kantor. Entah kantor yang mana, entah kantor siapa.

Wednesday, October 31, 2007

Dalam Bayangan Tuhan Bersama Peron

Seorang kawan mengajakku ke Stage Tari Tedjakusuma FBS UNY buat nonton pertunjukan teater dari komunitas Peron, FKIP UNS. Ada tiga alasan utama aku mengharuskan diri hadir ditempat itu, pertama adalah naskah Arifin Chairin Noer yang ini secara pribadi cukup menggedor rasa penasaranku. Yang kedua, Peron adalah teater berbasis kampus, sesuatu yang sedang dan akan kuperjuangkan keberadaannya sampai kapanpun. Yang terakhir adalah stage tempat mereka pentas kali ini adalah satu ruang yang sangat bernilai sejarah bagi kehadiranku di wilayah kesenian. Karena dulu sekitar akhir 80an sampai pertengahan 90an, tempat itu menjadi semacam gua garba pengolahan kreativitas yang turut andil melahirkan banyak nama-nama seniman dan pekerja seni di kota Jogja ini.
#1
Naskah Ariefin C Noer ini pertama kali kubaca dari majalah sastra Horison terbitan tahun 1984 (kalau ngga salah ingat). Yang kubeli di Pasar Buku Shoping sekitar tahun 90an. Pertama kali saat kubaca naskah itu, terbayang kegilaan kontemplatif terhampar di ruang imajinasiku. Aku membayangkan sebuah hiruk pikuk yang senyap serta kesibukan yang kosong. Semacam penanda yang ditinggalkan Arifin C Noer sendiri melalui dialog-dialog cerdas yang di presentasikan oleh tokoh-tokohnya dalam drama ini. Adalah Sandek, tokoh utama dalam sandiwara ini yang sangat memahami ketokohannya, tiba-tiba di benturkan untuk berkonfrontasi langsung dengan Direktur Umum yang tak lain adalah “alter ego”nya sendiri. Dari sinilah konflik dibangun antara dua(?) tokoh yang sesungguhnya “satu” itu. Pilihan bentuk Realisme Epik seperti yang diusung oleh Bertold Brecht, memudahkan drama ini diterima sebagaimana halnya guyon parikeno seperti yang lazim hadir di banyak drama tradisional kita dan diadopsi oleh Dagelan Mataram maupun Srimulat. Perpindahan karakter dari satu tokoh untuk berlaku seolah-olah sebagai tokoh yang lain memungkinkan drama ini dimainkan dalam tempo yang se “cair” mungkin tanpa kehilangan kecerdasan dalam memainkan timing. Bukan saja aktor yang menguasai plastisitas olah vokal serta kepiawaian keluar masuk dari satu karakter ke karakter yang lain dalam intensitas yang sama. Pun juga sutradara yang harusnya mumpuni dalam mengelola energi managerial estetika pertunjukan. Permainan grouping serta koor dari elemen pendukung pementasan ini bukan saja dimaksudkan sekadar jeda intermeso namun juga memperkuat intensitas emosi permainan. Inilah sesungguhnya kekuatan Arifin C Noer sebagai pengusung surealisme yang cerdas dan tak terjebak dalam mistifikasi salah kaprah seperti yang sering diperagakan oleh sutradara sinetron kita yang membikin drama hidayah jadi penuh kemubadziran. Inilah langkah maju yang dilakukan Arifin C Noer yang bahkan tak pernah dipikirkan oleh para penggagas surealisme di Eropa sana. Surealisme Arifin C Noer adalah surealisme dengan muatan kompleksitas psikologis yang kental dan khas Indonesia (baca: timur) serta tidak hanya terjebak dalam satu frame pemahaman tertentu, sebagaimana yang lazim muncul dalam ranah pemikiran surealisme eropa. Meruang sekaligus menguasai dengan berbagai singgungan pemahaman untuk sampai pada simpul yang dibikin untuk tidak harus jelas (mengganjal dan gatal).
#2
Bagaimana dengan pertunjukan Komunitas Peron yang aku tonton saat itu? Permasalahan keaktoran agaknya menjadi masalah tersendiri. Si Pemeran Sandek (Adi Nurrohman) perlu lebih banyak lagi melatih plastisitasnya didalam olah vokal. Hal ini sangat dibutuhkan untuk mempertajam karakteristik Sandek sebagai pemeran dan Sandek sebagai tokoh sandiwara ini. Berikutnya adalah persoalan intensitas penghayatan yang kelihatan terbata-bata diperagakan oleh pemeran Ibu Tua ( Tanti Yossita). Teknik muncul yang cukup mencekam jadi runtuh manakala ibu tua itu kehilangan karakter ketuaannya justru setelah mengeksplor vokalnya. Karakter sebagai ibu tua yang kenyang derita karena lama mencari anak kandungnya tak nampak sama sekali. Beberapa timing yang dibangun melalui sentuhan musikal menjadi kurang pas dan cenderung mengganggu pengadeganannya, seperti terlihat saat Sandek terlibat pembicaraan seru dengan Direktur Umum, tiba-tiba alunan musik Jimbe masuk membuyarkan. Mungkin pengennya mendekati suara degup jantung namun justru jadi kehilangan denyut hidup. Suara genta atau klenengan yang dipukul berulang dalam satu nada berjarak (monotone) justru saya kira lebih memberi sugesti kuat bagi efek mencekam yang ingin ditimbulkannya. Adegan rumah yang sakit dengan epidemi batuknya agak berlebihan kurasa. Menjadi janggal melihat paramedis yang datang tanpa masker penutup hidung dan mulut. Pemeran anak-anak masih terlihat terlalu dewasa dan kemanjaan Oni (isteri Sandek) tak begitu nampak. Beberapa permainan grouping dari pemain cukup mengasyikkan dinikmati. Terutama pada saat si ibu tua melancarkan kutukan yang akhirnya gagal itu. Bagian inilah yang paling bisa saya nikmati dari sepanjang pertunjukan Komunitas Peron malam itu. Setidaknya Komunitas Peron sudah mencoba selebihnya tegur sapa seperti ini, menjadi tradisi yang asyik untuk kita kembang teruskan. Maju terus Peron. Sekali berbuat pantang untuk diundurkan. Apalagi almarhum Arifin C Noer cukup memberi penanda jelas dalam karyanya ini dengan syairnya:
Beratus-ratus tahun sudah
Kita tak pernah istirah
Betapa panjang ini perjalanan
Betapa panjang bayangan Tuhan
Betapa menyilaukan cahaya Tuhan
Kadang membutakan
Kadang membutakan
Begitulah dalam melihat Tuhan. Jangankan aku dan engkau kawan, yang sekadar hanya manusia teater yang ala kadarnya. Lha wong yang namanya kanjeng Nabi Musa AS kekasih Allah itu saja bisa pingsan berkeping-keping karena nanar oleh sapuan pendar cahayaNya. Apalagi kita. Dan atau lebih-lebih apalagi hanya kita, yang dengan segala keterbatasan mencoba menangkap bayanganNya. Tak ada gading yang tak retak. Selalu ada waktu bagi kerendah hatian untuk menemukan cara bagi perbaikan diri. Selebihnya kita serahkan pada keluasan semesta untuk menakarnya. Maju terus. Akulah pendukungmu wahai umat teater kampus. Sambil terngiang kata-kata Sandek yang menggedor bathinku, kusudahi tulisan ini sambil berharap semoga segera muncul penulis drama sekaliber Arifin Chairin Noer yang cerdas dan kreativ di bumi ini, bumi Indonesia yang semestinya kita cintai dengan kesungguhan hati bersama ini. Semoga.
::Sepulang Nonton, seusai ngobrol dengan Mujibur Rohman dan Amin::

Saturday, September 22, 2007

Interview With Catur Stanis

Catur Stanis mencoba menjawab pertanyaan beberapa rekan dalam sebuah perbincangan di salah satu ruang publik di Jogja, suatu malam. Saat itu seperti biasa, Catur Stanis tengah asyik menekuri kesendiriannya dalam balutan aroma kopi yang kental dan tentu saja pahit. Yang juga turut hadir dalam pertemuan tak terduga itu adalah Mas Abimanyu seorang penyair muda yang buku kumpulan puisinya telah terbit, serta mbak Srikandi, penulis beberapa novel yang cukup atraktif.

Srikandi : Kenapa Anda memilih untuk bersikap konfrontatif terhadap lembaga seperti TBY?
Stanis : Pertama bisa jadi kekecewaan, tapi itu tidak begitu penting. Yang kedua dan terutama adalah justru penegakan nilai-nilai keadilan.
Abimanyu : (Menyela) Maaf, yang Bung maksud dengan keadilan itu bagi siapa? Bagi diri sendiri, orang lain atau bagi siapa ?
Stanis : (Sambil tersenyum bijak), Tentunya awalnya bagi diri sendiri namun lantas aku melihat kemungkinan lebih luas bagi sesama.
Srikandi : Bisa dijelaskan secara lebih kongkrit, kira-kira bentuk keadilan seperti apa yang Anda inginkan?
Stanis : Yang harus diingat adalah, lembaga semacam Taman Budaya itu memiliki kewajiban moral untuk melakukan pembinaan terhadap kesenian dan senimannya. Menjadi naïf saya kira kalau seorang peternak sapi perah berharap mendapatkan hasil susu yang berkualitas tanpa menyediakan rumput yang segar serta tersedianya kandang yang kondusif bagi tumbuh dan kembangnya sapi itu.
Abimanyu : Maaf, apa hubungannya antara seniman dan sapi perah?
Stanis : (Sembari mengulum senyumnya) Tentu saja ada kawan. Kalau lembaga seperti Taman Budaya tidak mau (Bukannya tidak mampu lho!) Ikut memikirkan kesejahteraan seniman, berarti dia (lembaga itu) sudah mengingkari hukum pendiriannya.
Srikandi : Bagaimana dengan sinyalemen bahwa setelah otonomi daerah, lembaga seperti TBY ini jadi terpangkas sumber dananya?
Stanis : Saya tidak menafikan hal itu, tapi kalau pengelola TBY mau kreativ dalam mendaya gunakan potensinya, bisa saja mereka merangkul pihak swasta. Semacam mekanisme kerjasama seperti yang galib dilakukan di antara kawan-kawan EO.
Abimanyu : Iya ya. Tapi kenapa hal ini tak dilakukan?
Stanis : Jangankan berpikir tentang sesuatu yang inovativ, untuk memulai sesuatu yang bisa melibatkan semua kalanganpun nampaknya TBY ogah-ogahan. Mereka cukup puas berposisi sebagai birokrat seni dan pegawai yang sok nyeniman. Padahal samasekali tak berpihak pada kehidupan seniman.
Srikandi : Ada contoh kongkretnya?
Stanis : Lihat saja Sosietet yang berdiri pongah dengan harga sewa yang tak murah itu. Hanya yang mempunyai uang yang bisa menyewa gedung yang konon representative untuk pertunjukan itu.
Abimanyu : Kalau menurut anda, sepadankah harga sewa itu dengan fasilitas yang diberikan VOC eh Sosietet itu?

Setelah tertawa bergelas-gelas. Dan menyeruput kopi masing-masing yang mulai dingin, Stanis melanjutkan sabdanya.

Stanis : Disitulah sebetulnya salah satu kejanggalan yang sering menjadi kejengkelan diantara kawan-kawan pengguna gedung kesenian yang untuk mengongkosi pendiriannyapun harus tega menggusur otoritas ruang ekonomi bakul palawija, yang nota bene adalah rakyat kecil.

SEPERTI KITA TAHU, SOSIETET BERFUNGSI SEBAGAI SEMACAM PENGGANTI SENISONO YANG TELAH DI GUSUR UNTUK PERLUASAN GEDUNG AGUNG.SEKITAR TAHUN 1991-1992 SENIMAN DI JOGJA TERGABUNG DALAM DKSI (DEWAN KESENIAN SWASTA INDONESIA) MENCOBA UNTUK MELAKUKAN AKSI MENOLAK PEMBONGKARAN SALAH SATU BANGUNAN YANG MERUPAKAN HARGA DIRI HATI NURANI RAKYAT ITU.

Stanis : Maka menjadi sebuah kewajaran apabila di era tumbangnya wadah tunggal (sebagaimana menjadi sesuatu yang lazim dahulu kala di era ORBA), saat ini siapapun saja bisa dan boleh membangun wadahnya sendiri untuk media bagi kegelisahan bersama.
So, tak ada alasan untuk menolak hadirnya Lembaga Kesenian Swasta. Kalau memang kinerja Lembaga Kesenian Negara tak lagi becus menghargai kesenian dan senimannya, maka kami memberi tawaran lebih yang tak juga mereka berikan.
Mas Abimanyu dan Mbak Srikandi manggut-manggut penuh irama dan Catur Stanis meneruskan kata-katanya.
Stanis : Atas dasar itulah Solidaritas Indonesia Untuk Teater Jogja mempermaklumkan keberadaannya. Ditengah situasi serba canggung serta kurangnya aspirasi para pengemban amanat kebudayaan negeri ini menjalankan fungsinya.
Srikandi : (setelah menyeruput teh jahe serta mengganyang ketela rebusnya) Untuk itulah anda menggalang kekuatan.
Stanis : Tidaklah sesederhana itu persoalannya. Pertama, Teater berbasis kampus ini sekarang bergerak hampir tanpa pembela. Mereka dibiarkan sendirian untuk bertahan hidup. Kedua, soal estetika yang dipaksakan. Bagi saya biarkan saja Teater berbasis kampus dengan estetika mereka sendiri. Tanpa intervensi berlebihan dari pihak diluar kampus. Apalagi para petualang yang justru bisa merusak eksistensi Teater berbasis kampus itu sendiri.
Abimanyu : Sebegitu menyeramkankah kondisi yang di hadapi Teater berbasis Kampus?
Stanis : Mungkin yang terjadi lebih dahsyat lagi. Saya justru sedang berupaya untuk menghaluskannya dengan semacam eufimisme tertentu, agar orang tidak lekas gampang kaget dan kemudian jadi jantungan.


Saturday, September 1, 2007

Stanislavsky Sistem

Stanislavski System. American Method Acting originated in Russia with Konstantin Stanislavski, who opened the Moscow Art Theatre in 1898. The Moscow Art Theatre is primarily associated with the productions of the plays of Anton Chekhov and the beginning of Russian dramatic realism. By observing him self as an actor as well as the other actors with whom he worked, and more especially by studying the great dramatic artists in Russia and abroad, Stanislavski developed an approach to the teaching of acting that became known as the "Stanislavskisystem." The effects of his teaching were felt in America in the 1920s when Richard Boleslavsky and Maria Ouspenskaya, both alumni of the Moscow Art Theatre school, emigrated to America and established The American Laboratory Theatre. Stanislavski investigated and charted the acting process that good actors used intuitively. He systematized that process so that it could be studied and developed consciously. He was interested in how to maintain a consistent performance and how to be a conscious human being on stage. The Method is a pragmatic way of working to create both the interior life and the logical behavior of a character, a way that can be taught, practiced, monitored, and corrected. According to Stanislavski, an important aspect of building a character pertains to the subtext. The subtext is the meaning behind the words of the text. For Stanislavski, the subtext is thein ward "life of a human spirit. . ." that constantly flows under the words of a role. Words are only a part of a given moment on stage,and are related to thoughts, bodily expressions, and images. Actors need to see images and transmit those images to the acting partner.Images need to grow in detail and become richer.Questions are asked by the actor. Why did the playwright write these words at this time in the play? To make the playwright's words his own the actor needs to know why the author gave these lines to the character: what is my purpose in saying these lines? How do I make that purpose known? Under what conditions would I think, behave, do,and perceive as this character does? As the actor I must be willing to submerge myself in the life of the character.Some of the tenets of Method Acting are: verisimilitude, seeking logical character behavior, justification and super-objective,expression of true emotion, drawing on the self, ensemble acting,improvisation, and use of objects.

A great deal has been said and written about what has come to be known as "the Method." It is the preeminent acting style of American actors. It would be very difficult to improve on the following definition of the tenets of Method acting.11. The actor's essential task is to reproduce a credible reality—verisimilitude—on stage or screen, founded on acute observations of the world. Method teachers do not hold that this restricts actors to any one style of production, but this task does closely link the Method with American naturalism, which has the same aim.
2. The Method justifies all stage behavior by establishing its psychological soundness. To provide a unifying motivation for this behavior, the actor determines a single overall purpose for the character. This is commonly known as a "super-objective,"or "through line," or "spine." This larger purpose is divided into smaller, act able units called "objectives" or "actions."
3. Great value is placed on the expression of genuine emotion, which may be evoked through a technique called "affective memory."
2(Affective memory has become an extremely controversial device that has, in its most popular version, "emotional recall," split the community of Method teachers.)
3(a) The central purpose of the creative actor's work is the cultivation of "life of our inner feelings." According to Boleslavsky, this involves the development and use of the actor's "affective memory": the recalling and re-experiencing of previously felt emotions.Stanislavski developed exercises with which the actor, by recalling the sensory details that accompanied an emotional experience, could entice the emotion from his subconscious and re-experience it. Madame Ouspenskaya used to call the actor's affective memories "golden keys," which unlocked some of the greatest moments in acting.________In the last four pages of the "Overture, section of SWAN'SWAY, Marcel Proust describes a perfect example of the affective-memory phenomenon and how it is linked to particular sensory keys that can unlock long-forgotten feelings.
3 The novel's narrator recalls how his mother served him some tea with "those short, plump little cakes called `petites madeleines.'" He takes a sip of the tea into which he has dipped a piece of Madeleine and suddenly experiences an exquisite sense of joy. He tries another sip of the tea and cake and then another, but the sensation seems to diminish.He considers for a moment, then concentrates on the sense memory of the taste of "the crumb of Madeleine soaked in a decoction of lime-flowers," and immediately a flood of reminiscences is released: here members the Sunday mornings at Comb ray, when as a child, his aunt Leonie gave him a piece of the Madeleine she had dipped in her own cup of lime-flower tea, the re-experiencing of which unfolds in the complex of recollections that becomes REMEMBRANCE OF THINGS PAST.
There are many examples in theatre history of performers making unconscious use of their affective memories. For example,Edmund Kean was truly emotionally moved when he picked up the skull of Yorick in the gravediggers, scene in HAMLET. It seems each time he held Yorick's skull he would be reminded of a beloved uncle who had given him his first lessons in acting and who had introduced him to Shakespeare. By this example we see that the actor had a real emotional response that came from his connection with the play and the character.Specific acting exercises are used only as a last resort. The given circumstances of the play, character, and action are of primary importance. After the performer analyzes his part to see what feelingor emotion is necessary at a given moment in a scene, he searches his own life for a remembered feeling or emotion that parallels the former. Using sensory exercises the actor retrieves the parallel emotion from his affective memory. The actor is not to be concerned with how the emotion will manifest itself, only with finding it and creating the sensory realities that will unlock the memory. When the affective memory is tapped, the mental processes set in motion do cause psycho physical responses. They stimulate the player's physical and mental being with remembered sensations and emotions that color his or her behavior and vocal expression in ways that both the actor and the audience experience as real and exciting. This is what gives fine acting its "aliveness" and verisimilitude.The Method teacher Robert Lewis has this definition of affective memory:
4.The theory is that if, quietly relaxed, you think back over a certain incident in your life which moved you strongly at the time,and if you can remember and recreate in your mind the physical circumstances of that moment (where you were, who was there, what happened, the time of day, the place, surroundings) and start reliving it . . . it is possible that a feeling similar to what you felt at that time will recur.4. Each actor's own personality is not only the model for the creation of character, but the source from which all psychological truth must be distilled. Here's what Brando has to say about "use of self".
5.People often say that an actor "plays" a character well but that's an amateurish notion. Developing a characterization is not merely a matter of putting on makeup and a costume and stuffing Kleenex in your mouth. That's what actors used to do, and then call edit characterization. In acting everything comes out of what you are or some aspect of who you are. Everything is a part of your experience. We all have a spectrum of emotions in us. It is a broad one, and it is the actor's job to reach into this assortment of emotions and experience for the ones that are appropriate for his character and the story. Through practice and experience, I learnedhow to put myself into different moods and states of mind by thinking about things that made me laugh or be angry, sad, or outraged; I developed a mental technique that allowed me to address certain parts of myself, select an emotion, and send something akin to an electrical impulse from my brain to my body that enabled me to experience the emotion. If I had to feel worried, I'd think about something that worried me; if I was supposed to laugh, I thoughtabout something that was hilarious.
5. Improvisation is encouraged as a rehearsal aid, and even in some cases as part of performance, in an effort to keep the actingspontaneous, and thus lifelike.
6. The Method promotes intimate communication between actors in a scene, thus striving toward the performance ideal of true, unifiedensemble acting. Some acting exercises developed for this purpose are: the mirror, group use of imaginary objects, group movement exercises, and improvisations. Ensemble acting does mean more than just consistently good acting by all cast members. It generally implies that everyone onstage is acting in exactly the same style, and it requires concentrated group scenes. Unfortunately, the history of American drama and film contains few examples of it. It may be the sad case that for American actors, who strive to create theater in a highly commercial context that supports the star system, moments of intimate connection between individuals are often the closest they come toens emble acting.
67. The use of objects is stressed both for their symbolic value and as reminders of the solid, material world.

Jelajah Jogja

Ada kabar kudengar dari arah selatan kota Jogja sebuah Parade Teater Realis di salah satu perguruan tinggi seni dikota ini. Kulewatkan waktu bersama mereka dan sempat ngobrol dengan beberapa pelakunya. Ada segurat kegelisahan selebihnya tinggal pengulangan yang berkedok pada konsekwensi akademik. Ada baiknya memang pelajar yang belajar teater itu dikenalkan pada teater realis konvensional, sebagaimana yang lazim terjadi pada mata kuliah kajian drama di institusi pendidikan yang lain seperti UNY misalnya. Meski tidak harus, namun setidaknya mengenalkan pada mereka batasan mana yang boleh dan tidak, sebagaimana lazimnya dalam "hukum" drama. Seenggaknya kelak bila ada kesempatan bagi mereka untuk melakukan penjelajahan estetik melalui eksperimentasi bentuk garapan, diupayakan tidak terjebak pada sekadar lari dari yang biasanya hanya untuk biar keliatan beda, tanpa dikuasainya secara baik dan benar materi dasar yang konon bersumber dari konvensi dramaturgi.
Perdebatan mengenai perlu tidaknya konvensi itu dikenalkan dikalangan akademisi teater itu memang naga-naganya perlu ditelisik ulang juga. Mengenai ketidak setujuan beberapa kalangan, lebih pada belum dicapai titik temu dari komunikasi yang sering sendat diwilayah kesenian seperti teater. Maka bagi saya yang bukan akademikus di bidang teater, persoalannya menjadi lebih sederhana. Kalau saya suka akan saya nikmati, kalau ndak...maka saya akan memilih bentuk ungkap yang berbeda dari yang ditawarkan. Itu saja kok repot. Tapi memang sudah kodratnya barangkali, esensi drama adalah konflik itu sendiri, maka menjadi sebuah kewajaran pula bila yang kita saksikan di Jogja akhir-akhir ini, lebih pada hingar-bingar peristiwa diluar panggungnya dari pada aksi diatas panggung yang lebih sering senyap lantaran masyarakat yang potensial menjadi penonton kebanyakan enggan untuk keluar rumah menyaksikan pertunjukan teater dan memilih "kemulan sarung"sembari melototi acara iklan dengan selingan sinetron itu.
Oahemmm...tiba-tiba rasa kantuk mendera saya tanpa tahu lagi kemana badan ini mesti direbahkan untuk sekadar mengusir lelah, karena sampai detik ini ternyata Taman Budaya di Jogja tak menyediakan fasilitas semacam Wisma Seni, jadilah saya tidur bersama tekyan sembari mendekap mimpi ditengah bingar kota yang makin lama tak bersahaja ini. Brand image sebagai never ending asia tertelan oleh kibasan sayap pongah kapital hingga lebih terdengar sebagai Jogja Never Ending Belanja (hahaha).
Sebaiknya aku memilih untuk tidur saja, semoga mimpiku kali ini belum juga di beri label harga standar mal dan plasa serta dijual ketengan di kolong tukang loak. Dan yang paling gratis dalam hidup ini adalah tidur dengan segala konsekwensinya.

Friday, August 31, 2007

The PARTY'S Coming Up

Salam Budaya,
Salam Kreativitas Tiada Henti
Salam Teater Jalan Terus
Menindak lanjuti acara ngobrolin teater di Pub Ringan, jalan Petung
22 Papringan Yogyakarta seputar akhir Januari sampai akhir Maret
2007, yang baru lalu, maka saya sebagai salah satu oknum yang
berkenan memungkinkan acara itu ada dan tentu saja tanpa menafikan
peran penting dari beberapa elemen teater yang hadir dan turut
terlibat dalam pembicaraan yang santai dan diiringi taburan aroma
harum kopi itu, maka saya perlu mereview kembali melalui milis kita
ini, beberapa pernyataan saya mengenai "Teater Berbasis Kampus".
Pertama adalah sebuah upaya untuk menghindari pengkutuban yang
sejatinya tidak perlu ada namun cenderung telanjur telah tercipta
tentang dikotomi teater kampus dan non kampus (untuk merujuk pada
komunitas teater yang hidup dan berkembang diluar kampus)
Kenapa saya memilih untuk tidak menggunakan istilah teater kampus
dan non kampus? Semata mengingat dari wacana sejarah teater modern
negeri ini, hampir tidak ada teater (modern) yang sungguh-sungguh
murni terlepas dari pengaruh kehidupan kampus.
Menyebut beberapa nama kelompok teater dinegeri ini yang terlanjur
dikenal, itupun tak lepas dari pengaruh para pengelolanya yang
terdiri atas sekumpulan manusia yang pernah mengenyam pendidikan
ataupun bersentuhan secara langsung maupun tidak dengan kehidupan
kampus.
Sayapun termasuk orang yang sepakat bahwa toleransi yang berlebihan
serta penggunaan bahasa permakluman yang tidak proporsional didalam
menimbang serta menakar kreativitas temen-temen teater kampus,
justru bisa berakibat fatal pada terjadinya pola pengerdilan atas
teater yang berbasis kampus tersebut.
Untuk itu saya mengajak kawan-kawan teater untuk menggairahkan
kembali diskusi usai pentas yang akhir-akhir ini mengalami bukan
saja kelesuan namun yang cukup menggelisahkan adalah kenyataan bahwa
ada sementara komunitas teater (di Jogja) yang menunjukkan sikap
apriori berlebihan serta terjebak dalam "diskusio-phobi" yang
sungguh-sungguh tiada perlu.
Semoga sedikit tegur sapa ini menggugah kita semua khususnya saya,
untuk mampu memperjalankan kehidupan berteater secara lebih sehat
dan manusiawi.
Aku ajak engkau semua sahabat-sahabat teaterku di Jogja ini
seperti :
Teater Gadjah Mada (UGM),
Teater Eska (UIN Suka),
UNSTRAT (UNY),
Senthir (UNWAMA),
Dokumen (Widya Mataram),
Lancong (AMPTA),
Seriboe Djendela (Sanata Dharma),
Tuju Gerbang (AKAKOM),
Kebon Teboe (STIE YKPN),
24 (AA YKPN),
26 (AMP YKPN),
Lilin (Atma Jaya),
Global (AMA),
Tangga (UMY),
Jurusan Teater ISI,
EX ASDRAFI,
Hijau Daun (INSTIPER),
Kahista (UNPROK),
Klenik (UNCOK),
Apakah (FH UGM),
Rapat (Psikologi UGM),
Terjal (FIB UGM),
Retorika (Filsafat UGM),
Vena (FKH UGM),
Koin (FE UII),
Djemuran (FT UII),
Parkir (Psikologi UII),
Sekrup (FMIPA UNY),
Relung (Jur Bhs Inggris FBS UNY),
Ada (FBS UTY),
Neraca (FE UTY),
Lobby Doea (STPMD APMD),
Air (STTL),
Bening (STIS),
Seni (UPN),
Soekma (ABA YIPK),
Sempat (PPKP UNY)
serta yang lainnya karena keterbatasan daya ingat tak sempat tercatat semua-muanya yang turut mengharumkan Jogja melalui kreativitas... aku kangen kalian!

Salam Manis
Catur Stanis
The President of PARTY
::Pengusung Spanduk bertuliskan "Theatro Ergo Sum"::

Monday, August 6, 2007

:Ngobrolin Teater

hello..ini adalah postingan lama dari milis ngobrolin teater. kutulis sekitar januari 2006, menandai ultah pertamanya di wilayah cyber.kalo saja ngga ilang harusnya ngobrolin teater hendak memasuki tahun ketiga januari depan...

Anggauta milis yang budiman...sepuluh hari sesudah kuketikkan tulisan ini, milis kita tercinta akan segera memasuki tahun pertamanya berselancar di wilayah cyber. Tepatnya pada 14 Januari 2006. Sebagaimana lazimnya sebuah peringatan hari kelahiran, maka beberapa penggagas, pemrakarsa serta pengelola milis ini, beberapa waktu yang lalu telah bertemu dan duduk satu tikar di markas besar CS HOT (CaturStanis House Of Theatre), dikawasan Condongcatur Yogyakarta. Kantor yang tak begitu luas dan sepertinya memang jauh dari perawatan yang memadai sebagaimana layaknya sebuah ruang kantor itu telah dijubeli oleh ketiga "Trimurti" pendiri,penggagas sekaligus pengelola CS HOT yang merupakan lembaga resmi pemangku milis "Ngobrolin_Teater"kita yang tercinta ini.Mereka adalah; CN Graha, penyair yang bersetubuh dengan kesenyapan sunyi, Catur Stanis, Aktor penyendiri yang menyukai kesunyian yang baru saja menyelesaikan pentas tiga kotanya menggiring "Anjing Kudisan" di Jogja-Bandung dan Lampung, serta tak ketinggalan Remon Concat sang Penjaga Hati Wanita penderita penyakit kronis Syndroma of Woman oriented yang tak terobati itu. Bertemu dalam obrolan hangat seputar gagasan mewujudkan Ngobrolin Teater Live di Markas Besar CS HOT, dijl.Menur III/56, Perumnas Condongcatur, Yogyakarta. Gagasan itu muncul dari beberapa desakan kawan-kawan Jaringan KerjaTeater Kampus (JAKET KAMPUS) yang tidak bisa tidak merupakan embrio bagi lahirnya jabang bayi Ngobrolin_Teater pada 14 Januari 2005 lalu. Dari pergesekan kreativ dikalangan teater kampus itulah, maka CS HOT menemukan media pemenuhannya bagi aktualisasi serta kebutuhan silaturahmi dikalangan masyarakat teater, bukan saja di Jogja melainkan juga di seluruh penjuru dunia, melalui kendaraan internet. Dalam kesempatan ini, tak lupa kami haturkan terimakasih banyak dan banyak-banyak terimakasih kepada Yahoogroups, yang telah memungkinkan semua ini ada dan maujud bersama. Juga tak lupa ucap terimakasih yang tak terhingga kepada Google, sebagai asisten paling cerdas(setidaknya) untuk saat ini. Juga tentu saja tak kalah pentingnya adalah, ucapan terimakasih secara tulus bersama ikhlas kepada semua member milis Ngobrolin_Teater dimanapun anda berada.Kepada siapa milis ini dipersembahkan, semoga anda semua dapat menikmati kemanfaatan dari milis ini.Salam kami ucapkan kepada para pengelola milis sejenis ini, yang telah berkiprah mendahului kami, seperti Forum Teater Indonesia maupun Pojok Teater. Terimakasih atas kerja barengnya yang cukup mesra selama ini.Dari lubuk terdalam dihati kami bertiga, kami ucapkan terimakasih karena kalian semua masih mau berbuat bagi teater yang lebih baik lagi.Kepada rekan-rekan pekerja teater, Aktor, make-uper, Skenografer, Lighting Designer, Stage Manager, Programer, scriptwriter, serta semua dan siapapun saja yang terlibat secar aktif diwilayah pertunjukan teater, kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas perhatian yang indah dan membahagiakan selama ini. Semoga ditahun-tahun yang akan kita jelang mendatang, kita dapat melakukannya lebih dan lebih baik lagi. Selamat berbuat bagi teater...dan saatnya untuk menegakkan harkat dan martabat perteateran ditengah arus deras hedonisme yang menggejala bagai sesuatu yang biasa-biasa saja.



Condongcatur, saat malam mengetuk pintu pagi dan anjing dikejauhan melolong entah lapar, entah mengutuki nasibnya karena menjadi anjing.



Contact Person Kami:+6281802621581

Tuesday, July 31, 2007

Teater Tokoh

Kehidupan teater sangat tergantung dengan seorang tokoh. Kalau sangtokoh tidak menggeliat, pentas teater menjadi sepi. Kalau sang tokohkumat kreatifnya, teater menjadi semarak. Di mana-mana situasinyaseperti itu.Di Jakarta, kalau Kepala Dinas Kebudayaan tidak memberi perhatianlebih pada kehidupan teater, pentas teater menjadi berkurang. Apalagikalau sanggar-sanggar teater kehilangan tokohnya karena punyakesibukan lain. Teater Koma sangat tergantung kepada Nano Riantiarno,Teater Mandiri sangat tergantung kepada Putu Wijaya. Bengkel Teatertak akan pentas kalau tak ada Rendra. Maka, ketika Nano, Putu Wijayaatau Rendra punya kesibukan lain atau kehabisan ide untuk garapanbaru, tak ada pementasan apa pun dari kelompok itu. Di Yogyakartayang jadi barometer kedua kehidupan teater setelah Jakarta, jugademikian. Kalau para tokohnya lari ke Jakarta disedot oleh televisiuntuk tayangan-tayangan berbau teater, maka anak-anak teater tak bisamanggung.Di Bali sendiri, kehidupan teater berjalan pasang-surut. Ini teaterdalam pengertian yang sebenarnya, baik itu teater tradisional sepertidrama gong, arja, wayang wong, maupun teater modern. Di Bali seringkali istilah tradisional dan modern ini menjadi rancu, sehingga jikakita menyebut teater di Bali, pikiran kita tidak kepada drama gong.Orang awam yang tidak begitu peduli atau setengah peduli dengan senipertunjukan ini menyebutnya sandiwara.Apa pun disebut, teater atau sandiwara atau bahkan nama yang lebihbaru yakni seni kontemporer, semuanya tergolong teater.Apakah ''Badan Bahagia'' karya Cok Savitri dan Ida Ayu Wayan AryaSatyani sebuah seni tari kontemporer atau teater? Sulit untukdidefinisikan. Karya Putu Satria Kusuma bersama kelompok Kampung SeniBanyuning yang pernah dibawa ke Jakarta yang bertajuk ''Watugunung''tak bisa disebutkan drama gong, tetapi juga bukan tari kontemporer.Ini teater. Bahkan, pentas gambuh yang dibawa Yayasan Arti ke Jakartadengan lakon-lakon seperti ''Mahbeth'', oleh pengelola pertunjukan diJakarta tidak disebutkan pentas tari, apalagi tari klasik. Pementasanini disebut teater.Maka, kita di Bali kekurangan tokoh teater dan juga pejabat yangberminat pada teater. Kalau nama-nama seperti Abu Bakar, Wayan Dibia,Kadek Suardana ditambah nama-nama baru yang sangat potensial sepertiPutu Satria Kesuma dan Cok Savitri, tidak lagi kreatif dan tidakmembuat gebrakan apa-apa, maka kehidupan teater di Bali akan vakum.Jika mereka bergerak, kehidupan teater akan bangkit lagi.Begitu pula di kalangan pejabat. Dulu, di tahun 1970-an, Listibiya(Majelis Pertimbangan Pembinaan Kebudayaan) Bali punya seksi teateryang aktif, maka festival teater digelar sampai di kabupaten-kabupaten. Bahkan dibagi-bagi, ada teater anak-anak, remaja, danumum. Setelah Listibiya mandek, peran pada era berikutnya digantioleh munculnya dewan kesenian. Setelah dewan kesenian mati suriseperti halnya Listibiya, harapan kini ditumpukan kepada institusiresmi semacam Institut Seni Indonesia dan sanggar-sanggar sepertiYayasan Arti. Tentu harus ada lembaga yang memberikan prioritas untuktempat pergelaran, karena itu peran Taman Budaya sangat penting,karena lembaga ini yang punya panggung.Pertanyaannya, apakah teater itu penting? Bisa dikatakan tidakpenting, bisa pula sangat penting. Orang menyepelekan kegiatan teaterkarena melihat hasil akhir sebuah pementasan saja. Kalau pentas itumenghibur, mereka sebut teater penting. Tetapi kalau tidak menghiburdan membuat ruwet pikiran karena tak paham sejak awal sampai akhirpementasan, teater dikatakan tidak penting. Padahal, kepekaan hatiseseorang bisa diasah melalui tontonan teater. Hidup ini tidak harustertawa melulu, tetapi perlu melatih otak untuk berpikir. Banyakpertunjukan teater yang mengajak penontonnya untuk melatih otaksemacam itu.Adapun bagi pelaku, berlatih teater memberikan pendidikanmultidimensi. Ia bisa melatih kesabaran, disiplin, kepekaan, selainhal-hal yang berkaitan dengan pentas seperti penguasaan panggung,berhadapan dengan penonton, dan sebagainya. Belajar teater adalahkunci untuk kehidupan panggung. Coba tanya anak-anak Bali yang kinimenjajal kehidupan gemerlap panggung lewat kontes AFI seperti Sutha,Ari, Dewa, dan Arya di KDI. Mereka dilatih oleh pakar-pakar teateruntuk berolah gerak dan menguasai panggung sebelum ditampilkan dikontes yang disiarkan langsung televisi.Kalau kita tanya mereka, mereka menyebutkan latihan yang diterima diJakarta tak pernah dibayangkan sebelumnya di Bali. Mereka mengirahanya perlu berlatih suara, kan tujuannya hanya menjadi penyanyi.Ternyata mereka harus dilatih banyak hal, bagaimana melangkahkan kakidi tangga, bagaimana memegang mike, intonasi suara tatkala tidakmenyanyi dan latihan bahasa tubuh lainnya yang ruwet. Semua iniadalah pelajaran elementer dalam teater.Karena itu, kalau betul teater di Bali bangkit lagi, baik lewatpentas seni yang disebut kontemporer maupun nyata-nyata disebutpentas teater, ini menggembirakan karena Bali tak boleh tertinggaldalam seni pertunjukan di tingkat nasional. Yang perlu dilakukan saatini adalah lebih banyak lagi kelahirkan tokoh-tokoh teater yang lebihmuda.
(Bali Post Review/Putu Setia)

Siapa Bapak Teater?


Dulu pernah dalam sebuah perbincangan angkringan di salah satu sudut kota Jogja suatu malam, saya bersama rekan-rekan mencoba mencarijawab atas pertanyaan nakal. "Kalau Palang Merah punya bapak namanyaHenry Dunant serta Gerakan Pramuka punya Lord Badden Powell. Kira-kira Dunia Teater siapa ya 'bapak'nya?"Tanpa bermaksud mengecilkan peran tokoh-tokoh yang lain,Drama Realistak mungkin menghilangkan peran yang terlanjur ditanamkan olehpeletak dasar akting didalam teater modern yang pengaruhnyapun terasasampai hari ini.Bahkan sejarah perfilman di Hollywood sendiri tak pernah bisamengenyahkan dari ingatan akan nama-nama besar seperti Marlon Brando,Robert De Niro, Dustin Hofman serta Al Pacino maupun banyak yanglainnya. Yang kesemuanya pernah merasakan sentuhan pola latihan "TheMethod"Pun juga buku yang pernah dijadikan rujukan internasional dalam duniaseni peran seperti "Acting Is Believing" juga tak bisa disterilkandari pemikiran pria kelahiran Moskwa satu itu.Siapakah Konstantin Stanislavsky itu? mari kita simak tulisan yangsengaja saya kutip utuh dari versi bahasa inggrisnya ini. Sebetulnyasaya pengen mengutip langsung dari versi bahasa Rusia, tapi nalurikekhawatiran saya mengatakan,"Slow wae Nis, tidak semua orang pahamdengan Bahasa Rusia". Memang agak susah dipahami, sebagaimana halnyakadang bagi banyak orang catur stanispun susah dipahami, hahaha.Wis lah daripada lebih panjang pengantarnya, silahkan menikmati...

Born in Moscow in 1863, Constantin Sergeyevich Stanislavsky had amore profound effect on the process of acting than anyone else in thetwentieth century. At age 14, Stanislavsky joined a theatrical grouporganized by his family, and soon became its central figure.Throughout the late 1800s he improved as an actor and began toproduce and direct plays. It was his assertion that if the theaterwas going to be meaningful it needed to move beyond the externalrepresentation that acting had primarily been. Over forty years hecreated an approach that forefronted the psychological and emotionalaspects of acting. The Stanislavsky System, or "the method," as ithas become known, held that an actor's main responsibility was to bebelieved (rather than recognized or understood).To reach this "believable truth", Stanislavsky first employed methodssuch as "emotional memory." To prepare for a role that involves fear,the actor must remember something frightening, and attempt to act thepart in the emotional space of that fear they once felt. Stanislavskybelieved that an actor needed to take his or her own personality ontothe stage when they began to play a character. This was a clear breakfrom previous modes of acting that held that the actor's job was tobecome the character and leave their own emotions behind. LaterStanislavsky concerned himself with the creation of physical entriesinto these emotional states, believing that the repetition of certainacts and exercises could bridge the gap between life on and off thestage.In his travels throughout the world with the Moscow Arts Theater,Stanislovsky earned international acclaim as an actor, director, andcoach. Among his collaborators were the writers Tolstoy and Chekov.While Stanislavsky's new method of acting supported actors inbreaking from the exact lines and actions of the script, it alsodemanded that they pay closer attention to the important unsaidmessages within the writing. This prompted writers such as Chekov tomake subtler emotionally alive work.Today in the United States, Stanislavsky's theories are the primarysource of study for many actors. Among the many great actors andteachers to use his work are Stella Adler, Marlon Brando, SanfordMeisner, Lee Strasberg, Harold Clurman, and Gregory Peck. Many of these artists have continued experimentation with Stanislavsky'sideas. Among the best known of these proponents is the Actor'sStudio, an organization that has been home to some of the mosttalented and successful actors of our time.
Sampai disini, saya kira tidak terlalu sembrono kalau saya menyebut Stanislavsky adalah peletak dasar Akting Realis. Anda boleh tidak setuju...dan mari kita perbincangkan hal ini sembari menyeruput kopi dan ngemil. hehehe. Meski kata teman saya yang jadi imam langgar, "Boleh jadi Stanislavsky memang salah satu bapak teater tapi aktor pertama di dunia pasti Nabi Adam hahahaha!"

Fakta Yang Agak aneh adalah sebuah kebetulan:
1888, Konstantin Stanislavsky mendirikan Society Of Literature and Art dimana seratus tahun kemudian ditahun 1988, Catur Stanis masuk Jurusan Teater ISI Yogya
1898, Konstantin Stanislavsky mendirikan Moscow Art Theatre seabad berselang di tahun 1998, Catur Stanis mendirikan CS HOT (catur stanis house of theatre)

Bisa jadi kedua fakta diatas, menunjukkan bahwa guyonan Dewo Hadiningrat senior Stanis di Jurusan teater waktu itu tidak mainmain memberikan anugerah julukan Stanis padanya saat malammalam mencekam penuh canda di Gempol Forum waktu itu.

Teater di Jogja mencoba menggeliat ditengah himpitan Mall

Pembangunan yang tanpa ampun bagai tak menyisakan ruang gerak bagipertumbuhan kesenian di Jogja, sempat membuat saya nyaris putus asa dan memaksa harus kembali ke Jogja. Namun setelah beberapa saat sempat menyaksikan beberapa pementasan teater dalam rangka study pentas oleh beberapa Teater Berbasis Kampus di Jogja, ada sedikit kelegaan meski tak bisa juga menepiskan beberapa kecemasan.Lega karena ternyata teater di Jogja tak begitu mati sekali namun juga cemas karena tak kunjung ditemukan pertunjukan yang bermutu.Semangat yang berkobar dikalangan penggiat teater kampus sayangnyatak diimbangi dengan kapasitas teknis yang memadai.Beberapa yang sempat tercatat, menunjukkan kurang dimilikinya tradisi menganalisis lakon sebelum di pentaskan. Beberapa komunitas teater cenderung untuk terjebak pada "euforia realis", yang akhir-akhir ini bagai menggejala untuk berkelindan didalam pusaran yang itu-itu saja.Tanpa upaya kreatif untuk mendedah naskah menjadi serpihan yang mampu merangsang penikmat maupun para pelaku seni teater sendiri,agar lebih cerdas mensikapi situasi.Ada memang keberanian untuk mementaskan naskah sendiri, namun sayangnya kurang dimiliki kesanggupan untuk mengolahnya menjadi asyik. Baik secara teknis maupun non teknis.Sayangnya saya bukan pengamat teater. Saya hanyalah pencatat yang berkesempatan untuk menyaksikan sedikit tontonan dipanggung teater sekitar maret-april di Jogja ini.Melalui tulisan ini, saya mengajak Anda semua untuk terlibat lebih dan bukan sekadar sebagai penikmat seperti saya. Monggo silahkan wahai para pengamat teater, teater di Jogja butuh infus semangat dan dorongan untuk maju.Terimakasih buat generasi muda teater kota Jogja. Apapun hasilnya,anda semua tengah berproses ditengah situasi diluar diri anda yang bukan saja tidak kondusif namun juga sekaligus tidak berpihak pada upaya kalian untuk tetap bergerak.Sekali lagi roda sudah digerakkan, pantang untuk diundurkan kembali.Maju Terus Teater di Jogja, katakan pada siapapun saja, bahwa kalian masih ada dan tetap mencoba untuk bertahan, sekalipun kompetitor diluar panggung teater semakin garang dan pongah.

Potret Teater Kampus Awal 90an

MALAM TAMAN SARI
(Suminto A Sayuti)
Penjaga malam itu datang tatkala rembulan jatuh di pundak tembok temu gelang.
Aku pun bergegas masuk ke dalam mata cincin di jari manismu, nimas.
Orang-orang pun ribut"Maling sakti, maling sakti, di mana engkau sembunyi."
Keraguan muncul menyelimuti kalbumu."
Lepas dan berikan buat tumbal-pageblug negeri.
Pipi ini lebih nikmat dielus telanjang jari.
"Aku pun bergegas sembunyi di ikat sanggul rambutmu.
Engkau pun berbisik,"Maling hati, maling hati,kepadamu selamanya akubakalan mengabdi."
Lalu sepi
Penjaga malam itu pergi tatkala rembulan jatuh di pundak tembok temugelang.
Aku pun bergegas keluar dari persembunyian.
"Surtikanti, Surtikanti, lelaki sejati tak pernah cidra ing janji."
Lalu sepi
Pakembinagun, l989
Awal 90an teater kampus di Yogyakarta sedang marak-maraknya. Ibarat musim semi yang penuh bunga dimana-mana. Sebut saja Teater Eska IAIN Sunan Kalijaga, Teater Unstrat IKIP Yogyakarta, Sanggar Salahudin UGM Yogyakarta, belum lagi teater-teater gabungan antar universitas seperti Teater Jiwa, Teater Titian dan Teater Burdah. Yang akan saya sajikan disini adalah pengalaman menelusuri sudut2 malam Yogya sebagai bagian dari kehidupan berteater.Pada masa itu, masing-masing teater seolah-olah berlomba untuk tampil di gedung-gedung pertunjukan baik di Yogya maupun diluar Yogya. Studi Pentas di (Jurusan Teater,CS) ISI pun ramai melibatkan pemain dari berbagai kampus lengkap dengan sponsor2nya. Proses pertunjukan drama atau kesenian lain, seperti tadarus puisi, ketoprak, pantomim memang mengasyikkan.Dari team produksi yang mengurusi administrasi pertunjukan yg meliputi konsumsi sampai penjualan tiket, sampai team artistik yang mengurusi kasting pemain sampai penyutradaraan harus bersatu padu demi berhasilnya sebuah pertunjukan teater.Kalau saya boleh memberikan gambaran tentang proses tersebut dari sisi artistik kurang lebih adalah: diskusi naskah, penentuan naskah,penentuan sutradara, kasting pemain, diskusi naskah antar pemain dan sutradara, reading, blocking, penentuan kostum,make up, properti dan setting, pengenalan panggung, Lighting, General Repetisi dan pentas.Sedang Proses produksi kurang lebih meliputi, pembentukan panitya,pembuatan proposal, pencarian sponsor, promosi,konsumsi dan akomodasi, sewa gedung, ijin pentas, pembuatan tiket dan penjualannya,Hari H pelaksanaannya.Proses latihan untuk pementasan yang memakan waktu minimal tiga bulan ini banyak menimbulkan suka duka, kadang memancing amarah, menuai tawa bahkan sering terjadi cinta lokasi.Gedung Seni Sono lengkap dengan angkringan yang terletak di pojokbarat jalan Malioboro ini merupakan saksi bisu para senimanberproses. Hampir semua pertunjukan teater yang saya ikuti,menggunakan Gedung "Seni Sono" sebagai tempat latihan. Berteriak-teriak untuk latihan vokal, berguling dan bergoyang-goyang untuk latihan olah tubuh, memonyongkan bibir untuk memperjelas artikulasi,menahan rasa malu dan marah karena dibentak-bentak sang sutradara,dan duduk lesehan tanpa tikar untuk menghabiskan nasi kucing dengan gorengan tempenya sebagai pelepas lapar serta meneguk air putih atau teh langsung dari plastik sebagai pelepas rasa dahaga.Ketika malam sudah menggapai pagi, latihan dihentikan untukdilanjutkan malam berikutnya. Jika beruntung, Cak Nun, sebutan untukEmha Ainun Najib, kebetulan datang menonton dan kita bisa nebeng mobilnya(Sampai sekarang akupun sering gitu kalo lagi bete, Stanis). Jika kurang beruntung, pemain-pemain perempuan akan diboncengkan sepeda motor untuk pulang ke kos2an masing2. Dan kita semua harus sabar karena hanya beberapa orang saja yang punya sepedamotor. kalau dirasa terlalu lama, maka kita akan beramai-ramai berjalan menyusuri malioboro dan jalan-jalan di Yogyakarta kembali ke kos masing-masing. Kos saya waktu itu ada di Sapen. Tetapi jarak SeniSono - Sapen selalu terasa menyenangkan untuk di tempuh karena kitabisa menikmati suasana malam Yogya yang tidak pernah mati itu sambil berpuisi.Begitulah malam-malam latihan terus berlalu. Berbagai pementasan yang lebih banyak rugi dari segi finansial itu tetap berjalan. Penonton bersorak sorai di panggung, nama2 pemain dan sutradara di tulis dikoran-koran mengusung "Lautan Jilbab" dan "Dajjal" ke Makassar dan TIM jakarta, membawa "perahu retak (santri-santri Khidhir) ke Surabaya, memamerkan "Burdah" ke Surakarta", menampilkan "KelurgaSakinah" dalam Rangka Muktamar Muhammadiyah Di Kridosono.Memamerkan "Wahsyi: pembunuh Singa Padang Pasir". "Monumen Keadilan"Di Purna Budaya dan "Thengul", "Rintrik" Di Aula IAIN Sunan Kalijaga serta "Santri-santri Khidhir" bersama Agung Waskito, Yudi Tajudin,Gutheng, Setheng,Whani Darmawan, Dewo PLO, Joko Kamto, Agus Noor danNevi Budianto. hai hai adakah awak2 teater tersebut membaca tulisan ini? Saya disini sangat merindukan kalian.Auditorium IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga), sebuah gedung yang terletak di atas sungai Gajah Wong ini, didalamya terletak kamar-kamar kecil tempat sanggar Pramuka, Teater Eska,Kelompok Musik Aljamiah berada, Juga merupakan tempat anak-anak teater berproses. Anak-anak teater yang tidak puas dengan ruangan kecil itu, mulai menyekat ruangan yang lebih luas, mengusung kasur,TV, kompor dan buku2. Jadilah tempat tinggal beberapa manusia teater dengan segala lika likunya yang kreatif.lengkap dengan langganan penjual es jamu dan warung akringan tempat anak-anak muda ini kelaparan.bila malam menjelang, segala aktivitas di ruangan dan halaman auditorium dari menyanyi, berpuisi sampai berdebat. Terbentuklah Studi Apresiasi Sastra dibidani Ahmad Syubanuddin Alwi. Lahirlah penyair besar2 seperti Hamdi Salad, Mathori A elwa, Abidah elKhaliqi, Ulfatin CH, Aly D Musyrifa, Otto Sukatno CR dan Huda Elmatsani. beberapa antologi puisi pun bermunculan diantaranya"Sangkakala", "Aurora Cinta" dan "Sang Maha Syahwat".Pada perjalanan berikutnya tidak hanya mahasiswa IAIN saja yang berkumpul disitu. Beberapa Seniman besar ikut duduk disitu, merokok,makan nasi sebungkus rame-rame, ngeteh dan melakukan pengadilanpuisi. Munculah Pak PROF DR Suminto Ahmad Sayuti (sekarang Dekan FBS UNY), DR Faruk HT (Guru Besar UGM), Iman Budi Santosa, Joni AryaDinata, Adi Wicaksono, Ahmadun Yosi Herfanda, Afnan Malay sangpenyair sekaligus Demonstran, dan Emha Ainun Najib.Pesta-pesta sastra ada dimana-mana dari tadarus Puisi ketika ramadhan tiba sampai pembacaan puisi pesta kembang api puisi. Menu makanan pada saat "pesta2" itu berupa nasi padang tetapi bisa berupa nasi kucing angkringan dengan gorengannya.Ada satu lagi tradisi di Auditorium teater Eska ini yaitu tradisi malam tahun baru.Ketika malam tahun baru tiba, anggota teater EsKA berkumpul dihalaman Auditorium. Lucunya semua alumni dan orang-orang yang merasa dekat dengan teater ESKA biasanya juga datang tanpa di undang tertulis, pada ikutan ngumpul membawa anak, isteri/suaminya. Rame-rame membikin panggung, menyanyi, main musik,berpuisi dan berimprovisasi di Panggung itu serta nonton TV setelah acara pentas selesai. Mereka, tidak laki-laki tidak perempuan, mahasiswa, alumni atau yang sudah menjadi dosen, penulis, wartawan, pengacara, juga akan beramai-ramai "bantingan", istilah keren iuran di tempat, untuk menanak nasi, merebus air untuk bikin teh dan kopi, menggoreng leledan tempe, mengulek sambal terasi dan makan bersama-sama diatas daun pisang hasil memetik pohon pisang di perumahan dosen. Sungguh keakraban khas Yogya yang tidak pernah saya dapatkan dimana-mana.kalau tahun baru tiba nanti, maukah kalian melewati jalan Adisucipto,kemudian berhenti sejenak di Pelataran Auditorium IAIN Sunan Kalijaga untuk menceritakan kepada saya apa yang terjadi disana? masihkahtradisi itu ada? saya ingin sekali mengetahuinya.
[pulang ngangkring jam 01:33 AM, February 1, 2005]
::ini adalah tulisan yang pernah di posting di ngobrolin teater, 1 Februari 2005, by Labibah mantan anggota Teater Eska yang kini berjuang menyelesaikan S3 nya di Kanada::

Thursday, July 26, 2007

Menjahit (kembali) Yang (sempat) Robek

Sebetulnya bukan bermaksud kurang ajar kalau aku ikutan bicara melalui media ini, tentang “heboh” sastra FKY XIX 2007. sengaja heboh disini kuberi tanda kutip, karena sampai detik kutuliskan ini, aku masih saja percaya, sebetulnya peristiwa sastra FKY tak harus menjadi se complicated ini, seandainya semua pihak yang seolah berbeda aras pemahaman menyadari betapa pentingnya mekanisme dialog alias kultur rembug, yang semestinya bisa menjadi katup pelepas kesumpegan apabila terjadi komunikasi yang sendat dari warganya. Bukankah paseduluran (persaudaraan dan kekeluargaan) terasa lebih nikmat dari pada sekadar pemberhalaan ego serta pengedepanan vested interest. Sekali lagi maafkan kenakalan saya ini.
Saya memang bukan siapasiapa, dan tidak pernah sedetikpun bermimpi untuk menjadi apaapa. Saya yang sebetulnya bukan warga sastra, karena saya lebih afdol ketika bergaul di wilayah teater.(hanya saja karena teater bukan lagi sesuatu yang menarik untuk di FKYkan, maka saya memilih untuk jalanjalan dari kota kedesa kembali ke kota lagi di seantero nusantara)
Dan ini adalah bentuk keperihatinan saya dalam formatnya yang lain. Prihatin, Perih di Bathin, kurang lebih begitu saya memaknainya. Perih menyaksikan saudara-saudara saya di sastra terutama dalam konteks FKY ini begitu meributkan satu hal yang sebetulnya sangat bisa diselesaikan dengan cara yang lebih bermartabat. Semisal dengan Rembug, seperti diawal tulisan ini tadi telah coba saya kemukakan.
Kalau saya boleh berandaiandai untuk melipat waktu sebelum kejadian, tentu tak perlu ada konflik yang sesungguhnya tak perlu ada itu. Kalau saja divisi sastra FKY waktu itu mau mengadakan pertemuan sebelum memutuskan untuk memilih siapa yang berhak tampil di acara FKY, tentunya tak perlu ada gejolak, yang sedikit banyak lumayan membuat jantung kita sebagai penonton jadi kebat-kebit karenanya. Kalau saja dan kalau saja. Karena segalanya telah terjadi. Tinggal bagaimana sekarang langkah kita bersama untuk menjahit kembali sesuatu yang telah terkoyak itu. Bagaimanapun juga saya lebih percaya pada kearifan kita untuk menyikapi ini semua.
Dan inilah indahnya dinamika pergaulan Jogja. Sesakit apapun, permaafan selalu menjadi pintu pembuka bagi setiap nikmatnya silaturahmi. Mari kita rentangkan tangan, duduk bersama dalam satu tikar dilantai diskusi, seminar, lokakarya maupun omong-omong. Sebab semoga saja matahari esok pagi tetap bersinar menghiasi hari. Seyogyanya ada semacam lembaga ataupun person yang mau untuk menjadi media terjadinya ishlah bagi retak yang sempat ada ini. Bisa jadi lembaga semacam Taman Budaya atau Dinas Kebudayaan bisa lebih sigap lagi untuk merangkul kembali anakanaknya yang tengah dilanda kekisruhan itu. Semoga saja.
Maka kalaupun toh ini hanya sekadar menjadi sebuah impian, biarkan saja. Setidaknya ia pernah ada.

Wednesday, July 18, 2007

Sang Hyang Singha Parasu Deva

Tentang Siapa Saya...Selepas menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah menengah di kota yang konon memiliki tradisi adiluhung dalam kesenian, Polan yang tengah memasuki usia remaja tertarik pada teater. Satu hal yang sangat biasa mengingat kondisi Jogja waktu itu memang pantas disebut sebagai surganya pertumbuhan teater. Jogja dan teater seakan tak terpisahkan...beberapa nama yang sempat mencuat di kasta perteateran nasionalpun pernah tumbuh dan sempat besar di kotanya. Seperti Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer bahkan Teguh Karya (Yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai pendekar sinema kita) pernah juga menghirup udara bau tai kuda (kalo kita lewat stasiun Tugu Jogja) Bahkan katanya aroma spesifik yang satu itu bisa jadi semacam penanda bagi para penumpang kereta api yang tengah melintas kota Jogja. Saya tidak begitu pasti apakah Perumka masih mempertahankan aroma khas itu atau menggantinya dengan "brand image" yang lain.
Polan seperti remaja yang lainpun mengalami semacam rasa puber tertentu kepada makhluk yang bernama Teater ini. Bisa jadi inilah bibit awal kecintaannya pada teater. Namun kalo kita runut kebelakang lagi, sebenarnya perkenalan pertama Polan pada teater justru saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar saat menyaksikan beberapa kakak Eks Bengkel Teater (yang memilih bertahan di Jogja) latihan di daerah Ketanggungan Jogja. Sementara Polan tinggal di Ngampilan tak jauh dari Ketanggungan. Saat itu di benak Polan yang belia tak pernah sedikitpun terbersit bayangan andai satu ketika ia justru menjadi sangat terlibat dalam serta merasuk jauh kedalam kubangan sumur tanpa dasar (meminjam istilah om Arifien) yang bertitel TEATER. Dalam benaknya yang belum begitu rimbun dengan istilah-istilah dramaturgi, Polan sekadar menikmati dan hanya menikmati geliat nikmat kakak-kakaknya di Bengkel maupun setelah itu Arisan Teater yang di back up oleh Himpunan Teater Yogyakarta.
Art Gallery Senisono disebelah selatan Gedung Agung seberang Beteng Vredeburg, serta Gedung PPBI di jalan (sekarang) Ibu Ruswo, adalah tempat dimana Polan menyaksikan bergulirnya beberapa peristiwa Teater. Kelebatan nama-nama kelompok Teater seperti; Dinasti (Fajar Suharno dkk), Alam (Azwar AN dkk), Stemka (Landung Simatupang;Hasmi dkk), Poladaya (Yoyok Aryo dkk), Muslim (Pedro Sudjono dkk), Ramadha (Brisman HS dkk),Kronis (Aziz Sumarlo dkk),Starka (Jasso Winarto dkk), Arena (Fred Wibowo dkk), Eska (Hamdy, Ali, Oto dkk), Pusaka (Arifin Brandan, Bambang Darto dkk), Shima (Puntung CM Pudjadi dkk), TGM (Heru Sembawa dkk), Ewer-ewer (Wahyono Giri MC dkk), Gedek (Suwarto Peyot dkk), Jeprik (Noor WA dkk), Gandrik (Butet dkk), serta masih banyak lagi yang tumbuh dan berkembang paska keberadaan Bengkel Teater setelah hijrahnya ke Jakarta dan lantas kemudian Depok itu. Belum lagi teater anak-anak seperti Teratai,Kancil dan lainnya mengukuhkan predikat Jogja sebagai “Kota Teater”. Semasa SMA itulah Polan sempat mengikuti proses produksi Teater Klithik yang pentas di Art Gallery Senisono. (Bisa jadi inilah pentas pertama dan terakhirnya di gedung yang pada era 90an sempat jadi kontroversi sebelum pembongkarannya)__Bahkan diam-diam Polan sempat menitikkan air mata dukanya saat Senisono pada akhirnya harus dirobohkan.
Dalam kesendiriannya sewaktu bergulat di wilayah estetika yang bernama Teater di salah satu Perguruan Tinggi Seni di kota Gudeg, yang sebelumnya konon sempat pula diramaikan oleh perdebatan panjang nan tak berujung dengan pembina teaternya di Klithik, Cornellius Sumedi di pinggir Kali Winongo, saat itulah Polan menemukan semacam gairah bercinta luar biasa dengan teater. Meski pada saat yang sama, keluarganya menyangka Polan telah terbius dan terbuai oleh virus teater yang diam-diam telah menjangkiti sanubarinya. Polan hampir saja tak bisa dipisahkan dengan teater. Lebih-lebih saat ia memilih untuk meninggalkan dunia asmaranya serta lebih memilih Teater sebagai kekasihnya luar-dalam. Seperti sepenggal catatan hariannya yang sempat terpublikasikan,
Dia yang seperti Resi Bisma
Terluka hatinya
Kerana cinta yang tak bergema
Ia bilang: "Telah kutimbun rasa cinta itu
sedalamdalamnya selamalamanya
sampai maut menjemput
Dan alam bangka terpampang
Di depan mata”
Memang terdengar sangat remaja, karena itu ditulisnya saat ia lagi gandrung-gandrungnya dengan Si Jelita yang bernama DRAMA. Saking dramatisnya adegan percintaannya dengan Teater, ia tuliskan besar-besar di tembok kamarnya, "TEATER IS ALL" penuh kegagahan sekaligus nampak lucu. Yang rada mengkhawatirkan ketika ia sempat membaiat dirinya dengan kalimat, "I give my life to die in theatre forever"
Teater menjadi semacam agama bagi Polan. Orang tua serta kakak-kakaknya (karena kebetulan ia lahir sebagai anak bontot) bahkan makin asing bercampur ngeri melihat perilakunya. Polan seperti terjepit diantara dua gunung yang menyesakkan dadanya.
Sampai suatu ketika, Polan melakukan hal besar ketika memutuskan untuk menghentikan kuliahnya dan memilih untuk tak pernah menjadi apa-apa. Sebuah pilihan yang setara gendengnya dengan pilihan untuk melanjutkan kuliah di jurusan teater waktu itu. Sampai di titik adegan ini, Polan mengalami kompleksitas psikologis yang cukup serius.(bayangin aja seperti orang yang lagi jatuh cinta, lantas direnggut paksa begitu saja untuk berpisah)
Polan memulai fase baru sebagai orang asing bagi dirinya sendiri. Sebuah situasi yang cukup sulit untuk anak semanis dia (ha-ha-ha). Maka julukan "Setan Yang Manis" alias Stanis (dari versi yang lain tentunya) seperti yang sering diperagakan oleh senior-seniornya sewaktu kuliah dulu menjadi trade mark kemanapun dia melangkahkan kaki.
Polan tercenung merutuki nasibnya yang aneh dan membingungkan itu. Maka ia memilih Pantai Parang Kusumo di sebelah barat pantai Parang Tritis, serta Barat Ketiga dan Pasareyan Eyang Panembahan SelaNing sebagai oase penyembuh bagi kegersangan jiwanya. Namun cukup berhasilkah Polan menemukan dirinya kembali? Bukankah ia lebih percaya dan bahkan sangat yakin, jikalau tempat baginya untuk kembali hanyalah teater?
Karena ini bukan soal kuis,seperti yang banyak bertaburan di layar gelas maka pertanyaan diatas tidak usahlah terlalu disikapi dengan kerut kening maupun kernyit dahi. Cukuplah dengan sebuah dukungan agar ia bisa kembali ke kancah drama. Entah sebagai Aktor, Sutradara, Penulis Naskah maupun sebagai konglomerat (Kayaknya yang terakhir agak berat perwujudannya ya?) Yang paling konkret dan paling mungkin untuk di capai adalah sebagai penonton.(sesuatu yang pernah sangat menggelisahkannya dahulu). Karena ini pun juga bukan sebuah biografi, maka merdeka saja untuk menyembunyikan namanya menjadi siapa saja. Atau sebut saja ia sebagai apa saja toh esensinya ada pada dirinya sendiri sebagai suatu unikum. Mau disebut Ki Ageng Pranadjiwa, Syaturi Al Menury, CN Graha, Remon Concat, maupun Catur Stanis pun sah-sah saja, ha-ha-ha.

Wednesday, June 15, 2005

Hai Ketemu Catur Stanis Lagi...

Selamat Datang di kediaman Maya Catur Stanis...Apa khabar dunia?