Monday, April 27, 2009
sekadar mencatat
Karma mulai gelisah, butir-butir keringat sebesar biji tasbih itu mewiridkan kecemasannya. Haruskah menyerah sampai disini? Mengakhiri permainan dengan kekalahan tak terampunkan. Suara detak jam disudut ruang itu melindapkan nyalinya. Tak ada suara apapun, kecuali dua ekor cicak yang tengah pacaran seperti mengejek nasibnya.
Degup jantung yang kian memburu serta detak waktu yang terus saja berlalu melagukan orkestrasi kematian bagi dirinya.sebentar-sebentar diliriknya Sudjana yang menghiasi air mukanya penuh senyum kemenangan. Masih saja tak terdengar bunyi apapun. Kebekuan menyergap seisi ruangan. Terutama bagi Karma yang tertunduk lesu mati kutu.
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Alam disekitar Karma seakan berputar balik. Serupa permainan kuda-kudaan di pasar malam dalam mimpi kanak-kanaknya. Kuda-kuda itu terlihat lucu dan menggemaskan tak segarang kuda dalam genggaman tangan Sudjana yang kini tengah mengancam bukan saja posisi pun juga nyawa Sang Baginda Raja. Tragisnya, kuda-kuda Karma sendiri mulai goyah membendung gempuran dari setiap lini. Berharap pada serdadu dalam situasi ini menjadi sia-sia. Tak ada yang mampu membebaskannya dalam situasi terjepit ini. Tak juga para menteri apalagi beteng Karma yang biasanya kokoh menjaga eksistensi kini pun nampak lowong tak berpenghuni. Sekali dorong bisa langsung doyong.
Dalam hitungan detik, begitu baginda raja mengumumkan penyerahan dirinya dalam dalam skaak yang sangat mat itu, Karmapun akan segera mengalami perubahan besar di dalam hidupnya. Senyum sinis Sudjana menebarkan ancaman. Sungguh pilihan yang teramat sulit ditanggungkan. Bahkan dulu prabu Yudhistira sulung para Pandawa itu itu tak pernah mengalami dilema serumit ini. Lantaran prabu Yudhistira hanya kalah dalam permainan dadu dan bukannya permainan catur yang ternyata lebih rumit dan penuh kejutan dari pada permainan dadu. Dan yang lebih sulit adalah pilihan akibat dari permainan itu sendiri. Kalau prabu Yudhistira dulu cukup dengan merelakan Drupadi dan terusir dari rumahnya di Indraprasta Regency, sementara Karma mesti menelan pilihan yang sakit untuk mengikhlaskan Warni istrinya yang dicintai dengan segenap rindu atau rela membiarkan anak gadisnya Wening jadi santapan Sudjana dan staf nya.
Pilihan yang teramat melelahkan. Bahkan teramat melelahkan hingga tak satupun pencatat kisah wayang menuliskannya dalam lontar waktu yang membelenggu.
Karma benar-benar sendirian. Ia iri hati setengah mati pada Yudhistira yang sempat mengusung penderitaan serupa ini bersama saudara-saudaranya sesama Gank Pandawa. Sementara dia mesti menelannya sendirian sepanjang jaman.
Warni melintas buat mengasong gelas-gelas kosong. Meja beku serupa perawan frigid yang tiada pernah tersulut simpul birahinya. Dingin menggigit tulang. Sepi, tak ada suara apa-apa. Kembali suara cicak cekikikan pacaran disudut ruang.
Sudjana menelan ludahnya dengan senyum kemenangan penuh gairah nakal. Karma menekuri nasibnya. Warni mendadak diam dan tak terjemahkan. Wening, anak gadisnya yang tertidur sejak sore tak akan pernah sesekali membayangkan bila saat bangun nanti akan disergap kumparan nasib yang membungkusnya dalam pengap yang teramat gelap.
Gempa di dada Karma tak terdeteksi skala richternya seakan meledak dan membuatnya jadi bubur basi di ujung pisau sepi.
Friday, December 12, 2008
Nonton Film Dokumenter
Beberapa testimony yang diungkap oleh perajurit yang rata-rata belia membukakan mataku, bahwa perang bukan sekadar persoalan picisan menang kalah pun juga bukan perkara remeh seperti menguasai dan dikuasai. Ada semacam kebanggaan dan rasa menjadi bagian dari yang mewarnai sejarah adalah perasaan lain yang muncul dibenak tentara remaja itu. Perjuangan mereka menaklukkan rasa ngeri saat berhadapan dengan moncong senjata lawan serta pacuan andrenalin yang gegap gempita saat peluru berseliweran diatas kepala mereka.
Bisa jadi aku tidak pernah mengalami peperangan seperti yang dialami oleh bapak maupun kakek buyutku dahulu saat mereka berjuang untuk menendang pantat Kolonial yang kurang ajar mengangkangi ibu kita yang pertiwi Indonesia. Namun yang kudengar dari cerita mereka yang mengalami maupun lewat pembacaan melalui wacana sejarah, perjuangan para orang tua kita dulu tak kalah heroiknya dengan yang kulihat di layar sosietet malam itu.
Sebuah ironi memang saat aku menyadari bahwa ruangan tempat aku nonton film tadi ternyata juga hasil produksi kolonial Belanda yang meninggalkan gedung semewah sosietet untuk memutar film yang menyalakan semangatku sebagai rakyat jelita di negerimu Indonesia. Bahkan aku sempat berandaiandai, kalau saja dulu kita tidak dijajah Belanda, belum tentu kita memiliki gedung seanggun sosietet ini. Tapi tentunya tak perlulah kita berpikir untuk dijajah lagi agar seenggaknya bisa membangun negeri ini menjadi kurang lebih setara dengan Eropa maupun Amerika sekalipun. Tapi kadang asyik juga mungkin kalau ada perang lagi, setidaknya bisa mengurangi jumlah pengangguran serta biar nampak ada kegiatan gitu lho.
Film yang juga sempat kutonton adalah Peace Mission karya Dorothea Wenner yang berdurasi sekitar 80 menit bikinan Jerman tahun 2008. Kalau hanya membayangkan judulnya kita bisa saja terkecoh. Film ini tidak menggambarkan sebuah misi perdamaian tertentu, namun sebuah rekaman perjalanan seorang pejuang sinema wanita dari Nigeria yang akrab dipanggil sebagai Peace. Nona Peace adalah putri dari pengusaha minyak berkebangsaan Nigeria, sebuah negeri di Afrika yang berpenduduk 50% Muslim dan 50% Katholik. Nah, Nona Peace ini punya misi untuk menjadikan industri perfilman di Nigeria (Nollywood) bisa sejajar dengan Hollywood (AS) maupun setidaknya Bollywood (India). Dengan jumlah produksi film mencapai 2000 judul pertahun disebuah Negara seperti Nigeria, tentunya bukan sesuatu yang mainmain bahkan boleh tuh disebut sebagai bukan main! Lantas dari mana mereka mendapatkan dana untuk memproduksi filmfilm sebanyak itu? Ternyata sebagian besar produksi film di Nigeria ditopang oleh industri minyak keluarganya mbak Piece tadi. Saya ikut berdoa, semoga Nollywood segera dikenal menyusul Bollywood dan Hollywood yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat dunia. Tentu saja dengan cara bukan hanya memperbanyak jumlah produksi filmnya tapi juga mesti menggeser mindset yang selama ini dipaksakan bangsa barat (lagilagi kolonial) dalam melihat Afrika. Perfilman Afrika harus menampilkan wajah Afrikanya sendiri dalam bahasa sinema, bukan sekadar wajah sinema barat dalam bahasa Afrika, nanti seperti tetangganya di Asia yang berjudul Indonesia itu lho, yang sampai hari ini belum menemukan wajah sinema Indonesia kecuali pemeran dan bahasanya namun pola ucap sinemanya selalu berwajah barat. Atau janganjangan negeri ini diamdiam sedang menyiapkan diri untuk jadi Dollywood? Kalau itu yang terjadi, no comment dech.
Hold Me Tight, Let Me Go karya Kim Longinotto dari United Kingdom yang berdurasi sekitar 100 menit produksi tahun 2007 ini menceritakan tentang rumah singgah bagi anak-anak dalam kondisi yang tidak biasa bernama Mulberry Bush di daerah Oxford. Berbentuk asrama dan dihuni oleh sekitar 40 anak yang tidak biasa karena mereka dikeluarkan dari sekolah, ngaco dirumah serta bermacam kenakalan anak-anak yang orangtuanya sendiri sudah angkat tangan. Disini kita bisa melihat betapa kesabaran ternyata menjadi kata kunci memahami perilaku yang tak biasa yang ditunjukkan oleh anak-anak yang agresif, destruktif serta hyperaktif itu. Sepertinya ujaran kesabaran itu ada batasnya tak berlaku dalam kamus hidup pengasuh asrama anak mbejijak di Inggris ini. Wajah letih mereka terhapus senyum bahagia saat mengantar anak-anak itu kembali ke keluarganya dalam kondisi wajar dan diterima kembali oleh masyarakat. Waw, kalau saja Lembaga Pemasyarakatan di negeri ini bisa mengadopsi metode mereka tentu penjara bukan lagi menjadi sekolah kriminal yang menghasilkan lulusan lebih lihai dan canggih dalam modus operandi tindak kejahatan pasti masyarakat akan hidup lebih nyaman dan pastinya saya tidak begitu sungkan lagi menyebut diri sebagai orang Indonesia.
Film lumayan menarik yang sempat kutonton adalah Mad About English karya Lian Pek dari Singapura yang berdurasi 82 menit produksi 2008. Film ini menggambarkan antusiasme masyarakat China menyambut Olimpiade Beijing dengan memperdalam penguasaan mereka terhadap bahasa Inggris untuk menyambut tamu-tamu dari banyak negara dengan bermacammacam bahasa yang datang ke China dalam rangka Olimpiade. Mau nggak mau seluruh lapisan masyarakat china dari Balita, remaja sampai tua bangka musti menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi yang dipahami oleh sebagian besar tamu Olimpiade. Bahkan seorang ahli grammar secara khusus berkeliling kota Beijing untuk menertibkan papan nama di wilayah publik yang nampak rancu. Sopir Taxi, pelayan restoran, serta siapapun yang berhubungan dengan orang lain berlombalomba menguasai bahasa Inggris. Beberapa guru bahasa Inggris khusus didatangkan dari Hongkong yang memang paling pengalaman dijajah Inggris. Poster Paman Mao yang nangkring di lapangan dekat Kota Terlarang (Forbiden City) seperti tersenyum sinis dan berkata,”owe bilang apa..bahasa kita (China tentu maksudnya) mustinya jadi bahasa nomel satu didunia..karena jumlah penduduk kita paling banyak di dunia, haiyyaaa..”
Film yang pengen kutonton tapi gak jadi karena tertahan di pabean adalah A Jihad For Love. Padahal film ini konon gak ada hubungannya dengan kekerasan atas nama perang suci seperti yang sering digambarkan oleh media barat pada umumnya Barangkali negeri ini kelewat “jihadophobia” tanpa sungguhsungguh mau mengerti apa sih sesungguhnya pengertian jihad itu. Jadi begitu mendengar kata jihad, stigma yang muncul adalah kekerasan. Inilah mindset salah kaprah yang mustinya harus segera di up grade kalo mau maju sebagai bangsa. Itu kalo mau, kalo ngga ya silahkan saja teruskan kekonyolanmu.
Hanya ini yang bisa kulakukan, kapankapan kita lanjutkan lagi catatan perjalanan CS berikutnya dilain kesempatan dan peristiwa…Salam.
Friday, September 26, 2008
Risalah Risau (edisi lanjutan)
Pelajaran Moral Dari Komik
Ada yang menarik setelah aku nonton X MEN 3, The Final Stand. Sesuatu yang kudapatkan dari film yang diangkat dari komik terbitan Marvel ini ialah, betapa dimensi cinta menjadi Nampak begitu luar biasa. Kekuatan Cinta, aku membahasakannya demikian, ternyata mampu mengontrol ketidakseimbangan emosi pada diri Jean (Mutant dengan kekuatan tingkat 5, tertinggi di komunitasnya bahkan melampaui Charles Xavier maupun Eric Sang Magneto). Kenapa Jean jadi Nampak istimewa, tentu disamping mutasi bawah sadarnya yang sulit ditengarai, juga adalah refleksi kesepiannya yang begitu mencekam. Sebagaimana halnya Marie si Rogue, dalam keterbatasan kelebihannya, lebih sering didera kesakitan akibat kesepian. Rogue sulit berhubungan dengan orang lain justru karena kelebihan mutasinya. Sebagai gadis yang sedang memasuki masa puber, tentu saja Rogue pengen juga ngerasain gimana sih ciuman, sentuhan serta aktivitas romantic yang sewajarnya dinikmati oleh remaja seusianya. Hal inilah kemudian yang membuat Rogue seperti menemukan harapan setelah Worthing mengumumkan penemuannya. Lantas bagaimana dengan kaum mutant sendiri menyikapi hasil temuan Worthing. Rupanya mereka terbelah pada dua opsi (penolakan dan penerimaan) sesuatu yang sangatlah wajar dalam kehidupan.
Bagaimana kemudian ternyata Cinta menjadi obat yang lebih mujarab dari temuan manusia hasil kecanggihan teknologi sepanjang masa. Sebab cinta memang tidak bisa di produksi melalui sekadar kekuasaan ilmu pengetahuan. Ia (Cinta) hadir meruang memenuhi semesta merasuk kedalam sanubari siapapun saja yang dikehendaki. Lihatlah Jean, karena ketidakmampuannya dalam mengelola kekuatan yang ada dalam diri sendiri, maka kekasihnya Scott harus rela untuk mati atau entahlah (karena sampai film usai, tak pernah ditemukan jasad Scott, kecuali kacamata merahnya yang tak pernah berpisah dari dirinya selama ini).
Hal pengelolaan atau system manajemen barangkali yang perlu di stabillo dari kasus yang satu per satu muncul melalui perantaraan tokoh-tokoh dalam film ini. Ingatlah Cinta, saat kau saksikan bagaimana Logan sang Wolverin 'menjinakkan' naluri buas yang muncul dan tak terkontrol oleh kesadaran Jean. Dan betapa akhirnya cintapun rupanya telah menunjukkan jalan pembebasan bagi Jean meski harus ditebus dengan maut.
Kadang saya berpikir, kalau sedemikian agungnya pesan moral yang disampaikan komik Amerika, yang tentunya juga telah dibaca oleh sekian juta anak Amerika serta anak-anak dibelahan dunia manapun, kenapa bisa lahir monster bertubuh presiden seperti George Bush? Apakah George Bush belia termasuk anak yang dilarang membaca komik oleh orang tuanya, lantaran sebagian besar orang tua di dunia ini menganggap komik sebagai bacaan yang tak berfaedah dan lebih memilihkan bacaan untuk anaknya dalam standard berfikir orang tua. Bisa jadi memang bacaan Bush saat itu mungkin buku-buku tebalnya Machiavelli 'Ilprincipe' atau seenggaknya 'Mein Kampfe'nya Adolf Hitler yang mewariskan spirit berkuasa tanpa mengindahkan etik moral.
Orang tua dinegeri ini harus mau mulai lagi belajar kembali untuk tidak gampang melakukan penistaan (baca:Pelarangan) terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui persis kelebihan dan kekurangannya agar anak-anak bangsa kita tidak lagi kerdil wawasan karena diamputasi kreativitasnya oleh sistem pendidikan yang bodoh serta kapasitas menyedihkan dari guru sekolah yang hanya bisa mengajar tapi kurang mampu mendidik.
Beruntunglah saya yang sedari masa kanak-kanak telah terbiasa melalap komik. Karena kebetulan di rumah saya dipakai untuk Taman Bacaan yang cukup legendaris di jamannya yaitu Taman Bacaan Triyoga, di daerah Ngampilan Yogyakarta. Tradisi membaca (bukan hanya komik) pun juga cerita silat model Kho Ping Hoo, Gan KL, OKT serta roman sejarah seperti SH Mintardja dan Herman Pratikto pun bahkan majalah popular bulanan Intisari serta yang lainnya. Untuk bagian adegan hidupku yang seperti ini, aku ucapkan terimakasih mendalam atas nama cinta kepada papa dan mama di surga. Karena lewat mereka dan juga kakak-kakakku yang pernah ada, saya belajar mencintai kehidupan ini. Sebab dalam hal memilih, aku lebih memilih untuk berpihak pada kehidupan. Meski sama-sama heroiknya, ketika kita menyaksikan orang sekarat menjelang maut maupun bayi lahir, aku kok lebih bahagia saat mendengarkan tangisan bayi daripada rintihan eksotis ketika ruh terpisah dari raga.
Maka kalau saja kita percaya, bahwa cinta bisa berbuat lebih maksimal lagi bagi hidup yang lebih baik. Kenapa tak juga sekalipun kau terima uluran tanganku yang terbuka menantikan kau hadir dipelukanku sebagai sepasang kekasih yang dirindukan rembulan saat purnama menghiasi langit dengan wajahnya yang berbinar. Ra, lebih dari apapun. Kita bisa mulai kapan saja. Aku menunggumu. Itu juga kalau masih ada sejumput percaya dalam bathinmu buat aku. Doakan agar aku tak lekas lelah menanti dirimu. Sampaikan salamku buat keluarga di rumah. Bagaimanapun bila saatnya tiba nanti, aku juga akan menjadi bagian dari mereka semua dan kaupun bagian dariku dan keluargaku. Semoga ada merger yang menarik dikemudian hari.
1). tulisan ini pernah juga di posting di Catur Stanis Page (http://caturstanis.multiply.com)
Teriring salam untuk Putra Mahardhika dan kawankawan di Wizard Magazine Jakarta
Orang Miskin Dilarang Bercinta
Membaca tulisan di dinding sel yang kutinggali saat ini, aku dikejutkan oleh sebuah tulisan yang berbunyi,"Orang Miskin Dilarang Bercinta". Semula aku nggak begitu serius memperhatikan tulisan itu, namun lama kelamaan bathinku semacam digedor oleh sejumput rasa penasaran yang aneh. Benarkah orang miskin dilarang bercinta. Atau sebegitu mahalnya harga cinta di era merebaknya kapitalisme ini. Atau jangan-jangan, cinta tengah di jadikan komoditi ekspor non migas setelah kita tak mampu lagi meyakinkan tuan pongah yang bernama Paman Sam untuk sekadar meluangkan senyumnya yang berupa goodwill serta bermacam konsesi bagi sebuah negeri yang kesanggupannya baru pada taraf mengekspor pasir untuk lantas kemudian di jejali sejumlah benda olahan dari pasir itu menjadi sebentuk barang konsumsi yang diburu setengah mati oleh para penghayat modernitas yang keblinger dan akhirnya jatuh ke dalam genggaman mulut manis Sang Tuan Tanah yang sebagian besar pendapatannya dari merentenkan kekuasaan yang berbau modal itu.
Sejak aku mengenal sepak terjangnya yang bermuka dua itu, aku jadi di hela sangsi akan kesungguhan perhatiaannya. Standar ganda yang diterapkannya sungguh bikin aku pengen muntah.(cuman sayang, tak ada material yang bisa aku muntahkan, lantaran perutku lebih banyak terisi angin dari pada sebongkah makanan misalnya. Maka kentut menjadi katup pelepas yang cukup melegakan ditengah situasi yang tidak bisa tidak merubah wajah dunia menjadi tak berkarakter. Sedari mula aku telah sadari. Bahwa tidaklah mudah dan sederhana menemukan Perawat Cinta itu.
Aku jadi ingat kisah seorang kawanku, yang tak mau lagi meneruskan kuliahnya lantaran ia tak begitu lagi percaya pada system pendidikan di negeri ini. Orangnya sebenarnya lumayan cerdas. Bahkan kalau hanya sekadar mencari posisi aman, menjadi dosenpun bukan perkara yang sulit untuknya. Cuma yang jadi masalah adalah karena dia sendiri telah menutup keinginannya untuk menyelesaikan perkuliahannya dijenjang pendidikan tinggi itu. Keluarganya sebetulnya tidak kurangkurang amat dalam memberikan perhatiannya. Keluarga mereka memang tidak seperti keluarga pada umumnya. Bahkan tingkat ketidak umuman nya sampai pada kondisi mendekati absurd. Meski juga seperti yang kubilang, tentu tidaklah begitu absurd-absurd amat.
Kebetulan kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Papanya yang pensiunan militer itu (purnawirawan kali yee!), di pekerjakan kembali, atau istilah kerennya di"karya"kan kembali disebuah institusi kenegaraan yang berjudul Sekretariat Negara, sementara Mama nya adalah pensiunan pegawai negeri di kantor Gubernuran, Kepatihan. Dari ilustrasi ini bisa dibayangkan, cukup aman sebetulnya posisi ekonomi kawanku itu. Apalagi posisi dia sebagai anak bungsu tentu mempermudahnya untuk mendapat akses kasih sayang serta cinta dari keluarga(cieee!) pendek kata dalam urusan bahagia, pasti dia tergolong pakarnya.
Lantas kemudian apa yang membuatnya galau sehingga sepertinya kehilangan rasa syukur nikmat yang mestinya bisa dia pelihara sampai hari kiamat. Ternyata urusan kasih sayang itu tak sesederhana dengan terpenuhinya segala materi duniawi. Sampai di bagian ini, aku sering menyesali, kenapa dia harus memakan buah sebelum waktunya tepat. Tepatnya dalam usia semuda itu dia telah mencoba untuk memasuki dunia orang tua semacam kasepuhan (dalam kejawen) serta Tasawuf (dalam islam). Maka jadilah ia sebagai orang tua dengan kostum anak muda bisa dibayangkan ngga sich, betapa ngga matchingnya.
Ditengah situasi yang membuat temanku itu Nampak aneh dimata teman-temannya rupanya diam-diam dia sedang merencanakan sesuatu untuk masa depan. Sampai-sampai kawan-kawan di kampusnya waktu itu menjulukinya sebagai perpustakaan berjalan (untuk mengimbangi penyebutan Apotik Keliling bagi para pengedar pil) tapi bahagiakah kawan kita itu dengan predikat-predikat yang disandangnya? Atau justru ia tengah bersembunyi berpayungkan kamuflase itu?
Mungkin lebih tepat kalau kita tanyakan langsung padanya kelak bila kalian menjumpainya. Beberapa kawan, sering menyesalkan keputusannya untuk meninggalkan kampus (padahal tinggal 22 SKS lagi dari 122 SKS yang telah ditempuhnya untuk 144 SKS yang semestinya diselesaikannya). Tanpa mengurangi rasa hormat bagi kecerdasan dan dedikasinya bagi teater, aku akan mengacungkan sepuluh jempol andai aku memilikinya.
Ada sementara orang, bahkan sempat melihatnya keluar masuk Sarkem (flower market, southern Tugu Railway Station) tempat mangkal penjual daging ons-onsan yang legendaris nan tak lekang oleh jaman itu. Apa yang dilakukannya didalam sana tentu hanya dia yang tahu. Apakah ia tengah melakukan observasi untuk naskah dramanya yang baru atau tengah meneliti jenis penyakit social lainnya. Atau bisa jadi ia tengah terobsesi untuk melakukan pengulangan adegan tertentu yang dirasa nikmat buatnya.
Yang membuat saya kadang miris sembari meringis ngeri adalah pembaiatan dirinya sebagai Homo Theatricus dengan sebuah ikrar," I give my live to die in the theatre forever". Meski kini kita lebih sering menyaksikannya sebagai penonton titer daripada pelaku. Meskipun dia juga cukup aktiv sebagai seorang moderator dari sebah milis tentang teater yang kalau nggak salah bernama Ngobrolin_Teater.
Sehari Sebelum Galungan
Hidup serupa tangan-tangan gaib yang melilitkan benang tak kasat mata ketubuh
kita dan lantas menggerakkannya semauNya.(Catur Stanis,2007)
Matahari masih saja nongol malu-malu, saat kau bangunkan aku sepagi shubuh itu. Perjalanan yang meletihkan serta suasana sejuk menjelang pagi itu membuatku nikmat untuk berguling-guling di ranjang mimpi. Sementara di dapur, nyonyamu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Aroma masakan menyengat membangunkan cacing-cacing di perutku. Aku beringsut bangun saat kau lempar seperangkat alat mandi menerpa tubuh dan mukaku.
"Hari ini adalah hari Penampahan," ujarmu singkat sembari menyiapkan bambu berhias janur (daun kelapa yang masih muda).
Aku lantas ingat, besok pagi adalah Upacara Peringatan Hari Raya Galungan, setelah kemarin aku turut menyaksikan pemotongan (untuk tidak menyebut sebagai pembunuhan) hewan sebagai lawar dan sesajen. Dan ini hari adalah kesempatan terakhir untuk memancang Penjor di sekitar pintu pagar rumah. Kadang pikiran nakalku berandai-andai, kalau saja kelak bambu khusus buat Penjor itu sudah langka dan sulit ditemukan lagi, akibat rakus manusia mengekploitasi alam serta meningkatnya kawasan hunian/pemukiman. Apa tidak mungkin, kelak pipa besi mengganti fungsi bambu, yang tentu saja akan berbeda muatan filosofisnya. Semoga saja yang berwenang di kementrian lingkungan hidup, segera melestarikan tanaman bambu tersebut, agar saudara-saudara kita umat Hindu, tak perlu kesulitan dalam menyelenggarakan upacara ritual yang menggunakan bambu sebagai salah satu property penyangganya.
Bahkan tadinya aku hampir saja mengira ini sekadar mimpi, saat terbangun dari lelap tidur tadi pagi. Karena yang ku ingat aku masih berada di Solo, setelah kemarin dulu,(25/6/2007) aku berangkat ke kota itu bersama kawan-kawan Sanggar Nuun, yang mengadakan pentas teater keliling di Solo-Salatiga-Semarang dan Jogja. Lantas sehari sesudahnya,(26/6/2007) Thendra yang di"kawal" Brekele, serta Indrian Koto serta Sukma dan temannya datang di acara Temu Penyair Mahasiswa Solo-Semarang-Purwokerto di Teater Arena TBS.
Aku tak habis pikir dengan perjalananku ini. Beberapa malam lalu aku masih terlihat sliwar-sliwer (lalu-lalang) di Jogja, tiga hari yang lalu aku berkeliaran di Solo. Dan sekarang karena kuasa SUPERVISOR AGUNGKU yang telah menggerakkan seseorang yang baik hati seperti Wayan Sapra yang sudi menerimaku menginap di pondoknya di Peliatan, beberapa kilometer dari Ubud yang tersohor itu. Kami bahkan sempat lewat bekas rumah yang dulu pernah di diami Blanco serta seorang perupa berkebangsaan Jerman yang sayang sekali ku lupa namanya, perupa dari Jerman itu konon ikut membidani lahirnya Tarian Cak/Ketjak yang ternama itu.
Jadilah pagi menjelang siang ini aku mandi di sungai yang jernih dengan bebatuan yang cukup besar. Sebuah lanskap alam yang luar biasa. Saat aku turun ke sungai untuk mandi, aku di sergap rasa malu yang luar biasa. Tanpa sadar aku segera menutupi bagian vitalku dengan kedua belah tanganku. Sesaat berendam dalam sejuk dingin air sungai yang mengalir jernih itu, kudengar beberapa perempuan desa berbisik agak keras kepada sesamanya,"Ternyata burung orang Jawa itu mirip senter ya…" Meledaklah ketawa di antara mereka, akupun melengos malu sembari membenamkan tubuhku di air. Namun aku cukup lega juga, karena mereka para gadis yang sempat melihat "burung"ku itu hanya memperhatikan bentuk burungku yang berbeda (karena punyaku di sunat, sedang kebanyakan lelaki disana nggak), sementara mereka tidak begitu mempersoalkan ukurannya.
Sambil menikmati aliran sejuk air alam itu, lamunanku melayang pada peristiwa heroik saat Ki Maya Denawa, seorang raja yang di kenal kejam dan bengis itu tersungkur roboh di tangan Dewa Wisnu dan Dewa Indra yang sakti dan bijaksana dalam sebuah pertempuran yang cukup seru. Peristiwa inilah yang kemudian di peringati sebagai Hari Raya Galungan, yang bisa juga dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma (perbuatan baik) melawan A-dharma (perbuatan jahat). Sedangkan Galungan sendiri berasal dari kata Gal dan Lungan. Gal berasal dari kata penggal atau panggul sedang lungan bisa juga diartikan sebagai patah atau patahan.
Ah, mungkin terlalu nyaman aku berendam di sungai ini hingga hampir saja aku lupa kalau sore ini aku harus segera berkemas meninggalkan Bali dan terbang kembali Jogja, (padahal aku pengen banget menikmati saat Kuningan di sepuluh hari kedepan, sambil juga menikmati suasana Tumpek Landep serta penghormatan bagi Dewi Saraswati dan yang lainnya). Untuk sebuah perhelatan Hari Minggu Yang Berteater dalam rangkaian acara pasar seni FKY XIX-2007, besok pada hari minggu tanggal 1 juli 2007, aku tinggalkan Bali untuk sementara, sampai saat waktu memungkinkanku kembali kesana lagi. Semoga saja.
Terimakasih Kesempatan!
Lantas Segalanya Berlalu...
Balik ke Jogja, disambut hujan yang aneh. dengan kereta Prameks yang interiornya mirip-mirip kereta di film My Sassy Girl, film korea yang bikin andes nangis (kau tau kini betapa cengengnya dia serta konyol tentunya)Ke FKY sebentar, ketemu Iwan dan Performance Clubnya, Cutter serta Buyung Mentari yang menyalamiku hangat setelah kita berpisah di Art Camp. Kudengar kabar Kang Wawan meninggal di Rumah Sakit di Jakarta setelah kelelahan dengan kanvasnya di Ancol. Kemarin bergelasgelas Ciu Bekonang menggelontor tenggorokanku lantas kini berliter La Pen memberondong lambungku...kapan lagi bisa kucecap setetes Arak Bali? (hehehe,ketawa yang perih) Minggu sore,meramaikan Story Tellingnya Hindra di Selasar Utara Beteng Vredeburg, bersama Umar dan yang lain. Ketemu Uung yang makin gimana gitu? Setelah Gintani menraktirku dengan es teh, rasa hauspun beranjak lalu. Ah, Aku merasakan, kini tulisanku jadi begitu kosong. Tanpa denyut, tak berdarah serta pucat pasi. Setelah segalanya berlalu sebaiknya kusudahi saja. Inilah Bunuh Diriku kemudian. Memilih untuk diam dengan segenap keutuhannya
Edited by Catur Stanis in Koto’s Room on 26 September 2008 at 00:04 WIB
Risalah Risau
Sekadar Catatan Tentang Temuan :
Malam yang ganjil usai berbuka puasa aku menemukan tulisantulisan lamaku yang dulu sempat nongkrong di blog Friendster seputar tahun 2007an atau 2007-2006 barangkali, entahlah. Aku senantiasa gagap mengingat tahuntahun lewat serta sering pula lupa mencatat. Ucapan terimakasih tentunya layak kusampaikan kepada Indrian Koto yang telah menyimpannya di komputer hingga bisa kupindai kembali serta kuhadirkan lagi lewat Blogspot ini.
Sekali lagi ini tulisan lama semoga masih layak di baca, terutama bagi yang belum sempat membacanya di Friendster, bagi yang sudah pernah itungitung semacam nostalgia, pendek kata selamat menikmati saja.
Kenapa akhirnya aku memilih Risalah Risau sebagai tajuk kompilasi tulisan ini, barangkali alasan sederhananya adalah “kerisauanlah yang menjadi picu pemantik nyala hasratku menorehkan catatan ini waktu itu”. Mungkin.
Kepada siapapun saja tentunya maklum kalau aku sekarang lebih sering terlihat berpacaran dengan SunYi meski dulu sekali pernah juga mencoba mendekati Ra dan May yang fenomenal itu, setidaknya fenomenal buat diriku,hehehe.
Okey dari pada ntar jadi lebih panjang pengantarnya dari pada yang diantar ada baiknya kusudahi cicitcuit ini, selebihnya selamat membaca sajalah…
Dear, Ra.
Dengerin lagunya White Lion yang bertajuk You're All I Need bareng Kangen-nya Dewa 19 sambil menghisap sebatang Dji Sam Soe ditemani seteguk kopi pahit. Aku jadi ingat Pub Ringan, ingat Jogja, ingat kawankawan yang terjebak di kenyamanan Jogja, ingat kamu. Ah, biadab betul kenangan itu. Yang membuatku mati kutu di tempat yang jauh ini. Di hamparan gedung bertingkat 231 lantai ini. Aku tak sungguh sungguh memimpikannya untuk ada di negeri kita Indonesia. Di tempat yang jauh dan tinggi ini aku melambaikan tanganku. Sia-sia. Sebab tak seorangpun yang kukenal dan mengenalku di tempat yang super asing ini. Aku sendiri tak benar mengerti, kenapa aku bisa berada di sini. Tempat yang dulu sesekali hanya bisa kubayangkan ataupun ku tonton di TV yang tak begitu jelas gambarnya di Pub, dulu sekali.
Kini dalam dekapan teknologi ultra modern, aku terdampar di sebuah tempat yang super canggih dalam balutan obat-obatan dari teknologi yang luar biasa sophisticated. Ah, kalau saja ini mimpi. Pasti aku ngga ingin bangun lagi. Serupa saat bertemu denganmu berabad yang lampau. Mungkin benar kata beberapa kawan, pertemuan kita hanyalah lintasan peristiwa. Mungkin pertemuan di Pub Ringan tertanggal 23 Januari 2007 silam, hanyalah pertemuan yang kesekian. Bukan pertama memang. Mungkin kita pernah ditemukan kelak di masa lampau. Di satu waktu yang tak terjemahkan. Di situasi yang membuat kita gagu dan buta untuk menyadari.
Ra, aku hanya bisa merasakannya. Tak kurang apalagi lebih. Sebab lebih dari yang terucapkan oleh setiap symbol, aku seperti mengenalmu jauh sebelum kita ketemu di malam biadab 23 Januari 2007 itu.
Ra, bisa saja kau mengira aku tengah merayumu dengan rayuan klise tentang sebuah dongeng yang dituturkan oleh para leluhur. Tidak Ra. Yakinlah aku tidak sedang ingin merayumu. Aku hanya tak ingin berbohong padamu. Aku hanya tak mau menipumu. Aku, hanya mau bilang padamu. Bahwa kita telah dipertemukan suatu waktu. Hanya Kau dan Aku tanpa yang lain. Ya, hanya ada kau dan aku Ra. Ah, kegilaan cap apalagi ini? Ditengah ketatnya dateline yang harus kupenuhi. Di situasi yang membuatku pengap oleh meeting demi meeting dengan banyak klien dari seluruh penjuru dunia. Di kepulan sergapan kesibukan yang menguntit siang malamku, selalu saja kamu datang diam-diam menyelinap untuk kemudian melempar seutas senyuman.
Ra, membaca senyummu dalam pejam bobokmu di sofa tempo hari. Aku merasakan surga dalam genggaman tanganku. Maaf kalau membuatmu kaget saat kau terbangun dan melihat aku duduk disisimu. Sungguh aku tak ingin membuatmu kaget. Aku hanya kangen setengah mati. Aku cukup menikmati nyenyak tidurmu waktu itu. Membayang Kamajaya menunggui Dewi Ratih yang lelap karena kelelahan sepulang dari acaranya di kampus. Whooooaaaahhh!!! Aku sudah gila rupanya.
Dan kegilaan termanis adalah ketika menjadi kekasih gelapmu. Gelap, lantaran kau tak sungguh mau tahu kalau aku mencintaimu.Sesekali dengerin aja lagunya White Lion diatas, kau akan tahu betapa dahsyat rasa sayangku padamu. Itu juga kalau elo mau kalau ngga, yo wis!
Pada Suatu Ketika
Duduk sendiri di bangku Plasa Sastra, aku dikejutkan oleh kedatangan Profesor
yang begitu tibatiba. Dan tibatiba saja tanpa memberiku kesempatan bernafas
sejenak dia telah melancarkan pukulannya bertubitubi.
"Kenapa kau tak menulis lagi Nis?"
"Masa itu sudah lewat Prof."
"Ah, masa. Kulihat tulisanmu akhirakhir ini banyak menghiasi Blog di FSmu."
"Itu sekadar pemanasan Prof, belum apaapa."
Profesor mengangkat alisnya dan memperbaiki posisi duduknya agak nyaman
bersandar di bangku panjang itu. Dua cangkir Coffee Late dengan taburan cokelat
diatasnya menerbitkan selera.
"Bagaimana dengan perjalananmu ke Bali kemarin?" pertanyaan yang begitu menohok
dan langsung menancap di bibir bathinku.
"Lumayan. Tapi terlalu singkat. Karena aku harus terbang lagi ke Jogja untuk
Minggu Yang Berteater".
"Sudah dengar soal "heboh sastra" seputar FKY?"
Aku purapura kaget dan mengangkat bahuku pelan sembari mukaku kusetel bloon.
"Ngga usah akting gitu. Aku tahu kamu memang aktor…"
"Pernah tepatnya. Itu dulu, dulu sekali. Sebelum segala sesuatunya berubah
begitu cepat."
"Kamu tidak siap dengan perubahan ya?"
"Siapa bilang!"
"Kamu sendiri. Tidak secara verbal memang. Tapi cukup menjelaskan."
Kali ini aku mengernyitkan dahiku sungguhan. Non akting, benerbener natural.
"Ngaku aja, kamu bingung to?"
Seperti biasa aku tersenyum dalam fase yang tak terjemahkan. Sesaat melintas
Fira. Melambaikan tangan sejenak dan lenyap ditelan dingin malam. Aku mulai
merapatkan jacketku. Hawa dingin yang menusuk mengebor bathinku yang tibatiba
kosong.
"Kenapa diam?"
"Ah, nggak."
"Oke, kita ganti topik aja kalau begitu."
Serasa aku seperti didepan ruang sidang dewan dosen. Ini bukan pendadaran
mestinya. Kecipak suara air kolam itu memudarkan kesunyian.
"Kenapa kau mesti berhenti?"
"Maaf, bukankah itu pertanyaan yang sama?" aku bertanya ragu.
Profesor tersenyum sambil memainkan kacamata minusnya.
"Tapi kau belum jawab pertanyaanku"
"Aku tidak pernah sungguhsungguh berhenti. Aku terus melakukannya Prof. hanya
saja indonesiamu ini tidak begitu sungguhsungguh menganggapku perlu ada."
Profesor terbatukbatuk dahsyat. Setelah agak reda batuknya ia meneruskan.
"Kenapa tidak kau mulai saja dengan melihat dengan cara yang berbeda?"
Aku diam tak mengerti.
"Kalau kau melalui pintu yang sama yang telah mengecewakanmu.kenapa tak kau coba
melewati pintu yang lain. Bukankah masih cukup banyak tersedia pintu. Dan kalau
memang tak lagi kau temukan pintu, kukira kau cukup cerdas untuk memasukinya
tanpa melalui pintu apapun. Bukankah itu kelebihanmu. Memilih jalan yang tak
banyak dilalui orang."
"Tapi,…" Aku ragu meneruskan.
Profesor terbahakbahak menyaksikan kegugupanku.
"Aktor Penyendiri Yang Lebih Menyukai Kesunyian. Sampai kapan kau akan
bertahan?"
Nona mendatangiku setelah berbasa yang cukup basi dengan Profesor. Sesaat
setelah professor berlalu.
"Kemana aja Mas?" rengeknya manja.
Kenapa dia? Kenapa bukan Ra. Padahal jauh diseberang bathinku yang berdebu oleh
lumut waktu, aku selalu berharap Ra datang menjengukku. Untuk sekadar menorehkan
senyuman yang mutlak bahasanya itu. Mendengar suara Ra saja, aku serasa jadi
astronot yang piknik ke bulan. Apalagi kalau aku tayangkan kembali lintasan
adegan waktu itu. Saat kami tertawa berkarungkarung di pojok warung sambil
menikmati buah Wani. Wow seolah surga dalam dekapan dech.
"Idih, ditanya kok diam aja sich. Kangen ama mbak Ira ya?"
"Lho kok tahu?"
"Emang kamu serius ama dia?" cocornya membesut ku kesudut.
"Kamu adalah orang yang kesekian milyar yang menanyakan hal itu. Emangnya kenapa
kalau aku serius? Itu kan urusanku. Kenapa juga kalian yang ribet."
"Ih, kok jadi sewot gitu sech?"
"Bukannya sewot, aku tuh cuman ngga abis ngerti. Apa sich yang membuat kalian
jadi heboh melihat hubungan kami. Mbok biasa aja. Kayak infotainment banget sich
elo."
"Tuh, kan marah kan…"
"Aku ngga marah sama kamu dan orang-orang sepertimu. Aku cuman ingin, semua
orang siapapun dia ngeliat ini sebagai sebuah kewajaran."
"Ngga takut kecewa?"
"Kupikir itu konsekwensi logis."
Aneh juga orangorangan ini. Kenapa mereka meributkan soal perkawinan. Padahal aku tidak pernah mengajak Ra menikah dalam waktu dekat ini. Aku hanya merasa menemukan teman yang asyik buat ngobrol. Pembunuh sepi yang cukup piawai. Aku memang tak pernah sembunyi mengaguminya. Tapi itu bukan alasan untuk memperistrinya kan. Dia merdeka dengan pilihannya. Toh terpautnya rasa dua hati tak harus diakhiri dengan pernikahan kan. Kalau kami enjoy begini, kenapa dunia jadi ngga begitu nyaman buat di huni?
Ah, kalian. Selalu saja melihat dari sisi keliatannya. Dan lebih cenderung menebalkan sisi perbedaan itu. Biarin aja berbeda, yang penting asyik. Ra, kau mesti jawab itu. Jangan diam aja donk. Mereka menyangka aku ingin mengawinimu padahal aku ingin menjadi kawanmu. Aku ngeri membayangkan kau menjauh dariku. Kembalilah seperti waktu itu.
Kalau boleh aku berterus terang, aku bahagia banget saat kau datang malam itu. Ra, maafkan kenaifanku. Maafkan bila yang terjadi membuatmu terluka. Kumohon jangan benci diriku karena cintaku. Ampuni diriku yang membebanimu dengan rasa rindu. Tetaplah seperti itu. Tetap menjadi kupukupu yang lucu. Aku akan kembali kesudut pilu muara sepi mendekap sunyi menggigit jari.
Sayang Ada Orang Lain
Telah lama tak kuterima lagi SanDek (pesan-pendek,kata lain untuk SMS yang kebaratbaratan itu), mungkin dia cukup sibuk buat merawat diri sampai lupa atau tepatnya melupakan yang ada disini. Ah, segera kutepis prasangka tak menentu ini. Aneh ngga sich, kalo lagi kangen bawaannya pengen ketemu terus. Padahal juga ntar kalo udah ketemu palingan juga cuman diem-dieman and saling curi-curi liat dari jarak yang cukup jauh tak tersentuh. Ada masa dimana aku gak bisa jauh darinya. Bawaannya pengen deket terus. Cuman asyiknya, kita berdua kan tergolong makhluk yang lumayan sibuk, makanya kita jadi jarang ketemu biar tetap berlangsung itu rindu.
Pernah sekali waktu kuragukan hubungan kami, dan aku mencoba mencari cem-ceman lain. Tapi herannya, semakin aku nyoba buat ngejauh, eh dianya malah makin getol aja nyamperin gue tiap waktu. Nggak malem, siang pokoknya kapan aja dan dimana aja dech. Seneng dech gue.(walo datengnya cuman lewat mimpi). Yang ngga mimpi adalah saat menemukan dia bobok di sofa pub satu ketika, dan aku menikmati pemandangan yang luar biasa dari pejam matanya. Meski Cuma bisa menciumi sepatu hitamnya, tapi cukuplah. Apalagi hubungan kami saat itu lagi benerbener berjarak.
Sesekali dateng "SanDek"nya yang ngasi tau dimana posisi dosky. Duh, serasa terbang dech gue. Abisnya lama banget ngga kedengeran kabar beritanye, tau-tau dah mo pamitan buat liburan pulang ke kampung halamannya, nyang di seberang pulau tu. Gue kan jadi gimana gitu.
$$$
Nyaris tak percaya, membaca ulang beberapa jajaran huruf yang membentuk kata dan terangkai menjadi kalimat serta sambung menyambung menjadi uantaian alinea diatas. Aku seperti dibawa ke masa silam, beberapa tahun lewat saat aku masih sering balik ke Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dulu Papaku pernah tinggal di situ. Dan kami sering kumpul waktu lebaran tiba. Kalau orang-orang lain, pada umumnya mudik ke desa-desa, dari dulu yang aku jalanin, eh jalani ding! Aku senantiasa mudik ke Betokaw alias Batavia atau Betawi.
Pernah dengar cerita, kenapa diberi nama Betawi khan?
Pada suatu ketika, di masa pendudukan VOC (Organisasi Dagang Belanda), Batavia dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang pastinya bule dari Belanda dong, masa Bule dari Hongkong sich. Asal elo tau istilah "Gubernur Jenderal" ini adalah sebuah pembahasaan dari istilah dalam Holland Sprechens "Generaal Governoer", yang dilestarikan di era yang konon merdeka dengan "Gubernur" (jadi jangan heran kalo di masa ORBA berkuasa, gubernurnya emang kebanyakan Jenderal, soalnya militer sich. Apalagi AKABRI, rektornya aja Gubernur) serta diikuti dengan latah di seantero penjuru Nusantara yang telah di Indonesiakan oleh Belanda. (bila ada waktu, akan kuceritakan kelak, betapa tidak orisinilnya keindonesiaan kita itu, lantaran aroma Belanda begitu kuat menguntitnya).
Back to case, saat itu Tentara Kolonial Belanda begitu kerepotan menghadapi sepak terjang prajurit Mataram di bawah komando Sultan Agung yang mengepung Beteng Pertahanan terakhir Belanda dari delapan penjuru mata angin. Bayangin aja, betapa kedernya Jaan Pieter Zoen Coen menghadapi strategi tempur Mataram dengan Gelar Sapit Urang1)-nya yang dimodifikasi dengan pola "hit and run"2). Saking nggak bisa apa-apanya, tentara Belanda itu rela untuk terkurung di dalam beteng mereka sampai berbulan-bulan lamanya. Lama kelamaan, persedian amunisi Belandapun ludes tak berbekas. Setelah putar otak cari akal, akhirnya Sang Jenderal mengerahkan anak buahnya untuk berak bersama-sama serta menjadikan tahi produksi Belanda itu sebagai senjata pamungkas untuk menghalau prajurit Mataram yang gigih berjuang. Maka moncong meriam yang beramunisikan tahi itupun segera di arahkan ke basis pertahanan prajurit Mataram yang berada di luar beteng. Bisa di tebak adegan berikutnya…Beberapa orang prajurit Mataram yang tengah asyik leyeh-leyeh ngaso di sekitar daerah yang sekarang bernama Matraman (untuk menghormati leluhur mereka yang enjoy disana dan nggan mudik ke Jawa) tiba-tiba disergap aroma yang merangsang perut untuk mual dan lantas muntah-muntah itu. Akibatnya seantero Batavia beraroma tahi. Dan saat dua orang prajurit Mataram yang terganggu istirahat makan siangnya itu berdebat seru diantara mereka.
"Nuwun sewu Ki Sanak, njenengan mambet mboten?"
"Nuwun injih. Kadosipun menika rak mambet tai to."
"Lha injih, napa ki sanak mboten ngraosaken. Awit sampun pinten pinten ndinten
menika, yen kula raosaken kok nggih pancen njijiki nggih?"
"Nanging saestu menika, mambet tai to kang mas?"
"Lha injih sampun cethu menika!!!"3)
Sambil menutupi hidungnya, dua prajurit itu berbicara terus tentang "mambet tai", karena artikulasi vocal mereka menjadi tidak jelas lantaran polusi udara yang luar biasa menjijikan itu, Mang Ikin, penjual Kethoprak yang biasa ngetem di deket-deket sono,nyang emang kupingnya kebetulan juga rada-rada bolot, dengerinnya,"Orang Jawa tadi bilang tempat ini namenye Betawi".
Bisa jadi ada versi lain. Kenapa nggak? Namanya juga cerita, kisah, dongeng. Aku toh bukan Guru Sejarah yang tengah bertutur di depan kelas diantara murid-murid yang setengah hati menerima pelajaran, karena kelewat sering di bohongi. Murid-murid SD pun tahu kalau setiap penguasa bisa memesan sejarahnya sendiri-sendiri. Bagaimana mereka ngga tau, kalo merekalah korban pertama dari sebuah sistem yang bodoh. Anak-anak itu menjadi korban dari keegoisan pendidik yang tak begitu cerdas menyikapi perkembangan serta didukung oleh sistem pendidikan yang ceroboh. Saat anak-anak SD itu mengeja kembali pelajaran Bahasa Inggrisnya, mereka menemukan: bahwa yang pas untuk menuliskan "sejarah" dalam bahasa inggris adalah "His Story". Pantas saja sampai mereka gede, sampai punya jabatan-jabatan tertentu di tempat-tempat itu tuh anak-anak yang bertubuh orang tua itu selalu pengen menuliskan sejarahnya sendiri. Seolah tak ada orang lain di dunia ini. Seolah tak pernah ada Jurusan Sejarah di kampus-kampus perguruan tinggi kita.Runyam.Kaco.Katrok.Celeng Mencret…
Dan memang begitulah. Emang elo pikir kehidupan ini baik-baik saja gitu apa? Emang elo tinggal dimana selama ini? Di negeri dongeng kali. Bersama Oky dan Nirmala dengan tongkat ajaibnya, serupa Doraemon dan kantong ajaibnya. Padahal setahuku Puri Nirmala itu Rumah Sakit khusus yang merawat orang-orang dengan kecenderungan Neurotic di bilangan Babarsari Jogja. Jangan-jangan kita semua memang tengah mengidap penyakit otak semua. Hingga kita tidak pernah lagi sungguh-sungguh tau mana yang baik mana yang buruk, mana atas mana bawah, mana kiri mana kanan. Mana di mana anak kambingnya di mana mana. Karena setiap penguasa membutuhkan peternakan kambing berwarna hitam, agar apabila ada salah-salah langkah didalam penyelenggaraan kekuasaannya, cukup sediakan kambing berwarna hitam siap eksekusi sebagai semacam lawar, mungkin.
Kembali ke fenomena kangen. Gimana Ra, kok SMSku ngga pernah di bales sich. Jijik ya ama aku? Oke dech. Makasih. Tanpa tersipu kulangkahkan kaki kembali menekuri sepi. Di Malioboro sepagi itu, dengan nasi bungkus dalam genggaman. Beberapa ekor lalat terbang rendah sekali, seperti sedang memamerkan manuver terbaru hasil kursus singkat Air Show. Ah, masa-masa indah saat menerbangkan jet tempur itu, cukup sudahlah jadi penghias buffet kenangan.
"Stanis, jangan lupa nanti sepulang Les Piano mampir ketempat Tante Dewi Listiana
buat ngambil pesenan Mama!"
Mamaku ah, selalu saja membuncahkan rindu. Kapan terakhir aku nangis di pangkuannya? Oh, ya saat Papaku marah besar dan aku di rantai di pintu pagar halaman depan rumah. Semua mata anak-anak tetangga menontonku. Mamaku menangis sambil menyuapi aku yang terikat tanganku dan jadi pertunjukan gratis para tetangga. Mama dan Papa yang ada di surga. Baik-baiklah kalian di sana. Di deket Tuhan, tentu tak perlu ada lagi pertengkaran khan? Tak perlu ada suasana tegang di rumah, yang membuat kami anak-anakmu lebih suka main di jalan. Dan di jalanan kami tumbuh liar di luar pengawasanmu. Sebab kami bukan pesakitan dan kalian bukanlah sipir penjaga kemerdekaan kami. Sering aku tak pulang ke rumah, menunggu lebam-lebam disekujur badan dan luka-luka ini mengering serta mampat. Agar kalian tetap melihat kami sebagai anak-anak manis, sholeh dan rajin menabung. Ah, kini aku sendirian di Jogja menjelang lebaran Mama dan Papa. Setelah semuanya menjauh, aku serupa Ahasveros4) yang di tolak kehidupan. Bahkan sekonyol apapun Sysyphus, dia masih lumayan enjoy hidupnya.
Seperti katamu Guru, "Meski telah kau untai seribu kata, namun pintu-pintu di Kepatihan, Bulaksumur, Notoprajan, Timoho. Tergembok rapat bagi akal sehat dan hati nuranimu"5).
Aku lelah Guru, tapi belum kalah. Semoga. Meski aku harus terus berjuang sekuat tenaga untuk menghimpit dengan batu sebesar gunung dua binatang buas yang saling cakar dan saling gigit didalam jiwaku. Akulah tlatah pertempuran itu sendiri. Siang malam yang kulakukan hanyalah menunggu dan menunggu. Sampai tiba Ra, kekasihku.
Ternyata tiga minggu itu lama nian ya?
:Glosary::
1.Gelar Sapit Urang adalah sebuah formasi tata keprajuritan biasanya untuk
kondisi musuh dalam posisi terjepit atau pasukan Mataram dalam posisi diatas
angin. Formasi yang lain seperti Garuda Ngleyang, dan lain-lain
2.Hit and Run, terinspirasi gaya bertinju Muhammad Ali yang sering dibahasakan
secara sastra menjadi 'menari bak kupukupu menyengat bagai lebah'
3. Coba aja cari dalam kamus Jawa-Indonesia, hahaha
4.Ahasveros adalah lelaki yang tak membukakan pintu saat Jesus di salib dan
kehausan. Ia merasa dirinya dikutuk sepanjang masa karena mengira Jesus benarbenar di
salib.
5.Nukilan Puisi EmHa Ainun Nadjib, Jogja Tak Menyapamu Lagi Antologi Puisi
'Sembilu'.
Melaju Bersama Prameks
Ra, melaju dengan kereta Prameks sore ini, ingatanku melayang pada film My Sassy Girl, film Korea yang cukup menguras airmata kawan-kawanku yang menyaksikannya, terutama yang berkategori cengeng tentu saja (hahaha). Tapi tentunya bukan pada bagian adegan muntah dikepala orang itu lho,(hehehe). Memang masih di adegan kereta itu juga yang kalau dicermati, interiornya agak-agak mirip Prameks ini.
Ra, beberapa hari terakhir ini aku memang lebih sering tinggal di kota yang konon masih bertalian darah dengan Jogja. Setidaknya dari wacana sejarah yang sempat kulirik diam-diam, Solo atau Surakarta Hadiningrat ini masih terhitung saudara tua dari Yogyakarta Hadiningrat. Dua keraton besar sisa pemenggalan kolonial Belanda yang akrab di kenal publik sebagai devide et impera alias ‘membagi dan menguasai’ seperti yang lazim dilakukan oleh sesuatu yang menguasai sesuatu yang lain. (haha, rasakan betapa njelimetnya bahasaku).
Ra, kalau untuk sementara ini aku lebih sering terlihat dan terlibat di Solo, ini bukan sekadar romantisme sejarah untuk membangkitkan lagi kenangan atas sebuah kota yang pernah melahirkan orang-orang sekaliber Rendra dan Sapardi Djoko Damono misalnya. Karena jangan-jangan Rendra maupun Sapardi sendiri tak begitu menganggap perlu untuk menyuntuki romantisme semacam itu. Tapi ini semata pencarian seorang Catur Stanis yang senantiasa memelihara diri dalam ‘kegelisahan nan tak kunjung usai’ itu. Sampai di kalimat yang terakhir itu, bathinku geleng-geleng sendiri sambil berdecak mencibir,”Ah..Lo bisa aja Nis!”
Dan memang itulah yang selama ini menyalakan semangatku untuk bergerak kewilayah yang seringkali sulit dipahami oleh kawan-kawanku. Mobilitas yang begitu tinggi serta luapan energi yang seolah tiada habis untuk menyuntuki kaum muda yang berkutat diwilayah kesenian khususnya titer (kata penyempurna dari teater yang kebarat-baratan serta nampak kurang cerdas bagi sebuah kata serapan).
Aku tidak ingin melulu sekadar memperbandingkan dua kota itu. Yang kulakukan lebih sebagai upaya penemuan kembali jejak yang telah lama hilang akibat kontaminasi yang ditinggalkan oleh kaki menjijikkan sepatu kolonial yang meluluh lantakan tatanan harmoni sebuah peradaban yang konon bernama Mataram.
1755 adalah awal pemecahan untuk penguasaan itu. Perjanjian Gianti atau sebagian menyebut sebagai Palihan Nagari (Palihan=Pembagian). Ada yang mengartikannya sebagai pembagian menjadi dua atau lebih. Mengingat pada perkembangannya, ulah Belanda itu tidak hanya menghasilkan Mataram yang terpecah menjadi dua, Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Yogyakarta. Pun juga memunculkan satelit-satelit baru yang bernama Mangkunegaran dan Pakualaman. Sebuah ironi tragis dari sebuah bangsa yang begitu mudah ditelikung oleh strategi licik kaum penjajah. Dan inilah fakta yang tak boleh hanya terhenti sebagai epos semata namun mestinya juga disikapi selayaknya reflektor untuk menyalakan kreativitas masa depan. Seperti ucapan gagah yang sering didengungkan oleh banyak pihak, hanya bangsa yang besar yang bisa memaknai peristiwa sejarah sebagai hikmah.
Lantas hikmah apa yang bisa kita panen untuk masa depan?
Adalah sebuah pengutuhan Konsepsi Joglo mestinya. Joglo adalah bentuk arsitektural bangunan yang banyak terdapat di daerah Jogja maupun Solo serta tentu saja di seantero Jawa bagian tengah serta beberapa bagian di timur. Tapi Joglo yang kumaksudkan disini adalah konsepsi sikap Jogja-Solo itu sendiri.
Bagiku yang lahir di era paska penjajahan Kolonial yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang merasa dirinya kuat seperti Eropa misalnya, adalah sebuah kekonyolan ketika harus memperbandingkan dan apalagi mempertandingkan hasil budaya dua kota Jogja dan Solo. Bukan pada persoalan kalah menang memang, pun juga bukan perkara siapa mempengaruhi siapa. Aku lebih melihatnya sebagai sebuah keasyikan tersendiri ketika aku harus menjahit kembali tatanan pergaulan yang robek itu.
Ah, sudahlah. Agak berlebihan kurasa mimpi kali ini. Sementara sebentar lagi laju Prameks akan segera berhenti sesaat di Stasiun Lempuyangan, untuk meneruskan perjalanannya sampai pemberhentian terakhir di Stasiun Tugu Yogya. Dan perempuan yang diamdiam memperhatikanku dengan seksama saat kutulis catatan diatas laju Prameks ini pun sebentarsebentar mulai beranjak dari tempat duduknya yang kebetulan tepat didepanku. Seulas senyum kusambar secepat kilat melupakan sejenak bayangan mu Ra, yang entah kenapa selalu saja menguntitku kemanapun ku berlalu.(kumohon bermilyar ampunanmu atas kenakalanku ini, sungguh melupakanmu adalah siksaan terberat bagi hidupku)
Mungkin sesela waktu nanti kuajak kamu Ra, naik Prameks ini. Sekadar jalanjalan mengunjungi Solo yang membuat bathinku berseri. Tidak seperti Jogja yang kenyamanannya membuat terlena itu. Bukankah dinegerimu yang jauh itu tak terdapat sebilahpun rel kereta api? Kayaknya asyik juga kalau kita pacaran diatas kereta yang melaju wira-wiri antara Jogja-Solo.
Edited by Catur Stanis in Koto’s Room on 25 September 2008 at 23:30 WIB
Friday, June 20, 2008
DAGING DALAM KALENG (Retyped edition)

DAGING DALAM KALENG
(Sebuah Salah Paham)
KARYA SAMUEL BECKETT
ALIHBAHASA :MAX ARIFIN
Di ketik kembali oleh Catur Stanis
Dramatic Personae;
1. Stanis, Lelaki buta penggesek biola
2. Antok Agusta, Lelaki lumpuh berkursi roda
Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.
Stanis, buta, duduk di atas bangku dingklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.
Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-
Pause.-
1.Stanis. : Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. Antok masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].
Sedekahlah untuk orang tua melarat.
[Pause].-
2.Antok : Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!
[Pause].
Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[Dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?
3.Stanis : Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?
4.Antok : Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?
[Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?
[Pause]
5.Stanis : Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?
6.Antok : Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.
[Pause]
7.Stanis : Sekarang ini siang atau malam?
8.Antok : Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?
9.Stanis : Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?
10.Antok : Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?
11.Stanis : Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.
[Pause].-
12.Antok : Dia ? Dia siapa ?
13.Stanis : Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]
14.Antok : Sekarang ?
15.Stanis : Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.
16.Antok : Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?
17.Stanis : Aku akan selamanya seperti diriku.
18.Antok : Mari !
19.Stanis : [Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.
20.Antok : [Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.
21.Stanis : Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !
22.Antok : Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong dirinya ke belakang sedikit, berhenti]. Dan aku kembali lagi ke A [dengan penuh kesulitan]. Garis lurus ! Ruang kosong ! [Pause]. Bisa aku mulai menggerakkan kau ?
23.Stanis : Kadang-kadang aku mendengar langkah-langkah orang mendekat. Atau suara-suara. Aku bilang pada diriku, mereka itu sedang berjalan pulang, beberapa orang memang berjalan pulang, mencoba dan memulai lagi atau sedang mencari seseorang yang mereka tinggalkan di belakang.
24.Antok : Kembali! [Pause] Siapa yang mau kembali ke mari ? [Pause] Padahal kau tidak pernah menyeru ! [ Pause] Berteriaklah ! [Pause]. Tidak ?
25.Stanis : Apakah kau mengamati sesuatu yang tidak ada?
26.Antok : Oh, aku? Mengamati sesuatu ? Kau tahu, aku duduk di sana, tergeletak di atas kursi, di kegelapan selama 23 jam dalam sehari. [Marah] Apa yang harus kuamati ? [Pause]. Kau pikir kita akan mengadakan semacam perlombaan setelah kau mulai mengenal aku, he ?
27.Stanis : Kau bilang tadi daging dalam kaleng ?
28.Antok : Tepat.Bagaimana kau hidup selama ini? Kau tentulah kelaparan.
29.Stanis. : Di mana mana banyak terdapat sesuatu.
30.Antok : Yang dapat dimakan?
31.Stanis : Kadang-kadang.-
32.Antok : Kenapa tidak kau biarkan saja dirimu mati kelaparan?
33.Stanis : Dalam hidupku aku pernah berbahagia. Suatu hari aku mendapat sedekah berupa buah-buahan sebanyak satu keranjang besar.
34.Antok : Tidak !
35.Stanis : O, ya, cuma satu keranjang kecil penuh buah-buahan di pertengahan jalan ini.
36.Antok : Oke, baiklah. Tapi kenapa tidak kau biarkan dirimu mati ?
37.Stanis : Aku memang pernah memikirkan hal itu.
38.Antok : [Mangkel].Tapi kau toh tidak melakukannya.
39.Stanis : Aku cukup bahagia.[Pause]
Memang aku selalu tidak bahagia, tapi cukup bahagia.
40.Antok : Tapi kau tentulah setiap harinya akan bertambah tidak bahagia.
41.Stanis : [Marah].Aku cukup bahagia. [Pause]
42.Antok : Sekiranya memang kita-kita ini dibuat untuk kepentingan satu sama lain, bagaimana ?
43.Stanis : [Gerak gerik yang penuh arti].Kini, bagaimana semua hal itu tampaknya ?
44.Antok : Oh, aku ? Aku tidak pernah pergi jauh-jauh. Cuma maju-mundur didepan pintu rumahku. Sebelumnya aku tidak pernah ke mari.
45.Stanis : Tapi apakah kau mencari dirimu?
46.Antok : Bukan, bukan begitu !
47.Stanis : Setelah masa kegelapan itu, kau tidak………
48.Antok : [Marah].Bukan?! [Pause]. Tentu, kalau kau mau aku mencari diriku, aku akan melakukannya. Dan akhirnya kau tidak keberatan mendorong kursi rodaku ini, aku akanmencoba melukiskan pemandangan di sekitar kita sementara kita melaju ke depan.
49.Stanis : Maksudmu aku akan menuntunmu ? Aku tidak mau tersesat lagi.
50. Antok : Tentu. Aku akan bilang begini; Hati-hati, Billy, kita sedang menuju ke sebuah tumpukan kotoran yang besar. Mundur sedikit dan belok ke kiri. Itulah kata-kata yang akan kuberikan padamu.
51.Stanis : Kau akan bilang begitu ?
52.Antok : [Tampak puas] Gampang bukan? Gampang sekali, Billy. Di sana dalam parit aku melihat sebuah kaleng. Mudah mudahan ia berisi sop. Atau mungkin juga sayur kacang buncis.
53.Stanis : Sayur kacang-buncis ! [Pause].-
54.Antok : Apakah kau mulai menyukai aku ? [Pause]
Atau itu cuma imajinasiku.
55.Stanis : Sayur buncis ! [Ia bangun, mengambil mangkoknya dan manyodorkan ke arah Antok, meminta]. Di mana engkau ?
56.Antok : Di sini, temanku sayang. [Stanis mencoba mendorong kursi roda itu dengan serampangan]. Berhenti,berhenti !
57.Stanis : [Terus juga mendorong]. Bukankah ini suatu berkah bagimu? Atau katakanlah semacam hadiah !
58.Antok : Berhenti ! [Ia mencondongkan badannya ke belakang. Stanis membiarkan kursi roda itu menggelinding dan melompat ke belakang. Pause. Stanis menggapai –gapai mencari bangku tempat duduknya. Maju.Berhenti, menggapai-gapai lagi. Tidak ditemukan bangku tempat duduknya itu]. Maafkan aku. [Pause]. Maafkan aku, Billy.
59.Stanis : Di mana aku ? [Pause].Di mana aku tadi ?
60.Antok : Rupanya aku kini kehilangan dia. Padahal ia sudah mulai menyukai aku. Tapi aku mengecewakan dia. Ia akan meninggalkan aku dan aku tidak akan melihat dia lagi. Aku tidak akan melihat siapapun lagi. Kita tidak akan mendengar suara-suara manusia lagi.
61.Stanis : Apakah kau tidak mendengarnya ? Keluhan dan rintihan yang sama sejak dari buaian ibunda sampai ke kuburan.
62.Antok : [Mengerang].Lakukanlah sesuatu untukku sebelum aku pergi.
63.Stanis : Di sana. Kau bisa dengar ? [Pause].Aku tidak bisa pergi ![Pause].Kau dengar ?
64.Antok : Kau tidak bisa pergi ?
65.Stanis : Aku tidak bisa pergi tanpa alat-alatku ini.
66.Antok : Alat-alat apa itu yang menjadi milikmu ?
67.Stanis : Tak ada.
68.Antok : Lho,katanya kau tidak bisa pergi tanpa alat-alatmu.
69.Stanis : Memang. [Ia mulai meraba-raba lagi, lalu berhenti].Akhirnya aku akan mendapatkannya.[Pause].Atau aku tinggalkan saja.
70.Antok : Tolong perbaiki selimut pada kakiku. Kakiku terasa sangat dingin.[Stanis berhenti].Bisa saja kulakukan sendiri, tapi akan terlalu lama.[Pause].Lakukanlah untukku, Billy.Sudah itu aku bisa kembali ke sudut yang sepi itu dan di sana aku bilang: aku telah melihat orang untuk terakhir kalinya, aku mengecewakan dia setelah dia sempat menolong aku.
[Pause]
Kutemukan kepingan-kepingan cinta di sudut hatiku dan kematiannya dapat kupadukan dengan jenis diriku.[Pause].Kenapa kau memandang tercengang seperti itu padaku ? [Pause].Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas kukatakan? [Pause].Bagaimana rupa jiwaku?[ Stanis berjalan dengan meraba-raba menuju padanya].
71.Stanis : Bersuaralah !
[Antok mengeluarkan suara. Stanis meraba-raba menuju padanya lagi.Berhenti].
72.Antok : Apakah alat penciumanmu sudah tumpul ?
73.Stanis : Dimana-mana cuma tercium bau busuk.
[Stanis membuka lebar-lebar tangannya].Apakah tanganmu tidak bisa menjangkau tanganku? [Ia berdiri diam,tanpa gerak dengan tangan terbuka ke depan].
74.Antok : Sebentar.Kau kan tidak melakukan sesuatu dengan cuma-cuma.[Pause].Kumaksudkan,tanpa syarat.[Pause].Tuhan Maha Pengasih.[Pause.Ia dapat memegang tangan Stanis dan menarik ke dekatnya].
75.Stanis : Kakimu ?
76.Antok : Apa ?
77.Stanis : Kau bilang kakimu !
78.Antok : Aku cuma tahu kata kaki.[Pause]. Ya ,kakiku,cobalah bungkuskan dengan baik
[Stanis membungkuk, meraba-raba].Berlututlah, dengan berlutut kukira kau akan lebih santai.[Antok membantu Stanis untuk berlutut di suatu tempat yang baik].Ah, di sana !
79.Stanis : [Merasa diganggu].Biarkan tanganku merabamu.Kau ingin supaya aku membantumu, tapi kau pegang tanganku.
[Antok membiarkan tangannya meraba dan ia merasa geli ketika selimut kakinya diraba].Apakah kau cuma mempunyai satu kaki?
80.Antok : Memang cuma satu.
81.Stanis : Dan yang satunya?
82.Antok : Membusuk, lalu dipotong.[Stanis membungkus kaki yang satu ini]
83.Stanis : Sudah cukup?
84.Antok : Ketatkan sedikit.[Stanis melakukannya].Cekatan sekali tanganmu.
[Pause].-
85.Stanis : [Meraba-raba, menuju perut Antok].Apakah ini bagian-bagian lainnya ?
86.Antok : Kini kau boleh berdiri dan meminta balas jasamu.
87.Stanis : Bagian-bagian lainnya bagaimana ?
88.Antok : Bagian-bagian lainnya memang tidak dipotong, kalau itu yang kau ingin ketahui.[Tangan Stanis meraba ke atas lagi, meraba wajah Antok].
89.Stanis : Ini wajahmu ?
90.Antok : Sumpah, memang itu wajahku.[Pause].Seperti apa kira-kira wajahku itu? [Jari-jari Stanis meraba ketempat-tempat lainnya]. Itu ? Itu namanya kutil.
91.Stanis : Merah ?
92.Antok : Ungu ! [Stanis menarik tangannya, tapi tetap berlutut].Tanganmu memang cekatan ! [Pause]
93.Stanis : Masih tetap siang ?
94.Antok : Siang ?[Memandang ke angkasa].Terserah kalau kau mau.[Memandang].Memang tak ada kata yang tepat untuk itu.
95.Stanis : Kira-kira akan segera malam? [Antok membungkukkan badannya pada Stanis dan memegang pundak Stanis]
96.Antok : Mari,Billy,berdirilah,kini kau mulai merepotkan aku.
97.Stanis : Apakah akan segera malam ?
98.Antok : [Memandang ke langit].Siang….malam….[memandang lagi].kadang-kadang tampak bagiku dunia ini begitu angkuh dan sombong; diberikannya kita siang tanpa matahari, di tengah-tengah jantung musim dingin, di suatu malam yang kelabu.[Memegang bahu Stanis lagi].marilah,Billy, berdirilah, kau kini mulai merintangi aku.
99.Stanis : Apakah dimana-mana tampak rumput ?
100.Antok :Tidak.
101.Stanis : [Gemas].Tidak tampak hijau di mana-mana ?
102.Antok : Cuma ada sedikit lumut.[Pause.Stanis mengelus-elus selimut kaki Antok, lalu meletakkan kepalanya di atas kaki Antok itu].
Tuhan Maha Pemurah ! Apakah kau tidak akan berdoa ?
103.Stanis : Tidak !
104.Antok : Atau menangis barangkali ?
105.Stanis :Tidak.[Pause].Aku bisa meletakkan kepala seperti ini untuk selama-lamanya, di atas lutut seorang teman tua.
106.Antok : Lutut! [Menggoncang-goncangkan badan Stanis dengan keras].Apakah kau tidak bisa bangun?
107.Stanis :[Membenah dirinya agar lebih nyaman].Alangkah tenang dan damainya ! [Antok menolaknya dengan keras. Stanis jatuh dan bertelokan pada tangannya]. Dora,istriku sering bilang bila aku tidak cukup memperoleh uang: Kau dan harpamu! Lebih baik kau merangkak ke segenap penjuru dunia dengan medali-medali ayahmu yang kau sematkan di pantat celanamu dan kotak uang bergantungan di lehermu. Kau dan alat musikmu itu! Kau pikir kau ini siapa sih ?
Dan dia membiarkan aku tidur di lantai.[Pause]. Siapakah aku ini ?…….[Pause].Ah, aku tidak mampu menerkanya. [Pause].Lalu dia berdiri. Tidak pernah mampu.[Ia mulai meraba lagi, mencari tempat duduknya, lalu berhenti dan memasang telinga seperti mendengar sesuatu].Jika suara-suara itu cukup lama kudengar, maka sebuah harpa dengan satu tali cukuplah.
108.Antok : Harpamu ? [Pause].Macam apakah kiranya harpamu itu ?
109.Stanis : Dulu pernah aku memiliki sebuah harpa kecil.Tapi diamlah, dan biarkan aku mendengar sesuatu.[Pause]
110.Antok : Berapa lama kau mampu diam seperti itu ?
111. Stanis :Aku bisa berjam-jam mendengar segala macam suara.
[Keduanya memasang telinga, mendengar]
112.Antok : Suara-suara apakah itu ?
113.Stanis : Aku tidak tahu suara apa itu.
[Keduanya memasang telinga lagi.Mendengar]
114.Antok :Aku dapat melihatnya.[Pause].Aku dapat…………
115.Stanis :[Marah] Apakah kau tidak mau diam ?
116.Antok : Tidak ! [Antok melepaskan kepala Stanis yang dipegang dari tadi].Aku dapat melihat dengan jelas, itu di tempat dudukmu.[Pause]. Bagaimana kalau aku mengambilnya lalu kabur? [Pause]. Eh, Billy, bagaimana tanggapanmu ? [Pause].
Suatu hari nanti, akan ada orang tua yang lain, muncul dari persembunyiannya dan mendapatkan kau sedang membunyikan harmonikamu. Dan kau akan mengatakan padanya, bahwa kau pernah memiliki sebuah biola kecil.[Pause]. Eh, Billy ! [Pause] Atau kau sedang menyanyi. [Pause]Eh ,Billy, bagaimana tanggapanmu ?[Pause]
Dan di sana, ia akan bersiut-siut pada angin musim dingin setelah kehilangan harmonika kecilnya.
[Ia mendorong Stanis dengan tongkatnya]. Eh, Billy ?
[Stanis berputar, memegang ujung tongkat itu dan merampasnya dari tangan Antok].
Layar. Layar.-
Mataram,6 Februari 1978.
Jogja,24 Juni 2008...
Thursday, June 12, 2008
Angkatan 88
Dan akupun sempat sekolah juga waktu itu. Namun bukan ini yang hendak aku torehkan dalam catatanku kali ini. Aku hendak menceritakan tentang peristiwa Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tahun 1983 itu..Lima tahun sebelum pada hari dan bulan yang sama ditahun 1988, aku terdaftar sebagai salah satu mahasiswa jurusan teater bersama sekitar 30 an temanteman yang lain. Kebanyakan kami adalah lulusan SMA dan sederajat waktu. Ada yang dari jogja seperti Rubiyanto dan Arief Sujar AN, ada yang dari Jawa Timur seperti Antok Agusta, Jumaali Al Hamra serta Heri Dwi Rudi Prasetyo serta Dwi Pristino Feriyanto. Serta tentunya masih banyak lagi.
Angkatan 88 adalah angkatan keempat dari jurusan teater di ISI Yogyakarta setelah angkatan pertama 85. Dan tahun ini genap 20 tahun usia angkatan ini, tanpa ada tandatanda untuk mengadakan sebuah pertemuan kembali semacam kangenkangenan berlabel reuni, misalnya.
Duapuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah pertemanan. Kesibukan mungkin memisahkan jarak diantara kami. Kabar kawankawan yang tak jelas lagi rimbanya. Seperti kita maklumi bersama, dunia kesenian tak ubahnya serupa belantara estetik yang menghasilkan spesies yang tumbuh di koloninya masingmasing. Dan dari sekitar 30an kawan seangkatan tak ada sepertiganya yang masih kadang melintas di ingatan, yang lainnya entah kemana.
Saya pribadi, sebetulnya merindukan untuk bisa berkumpul kembali bersama ketigapuluh kawankawan yang karena tugasnya mungkin sudah menyebar kemanamana. Seperti Dhapy Fajar Rahardjo yang sekarang ada di Palangkaraya. Eri Juliadi di Jakarta. Juga Murtono serta Catur Puja Sulistyawan. Ada Abdul Salam di Lampung, serta Anik yang buka warung brongkos di Jln Letjend Suprapto Jogja. Lalu kemana yang lain? Irno Sukarno Putro, Zulkarnain, Nur Yulianto, Tuti Martini serta yang lainnya. Nyonya Leyloor tentu masih di jogja bersama keluarga tapi bagaimana kabar Sugita misalnya. Tikno masih kudengar berjuang ditanah kelahirannya di Demak, tapi bagaimana dengan Agustinus serta yang lainnya.
Kalo ada diantara pembaca blogku yang tau keberadaan kawankawan angkatan 88 jurusan teater, silahkan kabari aku agar rindu yang mengeram dikalbu ini tak lantas membatu.
Friday, June 6, 2008
TERPENJARA
Inilah salah satu film yang sempat membuat Juri FFI bingung untuk mengkategorikannya..sayangnya tak ada kriteria bagi film nekad di ajang festival film itu..
Wednesday, May 14, 2008
Tunggu Tanggal Mainnya
Yang anda saksikan dibawah ini, adalah pertemuan yang bakal dinantikan publik di panggung drama maupun layar sinema kita. Sebelum ada produser yang mempertemukan mereka...silahkan menikmati slide di bawah ini.
Friday, April 11, 2008
Angie yang telah pergi...
Angie, Angie, when will those clouds all disappear?
Angie, Angie, where will it lead us from here?
With no loving in our souls and no money in our coats
You can't say we're satisfied
But Angie, Angie, you can't say we never tried
Angie, you're beautiful, but ain't it time we said good-bye?
Angie, I still love you, remember all those nights we cried?
All the dreams we held so close seemed to all go up in smoke
Let me whisper in your ear:
Angie, Angie, where will it lead us from here?
Oh, Angie, don't you weep, all your kisses still taste sweet
I hate that sadness in your eyes
But Angie, Angie, ain't it time we said good-bye?
With no loving in our souls and no money in our coats
You can't say we're satisfied
But Angie, I still love you, baby
Ev'rywhere I look I see your eyes
There ain't a woman that comes close to you
Come on Baby, dry your eyes
But Angie, Angie, ain't it good to be alive?
Angie, Angie, they can't say we never tried
Dulu selagi SMA aku punya teman cowok yang begitu tergilagila pada cewek yang bernama Anggiasari. Diapun sering melantunkan lagu Rolling Stones ini untuk meredakan kegelisahan emosionalnya. Saat itu karena sering mendengarnya, akupun jadi ikutan menyukai lagu ini.
Beberapa waktu yang lalu aku sempat dekat dengan perempuan yang bernama Anggi dari salah satu kampus di Jogja, maka hariharikupun berlalu lewat lantunan baitbait Rolling Stones diatas.
Padahal Angie yang di nyanyiin Rolling Stones itu sebenarnya kisah perselingkuhan biasa antara dua orang kawan dengan satu wanita. Sebuah kisah biasa memang, dan itulah istimewanya.
Perhatikan kalimat, "With no loving in our soul, and no money in our coats" yang bukan saja membuat penabuh drum dari kugiran Rolling Stones terkesiap, pun juga aku yang mendengarnya berulangkali. Barangkali inilah mistery bunyi itu, yang sering memukau dengan caranya yang paling purba.
Sungguh, cinta dan uang itu jarang bisa bersatu. Kalau saja para pelacur yang menyewakan perabot pribadinya di lokalisasi maupun jalanan itu mengedepankan cinta, tentunya tak ada alasan bagi sebuah transaksi yang berujung pada pembayaran dengan uang untuk sesuatu yang sesungguhnya bisa didapatkan dengan gratis.
Tapi begitulah kehidupan, senantiasa menyisakan ironi tak kunjung henti...
Thursday, April 10, 2008
MataMu Makin Ungu Kurasa...

Namun kadang manusia berencana DIA sendiri yang maha menguasai segenap kehendak yang menentukan segalanya. Entah sengaja atau tidak, salah satu dari ABG itu sempat meminjam hapeku dan menghubungi seseorang yang menurut penuturannya adalah kakak sepupunya di kota Semarang. Yang untungnya masih tersimpan di memory hapeku. Orang yang dihubungi itu punya nomor 085640688875, berjenis kelamin perempuan dan suaranya hampirhampir mirip dengan salah satu dari dua abg itu. Soal nama tidaklah begitu penting benar, karena setiap orang bisa mengaku sebagai apapun dan atau siapapun. Yang pasti, setelah nomor tersebut kuhubungi, orang diseberang sana bukannya bersikap kooperatif untuk menyelesaikan masalah namun justru berlaku naif untuk membingungkan diriku. Aku juga tak tau, apakah setelah ini, nomor itu masih diaktivkan atau dia akan buang kartunya untuk diganti nomor lain, sebagaimana lazimnya kebiasaan orangorang di negeri ini untuk gontaganti nomor. Itu hak dia dan silahkan saja. Setidaknya aku makin mengerti, bahwa kadang kekonyolan itu menjadi sedemikian penuh makna.
Monday, April 7, 2008
Wednesday, April 2, 2008
cerita biasa
Jogja barusan bangun tidur saat kucium bibirnya yang basah oleh embun pagi ini. Dan kuda besi itu membawaku kembali ke kota tua yang tak jenak untuk berlamalama kutinggalkan. Kemaren aku masih di Jakarta, mengantar keberangkatan sepasang pejuang yang berangkat mengikuti panggilan umrah, dan hari ini aku telah kembali disini, di kotamu yang indah.
Siang membawaku dalam dekapan hangat Yati. seperti malammalam yang panjang.Hanya menyisakan rintih setelah orgasme nan takkunjung padam itu. Kali ini kami bermain lagi, bukan pada persoalan kalah dan menang namun lebih sekadar sebuah pemuasan atas hasrat purba yang tertunda.
Hampir saja kamimengakhirinya dengan pertengkaran kecil diujung pertempuran sederhana itu. Tentang siapa yang lebih dahulu keluar, pun juga tentang lenguhan yang terdengar ganjil. Ah, masih adakah yang menarik dari persenggamaan tanpa cinta ini? Kecuali berlomba lari untuk sampai di finish dan lantas menyadari saat semuanya telah berkubang dalam lengket yang anyir itu. Lukakah itu? Atau kenikmatan yang lain, entahlah.
Tubuh itu masih juga tubuh yang sama yang kunikmati beberapa saat lewat, tapi entahlah kini yang kurasakan hanyalah pengulangan tanpa gairah. Telanjur rutin dan kehilangan sentuhan misteriusnya.
Setelah ini, apa menariknya sebuah persuami istrian?
Friday, March 14, 2008
Obituary

Harihari belakangan ini betapa ritual kematian menjadi serupa rutinitas disekitarku. Tanggal 11 maret lalu, seorang kawan mati di seturan setelah menabrak pohon sepulang dari kafe. 13 maret kemarin kawan yang lain juga dipanggil menghadap keharibaan Ilahi setelah berjuang melawan penyakitnya yang tak tertanggulangi. aku mencium bau hangatnya air mata cinta yang bergulir pelan disesela mata dokter tua itu. Bahkan genggamannya yang gemetar seperti menancapkan sesuatu di ceruk bathinku. aku hanya bisa terdiam.
Saat melayat di Tambakboyo siang itu. kusempatkan diri menengok pusara ibu, bapak serta kakak perempuanku yang berbaring tenang di kompleks pekuburan tak jauh dari perumnas Condongcatur Yogya.
Hanya seutas doa dan beberapa kuntum bunga seadanya yang kutemukan disana sempat kusematkan di mahkota pusara mereka. Semoga kedamaian senantiasa tercipta bagi yang kucinta dan kini bersemayam di alam yang berbeda.
Mengingat mereka, aku jadi teringat pula, pada saatnya nanti akupun akan menyusul seperti mereka.
2 juli 1996, adalah hari dimana bapakku yang renta. Yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk bekerja, kembali ke hadiratNya. Siang yang panas dan air mata yang mulai mengering. Tak ada kata perpisahan kecuali sesungging senyuman bagi buah keikhlasan dalam pelepasan.
25 desember 1999, ibuku menyusulnya ke alam sana. Guyuran hujan siang itu tak mampu meredakan amuk batinku yang rusuh. Aku seperti disundut kenyataan bahwa segala yang indah tiada pernah abadi. Aku meluberkan air di mata kala itu.
Kemudian 27 oktober 2002, adalah saat bagiku untuk mengucapkan sayonara bagi kakak tercinta, yang telah cukup lama menelan penderitaan dalam hidupnya. Aku hampir yakin dia cukup bahagia disana sebagaimana kakak perempuanku yang lebih dulu meninggalkan hingar dunia di 6 november 1988 (Lima bulan setelah aku kuliah dan empat hari menjelang peringatan detikdetik nongolku di dunia).
Akhirnya, saat kuguratkan catatan ini, aroma kematian masih saja tercium begitu kuat disekelilingku, menguntit siang malamku.
Friday, March 7, 2008
DR Humoris Causa

Terimakasih kepada kesempatan yang telah mengantarku sampai ke Kantin Bu Bambang di sebelah selatan kampus ISI. Hampir setahun lebih aku tak mengunjungi tempat ini. Terakhir sekitar januari 2007 saat Cuwie dan Yayan berkolaborasi mementaskan 'sahabat terbaik'nya James Saunders di Auditorium Jurusan Teater FSP ISI Jogja. Segelas cofeemix hangat serta pertemuan kecil dengan kawankawan yang kebetulan bersamaan mampir di tempat itu. Ada Mijil yang lagi nunggu peserta Festival, Nanik yang mungil, Wawan serta Ali pun tak ketinggalan sejumlah figur yang sekilas lewat.
Malam nya nonton pertunjukan sembari meraih door prize berujud tempat sendok dan garpu yang di sangka sebagai blender oleh MCnya. Betul-betul aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa malam itu. Kembali ke panggung bermandi cahaya lampu serta meraih prestasi memenangkan doorprize yang luar biasa.
Secara psikologis, aku lebih bahagia daripada sekadar mendapatkan gelar doktor honoris causa. Tapi kurasa jurusan teater belum begitu sinting untuk mempertimbangkan pemberian gelar seperti itu buatku. Mungkin cukuplah dengan gelar humoris causa bagiku,huhuhu.
Pulang dari sewon mampir Angkringan seorang kawan serta mencicipi tongseng kuda di Prawirotaman. Inilah kebahagiaan yang lain itu. Cukup lama aku menunggu kesempatan bisa menikmati daging kuda, akhirnya di 6 maret yang bebarengan dengan ultah TEMPO itulah aku berhasil mewujudkannya.
Aku teringat kembali cover pertama majalah TEMPO terbitan 6 Maret 1971 dengan laporan utamanya seputar kejuaraan dunia bulutangkis itu. "Kraak di Senayan" begitulah bunyinya. Selamat untuk TEMPO dariku pembaca setiamu sejak tuju satu!Hehehe.
Sempat mampir ke satu tempat buat nonton GRnya teater Gandrik. Ketemu kawankawan yang lama tak bersua, ada Jemek, Edo, Samuel Indratmo, Tomon, Buthet, Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Jadhuk, Whani, Purwanto, Si Ong, Agus Noor serta masih buanyak lagi. Ada yang bilang, kalo nggak ada peristiwa Gandrik, tentu Catur Stanis tak akan sudi menginjakkan kakinya di TBY lagi. Benar nggaknya asumsi ini, kita lihat saja nanti.
Monday, February 18, 2008
HRR! Basuki Mawa Bea

Membaca kembali pertunjukan teater dari Studio Teater PPPPTK Seni dan Budaya(d/h:PPPG Kesenian) Yogyakarta yang dipergelarkan di auditoriumnya yang megah di dusun Klidon, Besi, Ngaglik Sleman Yogyakarta (Jalan Kaliurang KM 13,5) malam jum’at tanggal 1 november 2007, pukul 20.00 waktu setempat. Kali ini mengetengahkan sebuah lakon yang bertajuk HRR! Karya Eko Ompong yang sekaligus juga bertindak sebagai sutradara dalam pertunjukan kali ini. Adapun para pendukung pergelaran ini diantaranya adalah Andi Pepok, Andri Surawan, Wawan Kondo, Moh Shodiq serta perempuan Australia yang tengah mukim di Sleman, Annie Sloman. Bertindak selaku assisten sutradara sekaligus piñata cahaya adalah Putut Buchori AM. Penata Busana Heru Subagiyo dan Sindhu. Musik oleh Irfaq BA dan Wawan Kris. Bertindak sebagai penyelia pertunjukan ini, Whani Darmawan dan Sardjana SH.
Pertunjukan yang berdurasi sekitar 50 menit ini menawarkan tema utama seputar dolanan (permainan) anak-anak yang diperkuat dengan gestikulasi serta estetika tubuh para aktornya. Serupa yang lazim dalam permainan akrobat dan ketangkasan lainnya.
Muncul dari kegelapan, empat sosok yang mengenakan t-shirt putih dengan celana tight warna gelap serta asesoris rumbai-rumbai menghias pinggangnya. Sementara muka mereka dibaluri bedak sebagaimana biasa kita saksikan dalam pantomime serta dandanan rambut mereka yang bergaya Mohawk.
Pilihan colouring lampu pada stat general justru menguatkan aksentuasi warna-warni yang ada disekujur tubuh mereka. Semangat keriangan serta ceria mewarnai pengadeganan ini. Sangat pas dengan karakteristik anak-anak sebagaimana yang dimaksudkan oleh naskah lakon mereka kali ini.
Inilah dunia permainan kanak-kanak yang segar, spontan serta tak jarang memunculkan kecerdasan tak terduga dan seringkali tak terbayangkan oleh orang tua atau siapa saja yang merasa dirinya tua. Kita seringkali terpana oleh kecerdasan yang datangnya dari mereka yang selama ini kita sangka sekadar hanya kanak-kanak.
Saya lebih dari percaya, bahwa melalui proses ini, para aktor bukan saja menemukan keasyikan berproses. Pun juga semoga mereka mendapatkan semacam tabungan artistik bagi perjalanan keaktoran mereka dikemudian hari. Apalagi kalo mereka peka memulungnya akan mendapatkan sesuatu yang berharga bagi sisi kemanusiaan mereka.
Saya seperti diingatkan kembali untuk menoleh kebelakang saat masih menjadi actor dulu, pun juga saat saya melakukan aktivitas penanaman nilai disejumlah teater berbasis kampus di jogja dulu, saya selalu memesankan satu hal : Ruang berbagi untuk meleburkan egosentrisme dengan kekuatan kekitaan. Dan melalui HRR! Inilah para aktor dituntut untuk bisa meruang dalam frame berpikir semacam itu. Bukan semata pada kejenialan individu melainkan lebih pada kematangan kebersamaan. Begitulah dunia kanak-kanak dengan permainannya, mengajari kita yang kadang sok dewasa ini dengan sesuatu yang luar biasa.
Dan sayapun lantas ingat pada pepatah warisan leluhur, Hrr! Basuki mawa bea. Tentu saja kalo kita sepakat bahwa bea disitu tidak harus disama sepadankan dengan materi semata. Apalagi kalau kita mampu memungut sisi immateri dari teater yang tak terbantahkan itu.
Saya berharap, melalui pertunjukan semacam ini, bukan hanya penonton yang pulang dengan berbekal buah permenungan pun juga para pelakunya termasuk aktor dan siapa saja yang terlibat dalam pertunjukan ini bisa juga memperoleh anugerah tak ternilai yang bertitel : “penyadaran atas diri yang Manusia”
Demikian dari saya, sampai jumpa di pertunjukan berikutnya. Special buat Annie Sloman, semoga ada lain waktu untuk me‘review‘nya. :)
Ngobrolin PARTY di Pink ReTro Yogya

Beberapa saat lewat usai meluncurkan PARTY di Pink ReTro Jl Gedawan Yogya. Dengan ditemani secangkir kopi dan kentang goreng serta sebungkus Marlboro, Catur Stanis menerima kedatangan reporter majalah sastra dan budaya HORAISIN serta terlibat dalam perbincangan hangat saat malam menanti pagi. Catur Stanis (untuk selanjutnya kita sebut sebagaiCS,RED) dan penanya (enaknya disingkat P aja ya,RED).Berikut petikan dialog mereka sembari menanti hujan reda.
Sejenak melambaikan tangan pada Bis Kota Jalur 7 untuk melanjutkan langkah menuju ke Sekolah Tinggi Tinggi Sekali. Konon ada dengar pendapat soal PARTY ini. Belum tidur emang, tapi nggak harus capek khan?
Di Aula sekolah itu telah hadir sekian ratus siswa, mereka nampak antusias mengikuti acara 1 Jam Bersama Catur Stanis ini.
Thursday, February 14, 2008
Kronologis Romantis #1

Selasa, 21 Agustus 2007, sekitar pukul 19. lebih sedikit waktu itu.
Aku sedang duduk menekuri meja kaca, memelototi kertas yang ada didepanku, menggoreskan beberapa kalimat, mencoret sebagian kata serta memungut kembali yang sempat tercecer. Tanpa kusadari dari arah mana, sebuah suara lembut nan merdu menyapu gendang telingaku.
"Wah, sibuk sekali"
Begitu lembut, dan tangan mungilnya (sengaja) menyentuh pundakku. Sejenak mati rasa. Segera kututup bukuku, menyimak kehadirannya.
"Kok sendirian?" Tanyanya lagi
"Biasa, namanya juga pejalan sunyi. Harus selalu sendirian kayaknya. Lah kamu sendiri?"
"Ehm, nunggu teman"
Beberapa pelayan, salah satu mrongos giginya menggoda.
"Kok ngga sama mas biasanya?"
Dia tersenyum. Dan harus kuakui manis sekali.
Sejenak kukuliti yang terhampar didepan mata, sampai tiba-tiba,..CUT! Ganti adegan berikutnya.
Setelah cowok yang dimaksud para pelayan itu datang. Basabasi sebentar. Nraktir kopi serta berbagi rokok, akhirnya cowok itu pamitan sebentar untuk mengambil sesuatu.
Sesaat setelah cowok itu berlalu. Perempuan di depanku itu sempat melempar senyumnya yang membius memabukkan.
"Kamu pikir aku pacaran dengannya?" Pertanyaan yang datang tiba-tiba dan tiba-tiba saja menggedor bathinku.
Aku diam, tak ambil peduli. Hanya deru nafas yang memburu serta sesungging senyuman diplomatis kusodorkan.
(Mungkin agak susah juga untuk dibayangkan senyuman yang diplomatis itu)
Tak banyak yang kami bincangkan setelah itu. Kecuali menikmati saat indah waktu dia menghabiskan mie telornya.
Rabu, 22 Agustus 2007, masih dalam hitungan waktu hampir sama seperti kemarin, ditempat yang sama tapi dimeja berbeda dengan perempuan yang tak sama pula.
Perempuan itu barusan balik dari KKN di daerah Wonosari, datang ketempat ini buat latihan untuk memperingati 40 hari meninggalnya seorang budayawan jawa.
Tunggu punya tunggu, waktu melaju dipukul dua puluh satu. Tak nampak ada tanda-tanda kehadiran mereka yang latian. Kegelisahan menampak di raut manis itu. Berbeda dengan perempuan yang ngobrol denganku kemarin yang begitu postmo, yang ini agaknya lumayan klasik. Rambutnya terburai membelai pantat. Dan carnya bertutur katapun agak tertata. Bahkan cenderung mriyayeni. Aku sebetulnya agak jengah juga saat menggenggam tangannya. Namun naluri sebagai Don Juan merangsangku untuk akal-akalan memberondongnya dengan pertanyaan nakal.
Kamis, 23 Agustus 2007, sore hari usai retrospeksi di Ruang Seminar, Kulihat Ra bersama Ri duduk di kantin sebelah utara Taman Pintar. Sementara aku lagi asyik menggandeng perempuan lain. (Bener-bener perempuan lain selain dua yang kemarin)
Ah, hidup ini tentu akan sangat indah...kalo saja malamnya aku tak harus kehilangan komunikatorku.
(To Be Continued)
Tuesday, January 22, 2008
You Can if you think "Yakin!"

Membuka-buka halaman awal 2008, aku memulainya dengan semacam optimisme tertentu. ada suasana yang dibangun lebih khusyu dari tahun-tahun sebelumnya. Berawal dari perjalanan ke Solo di jumat siang, 18 januari (yang tak jelas itu) sampai akhirnya harus kembali lagi ke Jogja, keesokan harinya. Belum sempat merenungkan apa yang terjadi pada diriku, aku telah disibukkan untuk berkelana ke wilayah teater.
Mampir ke salah satu teater berbasis kampus di jogja utara sebentar sabtu sore (19 januari), berasyik masyuk dengan beberapa orang disana sembari menjalani 'persembahan buat Dewa Anggur', lantas diantar seorang teman ke Bumi Perkemahan Babarsari yang lagi ngadain diklat dan workshop teater oleh Persaudaraan Teater Bening STEI. Hadir agak malaman, Kirun, Sigit (ex ManTel) serta Ines. Setelah sebelumnya Siteng yang hadir bersama Ripo, Danis serta Ali.
Malam bergerak pelan atau menjemput pagi tepatnya, di Bumi Perkemahan Babarsari yang lumayan dingin, lahirlah nama-nama seperti, Tomblok, Konyil, Ciprut, Kronjot, Citual serta Kancut bagi peserta diklat angkatan ke Sepuluh Komunitas Bening itu. inilah malam-malam yang mendahsyatkanku sebagai manusia teater sekaligus presiden PARTY. Inilah agenda awal tahun Party dalam prosesi teater. Salah satu hal yang sempat muncul dalam orasiku dihadapan peserta diklat adalah statement seperti ini,
"Kalau kalian diklat 3 atau 5 hari untuk seumur hidup kalian..maka aku yang Catur Stanis ini menjalani hidup model diklat dari bangun tidur sampai tidur lagi."
Minggu malam senin, saat ritual olah sukma yang diiringi suasana malam bulan sepotong semangka, ada kejadian yang sulit kulupakan, saat seorang peserta yang kumat asmanya mengalami kejang-kejang. (asal kalian tahu, beberapa jam sebelum kejadian itu, kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang cukup hangat..pokoknya dahsyat dech!) aku yang dengan kuasa Allah berada dekat tempat kejadian segera melakukan standar pertolongan darurat. Bahkan aku tak perlu malu mengakui kepada dunia, bahwasanya aku sempat meneteskan air mata bahagia setelah melewati saat-saat mendebarkan itu. (apalagi saat dia tidur di pangkuanku yang hangat)
Panggilan papi darinya buatku adalah ketulusan yang harus kujaga sampai kapanpun. terimakasih Tuhan, karena kehadiranku bisa berguna bagi sesama. Terimakasih kawan-kawan teater...dari manapun anda berasal dengan latar belakang komunitas apapun, kita adalah keluarga. Dan kalian adalah keluargaku pula. Akulah papi bagi teater di Jogja untuk generasi saat ini.
Kami sempat membincangkan kemungkinan kedekatan ini. Aih, aku seperti lupa saja..bahwa dimanapun aku berada, terutama didunia kesenian seperti teater ini aku senantiasa lekat dan lengket dengan makhluk lembut yang berjudul perempuan. Hampir dimana saja. Entahlah, ada sesuatu yang membuat para wanita itu mudah sekali untuk berbondong-bondong mendekati diriku. Ini sudah kodrat alam mungkin, ah..entahlah.
Sayup-sayup terdengar suara Rano Karno beberapa tahun silam saat ia masih kanak-kanak melantunkan lagu seperti...
karena cahaya harapan
masa depanku nampak gemerlapan
semangat mimpi mimpiku
mendorong laju
menggelapkanku
apapun jua yang kupandang
semua kemilauan
penuh riang
bagai dalam taman bunga
hidup penuh berlimpah cahaya
namun aku tahu
tak boleh lupa
Tuhan slalu menguji kita
Tuhan slalu menguji kita...
Lagu itu sempat populer seiring arus kepopuleran Rano Karno saat jadi bintang cilik waktu itu. (kurang lebih tahun 70an kalo kutak salah ingat)
Melihat mereka pulang dengan selamat sampai kampusnya didaerah Kotabaru, aku terharu dan bangga, ikut mengantarkan mereka menemukan jati dirinya sebagai manusia. Untuk siapapun saja yang terlibat dalam acara di 19-20 dan 21 Januari itu aku ucapkan selamat dan semoga tetap selamat.
Catur Stanis Thank's To : Keluarga Besar Komunitas Bening STEI, Rofiq, Dzikril, Taufiq, Sulthon, Nafi, Nurul, Dewi, Mudji, Muthmainah, Zul, serta siapa saja yang tak bisa kusebut satu per satu. Spesial buat Nova...'malam itu sungguh indah bagi kita', terutama bagi saya. Terimakasih telah membagi waktunya untuk membuatku mencicipi rasa bahagia!
Friday, December 28, 2007
Menutup Tahun 2007
Hujan begitu deras dan anginnya tambah kenceng. Aku harus akui terlampau dingin untuk berbasahbasah sendirian, ditepi sebuah warung yang mulai berangkat sepi. Sebentar lagi seperti biasa, pengantar sawi itu akan datang dengan motor tuanya seraya tersenyum dan berkata,"Kok belum tidur mas?" Dan aku menjawab ogahogahan, sekadar basa yang cenderung basi.
Beberapa hari terakhir ini aku disibukkan dengan kegiatan baru yang bertitel Nostalgia SMA. Entah darimana juntrungannya, tibatiba saja aku dipertemukan dengan temanteman semasa SMA yang tentu saja kini sudah banyak yang berkeluarga. Selalu ada yang bisa kubawa pulang selepas bertemu kawan lama yang telah sekian waktu terpisah jarakAda yang jadi ibu rumah tangga, membesarkan anakanaknya di rumah (satu profesi wanita karir yang sangat kukagumi, sebagaimana aku mengagumi perempuan yang ibuku). Ada yang jadi pengusaha rumah makan Padang, ada yang buka Resto B2 (hahaha), ada yang jadi suplier barang elektronik, ada yang jadi Bakul Pitik Pasar Demangan, ada yang jadi Satpam Sekolah, ada yang berwira-usaha dan sebagainya. Pendek kata, kulihat mereka sangat menikmati kehidupannya. Akan halnya diriku, aku cukup bersyukur dianugerahi cinta yang luar biasa, yang membuatku bisa bergerak kemanapun aku suka. (Dulu ada yang sempat bilang, kalo semangat berteaterku itu dialihkan untuk mengejar perempuan, tentu prestasi yang tercipta adalah rentengan perempuan dari Atjeh sampai Papua,hahaha) Ketemu lagi ama mbah Mursyid yang baru saja pulang dari ngaji di surau, aku semacam digedor perasaan yang tak kunjung menentu. Hampir sama seperti waktu aku diberi kesempatan untuk meninggalkan Padepokan Ajar Sinau, beberapa waktu lewat. Kali ini, wajah tua nan memancarkan wibawa dari mbah Mursyid, membuatku keukeuh tak berdaya. Beliau bertanya tentang empat huruf dibelakang The Stanis. Seperti kita maklumi bersama, ada beberapa header blog yang kuberi judul dengan empat huruf dibelakang The Stanis. Seperti; The Stanis POST, The Stanis CODE, The Stanis HOME, The Stanis ZONE, The Stanis SAID, The Stanis CALL, The Stanis CAMP, The Stanis PAGE, The Stanis MAGZ, The Stanis GIRL (hehehe yang ini serupa bilangan imajiner dalam rumus matematika, sering dibicarakan namun wujudnya ngga begitu jelas adanya...sama sebangun dengan Ether, Medan Magnet serta benda abstrak lainnya. Kenapa dengan EMPAT huruf? Bisa saja karena aku kebetulan adalah anak keempat. Pun juga aku pernah tercatat sebagai angkatan keempat di Jurusan Teater, pada satu tempat pada satu waktu. Aih, bisa saja kau akan menyangkaku tengah mengadaada, terlebih saat kau dengar kelak pada satu waktu dimasa lampau tentang idiom The Stanis LOVE pun juga The Stanis LIVE, maupun The Stanis GAME dan The Stanis COOL(sepertinya ada yang tak selesai sampai disini.Dan benar saja, terngiang kata-kata mas Catur Stanis di depan generasi muda teater di Jogja beberapa saat lewat,"Janganlah engkau berpikir untuk membesarkan badanmu melebihi aku, namun pikirkanlah bagaimana engkau meninggikan prestasimu melampaui prestasiku". Terimakasih karena kau mengajariku banyak hal, maka kukembalikan semuanya kepada kearifan waktu untuk mengelolanya menjadi perimbangan. Kesempatan menutup tahun 2007 ini, saya ucapkan terimakasih banyak serta banyakbanyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kehidupan Catur Stanis sepanjang 2007 ini.
Terimakasihku sebesarbesarnya untuk :
Eko Ompong,
Eko Bebek,
Agus Noor,
Mas Brotoseno,
Mas Bambang JP,
Mas Bodhol,
Mas Ndholet,
Susi Ivvaty,
Evi Idawaty,
Akhir Lu Sono,
Rendra ISI dan Ibed,
Catur Puja Sulistyawan dan Keluarga,
Mas Pur dan keluarga (mbak Astrid, Dika dan Dinda),
Warga dunia Teater dimanapun kalian berada,
Sanggar-sanggar Teater di Jogja dan Sekitarnya,
kawan-kawan Rumah Sastra,
Teater Tesa,
Teater Peron,
Penceng,
Jarot,
Bhre,
Joko Sumantri dan tumpangannya,
kawankawan Histerya semarang,
kawankawan Salatiga,
Elok dan Getarnya,
Mahunk dan sanggar Jepitnya,
Mustain dan Sanggar Nuun,
Mas Untung Basuki,
Lephen Purwarahardja,
dik Galuh Candra Kirana,
Keluarga Drg Dewi Anggraini di Gendeng,
Keluarga Bu Dien di Klitren,
Keluarga Mbak Tienuk Rifky di rumahnya,
semua keluarga, kerabat, warung angkringan maupun burjo,
Indrian Koto dan Mutia Sukma,
Mujibur Rahman,
Hamdy Salad dan Kawankawan Eska,
Dharmo Gundhul,
Knyut Y Kubro,
Keluarga Mundusaren,
Keluarga besar Kandhang Kopi (Acun dkk),
Keluarga Besar Putra Jogja (Budi dkk),
Keluarga besar Sekrup, GMT (Jalidu dkk),
Herlinatiens,
Mbak Yuli,
Aguk Wirawan,
Julung serta kawankawan LKiS,
Agus Setyawan dan TBY,
Neni Kedai Kebun,
Hindra skAnA, Sapto, Paimo dan kawankawan UNSTRAT,
Lanceng, Duja dan kost ambarrukmo,
Bob Sick Nologaten,
Teambull dan Joint Film, Beni Wahyada, Ipin,
Gito Leles,
Isa Shafarudin,
Bu Martodjo,
keluarga 57-58,
teater Ada,
TKT Teater Kebon Teboe STIE YKPN,
Aley dan Hendra serta Bethem dan kost Miliran,
keluarga Angling,
Rudi Heru Sutedja,
semua kawankawan yang dengan keterbatasan daya ingat tak sempat tercatat, setidaknya terimakasih karena kalian masih melihatku sebagai manusia bukan semata seonggok property bagian dari setting panggung.Kalianlah alasanku untuk bergerak terus dan terus bergerak...semoga ada waktu bagi kita bersua di 2008, semoga.
Friday, December 21, 2007
Sayonara bagi anda semua

When you were here before, couldn't look you in the eye
Paint It Black-The Rolling Stones is My Favourite Song

I see a red door and I want it painted black
No colors anymore I want them to turn black
This is written from the viewpoint of a person who is depressed. He wants everything to turn black to match his mood. The song seems to be about a lover who died:"I see a line of cars and they're all painted black" - The hearse and limos."With flowers and my love both never to come back" - The flowers from the funeral and her in the hearse. He talks about his heart being black because of his loss."I could not foresee this thing happening to you" - It was an unexpected and sudden death."If I look hard enough into the setting sun, my love will laugh with me before the morning comes" - This refers to her in Heaven.
The Rolling Stones wrote this as a much slower, conventional Soul song. When Bill Wyman began fooling around on the organ during the session doing a takeoff of their original as a spoof of music played at Jewish weddings. Co-manager Eric Easton (who had been an organist), and Charlie Watts joined in and improvised a double-time drum pattern, echoing the rhythm heard in some Middle Eastern dances. This new more upbeat rhythm was then used in the recording as a counterpoint to the morbid lyrics. Jagger got the line "I turn my head until my darkness goes" from James Joyce's Ulysses.
Stones guitarist Brian Jones played the sitar on this. He made good television by balancing the instrument on his lap during appearances. Keith Richards: "We were in Fiji for about 3 days. They make sitars and all sorts of Indian stuff. Sitars are made out of watermelons or pumpkins or something smashed so they go hard. They're very brittle and you have to be careful how you handle them. We had the sitars, we thought we'd try them out in the studio. To get the right sound on Paint It Black we found the sitar fitted perfectly. We tried a guitar but you can't bend it enough."
This was used as the theme song for Tour Of Duty, a CBS show about the Vietnam war which ran from 1987-1989. On the single, there is a comma before "Black" in the title. Some people thought this was a racial statement. Mick Jagger: "That was the time of lots of acid. It has sitars on it. It's like the beginnings of miserable psychedelia. That's what the Rolling Stones started - maybe we should have a revival of that."
U2 did a cover of this for the 7" B-side of "Who's Gonna Ride Your Wild Horses," and used some of it in live versions of "Bad." Other artists who have covered it include Deep Purple, Vanessa Carlton, GOB, Tea Party, Johnny Lang, Face to Face, Earth Crisis, We Are Sex Perverts (W.A.S.P.), Rage, Glenn Tipton, Elliott Smith, Eternal Afflict, Anvil, and Risa Song.
Jack Nitzsche played keyboards. Besides working with The Stones, Nitzsche arranged records for Phil Spector and scored many movies. Nitzsche had an unfortunate moment when he appeared on the TV show Cops after being arrested for waving a gun at a guy who stole his hat. He died of a heart attack in 2000 at age 63. The Stones former manager Allen Klein owns the publishing rights to this. In 1965, The Stones hired him and signed a deal they would later regret. With Klein controlling their money, The Stones signed over the publishing rights to all the songs they wrote up to 1969. Every time this is used in a commercial or TV show, Klein gets paid. This is featured in the closing credits of the movie The Devil's Advocate
It is also heard at the end of Stanley Kubrick's movie Full Metal Jacket, where it serves as an allegory of the sorrow of the sudden death in the song relating to the emotional death of the men in the film, and of all men in war.
"Paint It Black" was referenced in the second verse of the song "Thirteen" by Big Star: "Won't you tell your Dad get off my back? Tell him what we said 'bout Paint It Black. Rock 'n' Roll is here to stay. Come inside where it's OK. And I'll shake you."
This song was used in the movie Stir Of Echoes with Kevin Bacon. In the movie, Bacon's character hears the first few chords of it in a memory, but could not think of the song. It drives him crazy through most of the movie.
Wednesday, December 19, 2007
thank's

terimakasih kuucapkan kepada kawankawan yang hendak menjadikanku sebagai setting/property dalam pertunjukan teaternya. beruntunglah saya yang tak berguna ini menginsyafi keberadaan kecipak riuh disebalik punggung yang cukup menghangatkan telinga.
sekali lagi terimakasih. karena kalian begitu lucu sebagai manusia.
Monday, December 10, 2007
dari Wot Galeh ke Purnabudaya via Karangmalang
Kawan-kawan UNSTRAT tengah sibuk mempersiapkan pentas teater 2 Kotanya di Solo dan Jogja, mengunduh naskah "Pada Suatu Hari"nya, Al Mukarom Arifin C Noer. Sengaja aku menyebut beliau (ACN) sebagai Al Mukarom, karena lewat tangan beliaulah, naskah drama modern di Indonesia menemukan puncak-puncak kreativitasnya. Dialah salah satu penulis naskah drama modern di Indonesia paling berpengaruh sampai hari ini. Sementara Teman-teman SEKRUP, F MIPA UNY, disibukkan dalam prosesi produksi pentas mereka MOHABATTEIN, yang terinspirasi oleh film India dalam judul yang sama. Tentu menarik membayangkan wajah panggung teater kita dalam balutan warna Bollywood dengan tari dan nyanyinya. Yang tak kalah menarik tentu saja persiapan adik-adik mahasiswa FBS yang mengambil mata kuliah Kajian Drama semester ini. Mereka juga tengah asyik-asyiknya mempersiapkan produksi pementasan sebagai bagian dari tugas akhir studi di mata kuliah yang bersangkutan. Ada 5 naskah drama realis yang mereka persiapkan. Antara lain : Malam Jahanam karya Motinggo Busye, Sendang Kali Angke karya Menthol Hartoyo, Isyu (adaptasi) karya Heru Kesawa Murti, Sidang Para Setan karya Jaka Umbaran (Pseudo name dari seorang budayawan Jogja yang dikenal luas di seantero jagat raya) serta satu lagi yang kalo tak salah ingat karya Menthol Hartoyo yang bertitel Sketsa Rezim. Benerbener sebuah perhelatan teater akhir tahun yang sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja. Apalagi yang saya dengar, kelima pertunjukan itu free pass alias gratis. Bahkan ada door prize nya segala. Lumayan buat penahan dingin di musim ujan yang ujian ini. hehehe.
"Maaf, kalo sentimen ini tak bisa saya tahan dan mencuat begitu saja...non verbal, tapi kekuatan seorang (mantan) aktor telah menghidupkannya dan memberikan tenaga untuk melahirkan dirinya..."
Seperti kalimat siapa ya? Ah tenang saja. Akupun tak hendak membiarkan kerut di keningmu jadi semakin dalam dan menenggelamkan kecantikanmu yang mutlak itu.
Benar-benar hari-hari yang berteater di kampus UNY untuk bulan Desember sampai Januari ini.
Disesela acara teater, aku masih juga sempatkan diri datang ke Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (d/h:Purnabudaya), di Bulaksumur. Sebuah ruang publik yang belum lama ini dipergunakan juga oleh Butet Kertaredjasa lewat monolognya SARIMIN. Puji Tuhan, Alhamdulillah akhirnya Jogja punya ruang bagi ekspresi berkesenian yang representatif tanpa harus bergantung pada taman yang tidak begitu pintar di sebelah Taman Pintar itu. Apalagi kalo kita mau menengok ranah ruang publik seperti Karta Pustaka di Bintaran, Auditorium LIP atau Stage Tari Tedja Kusuma di FBS UNY serta ruang-ruang yang lain seperti kedai kopi dan lapak remang dipinggir jalan. kita tak perlu lagi menyerahkan nasib pada ke-ganas-an sosietet. Apalagi kalo beneran rumours yang kudengar, Sasana Hinggil di Alun-alun selatan akan di jadikan sebagai sentra budaya kota Jogja. Kalau ini benar, aku sujud syukur sampai benthet dahiku atas anugerah tumbangnya arogansi ruang seperti yang diperagakan sosietet selama ini. Syukurlah, ternyata penggiat seni dan budaya di kota jogja ini cukup cerdas dan bijaksana. Semoga kedewasaan untuk meninggalkan sosietet ini adalah langkah yang berarti juga menuju masa gilang gemilang dunia seni dan budaya kota jogja. Allahumma Amiin.
Kehadiranku di PUSBUD UGM tak lain untuk menghadiri Festival Literasi Indonesia, yang melibatkan berbagai komunitas dalam lintasan yang terjalin indah. Ada komunitas bloger, ada komunitas buku, ada komunitas lingkungan, ada komunitas komik, ada komunitas pecinta buku, ada komunitas pembaca buku, ada komunitas penjual buku, ada komunitas penadah snack, ada komunitas jalan terus dan pokoknya banyak dan banyak sekali. ketemu Wawan Kondo dan ikutan bantu mendiagnosis penyakit masyarakat melalui klinik penyakit sedih yang kebetulan bersebelahan dengan stand Gayam 16 yang wangi dan indah di pandang penjaga standnya itu,hahaha.
Dunia buku dan bacaan bukanlah dunia asing buat seorang Catur Stanis. Sedari kecil aku terbiasa hidup dari koleksi buku-buku. Kebetulan orang tua kami waktu itu punya taman bacaan di daerah Ngampilan Yogyakarta yang bernama Tri Yoga. Aku tak tahu pasti, apakah mbah Dauzan Farook (MABULIR) pernah singgah di Taman bacaan kami. Namun mengingat jarak antara Kauman dan Ngampilan relativ cukup dekat, setidaknya bisa jadi pernah singgah dan silaturahmi disana. Semoga saja.
Tiga hari yang menyenangkan memang. dan cukup kenyang. Apalagi slogan yang ditawarkan cukup merangsang. "Mangan Ora Mangan Maca Buku". Sekalipun bagiku tentu akan berlaku, "sak beja-bejane wong maca buku isih beja wong maca buku karo mangan". Hahaha.
Ah. kawankawan masyarakat literasi yang baik, aku bahagia dan bangga telah menjadi bagian dari kegiatan kalian selama ini. Sayang, kutakbisa menghantar kepulangan Firman Venayaksa, presiden Rumah Dunia yang juga member lama milis Ngobrolin Teater serta banyak kerabat yang lain. Selamat untuk panitia, peserta, pengunjung serta penggembira seperti saya. Sampai jumpa di perhelatan yang lainnya. thanks Jambrong...ternyata kita sama-sama dari kandang itu pula,hahaha. Thank's Herlina Tiens untuk saat-saat indahnya. Dwi Cipta, Siho, Steve dan Maria, Wawan Kondo, Gendhon serta masih buanyaaak lagi. terimakasih secara khusus buat Perpustakaan UGM atas kerjasama hangatnya yang menarik. Kawan-kawan 1001 Buku, Sokola (Evi dkk), Papper Moon (Ria dkk), AWI, Viddy serta yang lainlainnya..mohon maaf tak tersebutkan satu persatu. Serta lesbian manis yang ketemu disalah satu stand PKBI, thanks. Oya sebelum lupa, terimakasih banyak buat Devi UBAYA di stand PUSDAKOTA atas ngobrol indahnya menjelang subuh tiba. Ah, kamu mengingatkanku akan banyak hal...
Monday, November 26, 2007
Nama Berbeda Wajah Mirip Semua
Padahal semestinya, teater mahasiswa di Jogja, cukup memiliki bekal untuk menemukan identitas spesifik yang membedakannya dengan komunitas lain. Bukankah teater mahasiswa di Jogja berangkat dari latar belakang kampus yang beragam. Kenapa bentuk ekspresinya bisa menjadi semata seragam? Sebuah keanehan yang bukan saja mengada-ada namun cenderung untuk menjadi sedemikian absurd.
Kegelisahan ini telah cukup lama sehingga membuat hubunganku dengan beberapa kawan di Jogja jadi seakan berjarak. Sungguh sebuah tata pergaulan yang absurd kukira. Dan sampai kapanpun jogja tak pernah beranjak dari absurditas semacam itu. Maka aku memilih untuk berdiam di tempat lain dan mencari kemungkinan buat berkembang lebih baik lagi. Dan kau tau kawan, aku ingin semuanya menjadi wajar, baik ada atau tiada aku diantara kalian.
Telah kukatakan pada seorang teman, saat kami ketemu di beranda kost temannya di bilangan Sapen Jogja, tentang pengunduran diriku dari segala aktivitas kesenian di kota Jogja. Dan kalau lantas kemudian kami memilih Solo, kalian mau apa? Sekali lagi ini soal pilihan semata kawan, dan tak ada hubungannya dengan cinta ataupun benci. Celeng mencretlah itu semua! Aku bergegas untuk menggantang harihariku kedepan karena memang hidup sudah sedemikian menantang.
Maka aku memilih untuk banting stir dari kehidupanku yang lalu dan meniatkan diri untuk mengubah hidupku, sukursukur jadi konglomerat atau apa gitu. Kamu pasti sulit untuk percaya, kalau aku bisa berpikir untuk meninggalkan kenikmatan semu yang bernama pergaulan komunitas, serta memilih kehidupan senyap dalam ruang di bathinku untuk menjadi seorang penyusur sunyi. Istilah pejalan sunyi menjadi remeh temeh sekarang, karena banyak orang telah merasa memilikinya. Dan pilihan menjadi penyusur ini adalah pilihan terindah dalam hidupku.
Akulah penyusur itu. Yang bergerak di gelisah malam menuntaskan rindu pada hamparan sebidang pulau yang jauh di sono noh. Biar saja mereka bilang saya seperti apapun saja, yang penting saya sedang berbuat untuk sesuatu. Setidaknya semoga bermakna buat diri ini. Selebihnya biar menjadi urusan semesta.
Aku sesungguhnya tak hendak lagi ingin memaki langit. Tapi memang barangkali inilah satusatunya cara agar tak menjadi kalut
Pesta itu Peristiwa itu
Saturday, November 24, 2007
Pledoi Sang Benalu
Seperti kaubilang May, lelaki menghargai dirinya dengan kesetiaan, meski bagiku kedengaran berlebihan apabila kesetiaan pada bayangbayang itu mengalahkan realitas yang sesungguhnya bisa kita maknai lebih.
Sesiang tadi aku berbincang dengan seorang kawan lama tentang banyak hal. tentang Pajajaran dan Majapahit yang terlibat konflik dimasa silam namun imbasnya begitu mencekam sampai detik ini. Untung di pulau jawa ini ada wilayah yang bernama Jateng dan DIY (dimana harmoni bersemayam). Apa jadinya apabila Jabar berbatasan langsung dengan Jatim? Sebuah perang yang tak kunjung usai.
Ah, pastilah kau mengiraku tengah mengigau kacau, lantaran semalam waktu begitu sempit bagi kita untuk menuntaskan segala perbincangan. dan kurasa tak harus tuntas, biarkan saja menggantung dan kelak bila kita mulai tersadar dari buai impian, akan kita dapati secarik kertas buram bertuliskan : tak ada yang diciptakan untuk menjadi siasia, semoga saja.
Tawaran demi tawaran berseliweran didepan mata, mengusikku serupa nyamuk yang mengerubungi putih gigimu...sebuah metafora yang kacau. Tapi biar saja, apa sich yang nggak kacau dari seorang nista seperti diriku.
Ssst...kubilangi sebuah rahasia, sesungguhnya julukan yang tepat buatku adalah nista itu sendiri, karena saat kau baca berulang, akan kau temukan keajaiban bunyi yang sama seperti yang kau temukan dalam HANTU dan TUHAN. Hantukah aku? Yang pasti bukan Tuhanlah...nggak enak ama tuhan beneran yang asyik nongkrong di Arsy sono sambil melirikku dan manggutmanggut penuh kebanggaan.
Kenapa DIA menciptakan makhluk serupa diriku? ntahlah...kurasa bukan iseng belaka. aku tak percaya kalo diriku adalah hasil keisengan Tuhan dalam menyelenggarakan dunia. Pasti ada maksudnya meski banyak dari kita belum tau.
Dan di solo, di solo...tempat tinggalku y.a.d... kawankawan mendekapku dalam kehangatan yang menakjubkan. Jadi tiada salah jika daku memilih solo sebagai hometown dan meninggalkan jogja yang sok istimewa itu.Satusatunya alasan kuatku untuk meninggalkan semuanya adalah, agar aku tak harus menjadi benalu dikotaku sendiri. Mungkin aku masih manusia yang menolak untuk dianggap dirinya sebagai parasit!!!
di sini, aku menemukan sekeping cinta yang luar biasa...
Friday, November 16, 2007
Ihwal Tontonan Dan Penonton
Monday, November 12, 2007
Jum'at,Sabtu,Minggu
Jum'at siang yang sejuk dan kering di joglo Cepuri Parangkusuma, sebutir mimpi kucuri dari pias wajahmu yang kelelahan. Ada kedamaian menghampar dari pejam matamu. Sisa kelelahan dalam rentang perjalanan membuatku nanar menatap ungu ragumu. Hari belum beranjak sore saat kugamit langkah menuju tangga batu yang tersusun acak di kerindangan Makam Syech Maulana. Lanskap yang terhampar serta dada yang berdebar menunggu malam di reriungan canda.
Jum'at sore luput menangkap sunset yang bersembunyi disebalik kelam awan. Mungkin hujan deras di utara, sedang kita disini masih juga saling menrjemahkan tanda-tanda. Dibibir pantai ini, seulas senyummu menyejukkan bathinku, menjinakkan darahku.
Saat senja menjelma malam, dalam deru ombak yang hingar, bergelas-gelas kata kita bakar. Dan malampun lewat. Tanpa kata tanpa suara. Hanya beku angin mengabarkan mimpi yang tertunda. Hanya dengkur berpacu dalam dekapmu yang hangat dan damai.
Terimakasih karena kau perkenankan menjemput pagi bersamamu.
Sabtu siang di terminal yang bising, tak pernah kuucap selamat jalan, karena bagiku kemanapun engkau menjejakkan kaki, kau tak pernah berada dimana-mana selain senantiasa tinggal dalam ceruk bathinku yang membiru oleh lumut waktu.
Maka kuperkenankan siang membawamu berlalu.
Sore, di mobil Agus Noor yang melaju mengantarku menuju Sewon, aku lebih banyak terdiam. Titik-titik air yang basah itu mengingatkanku pada seuntai cerita yang dibawa oleh kemarin. Masing-masing punya cara tersendiri, masing-masing punya jalan untuk menggerakkan kaki.
Sabtu malam di lapangan depan Teater Arena ISI, bersama kawan-kawan kami menenggelamkan diri dalam putaran kisah yang dipaparkan teman-teman dari Sanggar Kampoeng Seni Banyoening.
Sengaja aku ketempat ini bukan semata menghindari acara di tempat lain. Namun lebih sebagai bentuk kecintaanku yang bisa jadi berlebihan kepada makhluk yang bernama teater.
Ngobrol dengan Dwi sebelum masuk ke ruang diskusi. Tiba-tiba saja bayangmu melintas. Bersama seonggok jagung bakar dan derai tawa yang entah dari mana.
Usai segalanya, kukendarai malam membelah kota bersama Joni Ariadinata. Di perempatan Gondomanan kami berpisah. Joni pulang ke Gamping dan aku melanjutkan langkah menuju kawasan Gowok.
Minggu siang di kamar Koto kurebahkan lelah sampai sore membangunkanku pergi ke kantor. Entah kantor yang mana, entah kantor siapa.
Wednesday, October 31, 2007
Dalam Bayangan Tuhan Bersama Peron
Saturday, September 22, 2007
Interview With Catur Stanis
Srikandi : Kenapa Anda memilih untuk bersikap konfrontatif terhadap lembaga seperti TBY?
Stanis : Pertama bisa jadi kekecewaan, tapi itu tidak begitu penting. Yang kedua dan terutama adalah justru penegakan nilai-nilai keadilan.
Abimanyu : (Menyela) Maaf, yang Bung maksud dengan keadilan itu bagi siapa? Bagi diri sendiri, orang lain atau bagi siapa ?
Stanis : (Sambil tersenyum bijak), Tentunya awalnya bagi diri sendiri namun lantas aku melihat kemungkinan lebih luas bagi sesama.
Srikandi : Bisa dijelaskan secara lebih kongkrit, kira-kira bentuk keadilan seperti apa yang Anda inginkan?
Stanis : Yang harus diingat adalah, lembaga semacam Taman Budaya itu memiliki kewajiban moral untuk melakukan pembinaan terhadap kesenian dan senimannya. Menjadi naïf saya kira kalau seorang peternak sapi perah berharap mendapatkan hasil susu yang berkualitas tanpa menyediakan rumput yang segar serta tersedianya kandang yang kondusif bagi tumbuh dan kembangnya sapi itu.
Abimanyu : Maaf, apa hubungannya antara seniman dan sapi perah?
Stanis : (Sembari mengulum senyumnya) Tentu saja ada kawan. Kalau lembaga seperti Taman Budaya tidak mau (Bukannya tidak mampu lho!) Ikut memikirkan kesejahteraan seniman, berarti dia (lembaga itu) sudah mengingkari hukum pendiriannya.
Srikandi : Bagaimana dengan sinyalemen bahwa setelah otonomi daerah, lembaga seperti TBY ini jadi terpangkas sumber dananya?
Stanis : Saya tidak menafikan hal itu, tapi kalau pengelola TBY mau kreativ dalam mendaya gunakan potensinya, bisa saja mereka merangkul pihak swasta. Semacam mekanisme kerjasama seperti yang galib dilakukan di antara kawan-kawan EO.
Abimanyu : Iya ya. Tapi kenapa hal ini tak dilakukan?
Stanis : Jangankan berpikir tentang sesuatu yang inovativ, untuk memulai sesuatu yang bisa melibatkan semua kalanganpun nampaknya TBY ogah-ogahan. Mereka cukup puas berposisi sebagai birokrat seni dan pegawai yang sok nyeniman. Padahal samasekali tak berpihak pada kehidupan seniman.
Srikandi : Ada contoh kongkretnya?
Stanis : Lihat saja Sosietet yang berdiri pongah dengan harga sewa yang tak murah itu. Hanya yang mempunyai uang yang bisa menyewa gedung yang konon representative untuk pertunjukan itu.
Abimanyu : Kalau menurut anda, sepadankah harga sewa itu dengan fasilitas yang diberikan VOC eh Sosietet itu?
Setelah tertawa bergelas-gelas. Dan menyeruput kopi masing-masing yang mulai dingin, Stanis melanjutkan sabdanya.
Stanis : Disitulah sebetulnya salah satu kejanggalan yang sering menjadi kejengkelan diantara kawan-kawan pengguna gedung kesenian yang untuk mengongkosi pendiriannyapun harus tega menggusur otoritas ruang ekonomi bakul palawija, yang nota bene adalah rakyat kecil.
SEPERTI KITA TAHU, SOSIETET BERFUNGSI SEBAGAI SEMACAM PENGGANTI SENISONO YANG TELAH DI GUSUR UNTUK PERLUASAN GEDUNG AGUNG.SEKITAR TAHUN 1991-1992 SENIMAN DI JOGJA TERGABUNG DALAM DKSI (DEWAN KESENIAN SWASTA INDONESIA) MENCOBA UNTUK MELAKUKAN AKSI MENOLAK PEMBONGKARAN SALAH SATU BANGUNAN YANG MERUPAKAN HARGA DIRI HATI NURANI RAKYAT ITU.
Stanis : Maka menjadi sebuah kewajaran apabila di era tumbangnya wadah tunggal (sebagaimana menjadi sesuatu yang lazim dahulu kala di era ORBA), saat ini siapapun saja bisa dan boleh membangun wadahnya sendiri untuk media bagi kegelisahan bersama.
So, tak ada alasan untuk menolak hadirnya Lembaga Kesenian Swasta. Kalau memang kinerja Lembaga Kesenian Negara tak lagi becus menghargai kesenian dan senimannya, maka kami memberi tawaran lebih yang tak juga mereka berikan.
Mas Abimanyu dan Mbak Srikandi manggut-manggut penuh irama dan Catur Stanis meneruskan kata-katanya.
Stanis : Atas dasar itulah Solidaritas Indonesia Untuk Teater Jogja mempermaklumkan keberadaannya. Ditengah situasi serba canggung serta kurangnya aspirasi para pengemban amanat kebudayaan negeri ini menjalankan fungsinya.
Srikandi : (setelah menyeruput teh jahe serta mengganyang ketela rebusnya) Untuk itulah anda menggalang kekuatan.
Stanis : Tidaklah sesederhana itu persoalannya. Pertama, Teater berbasis kampus ini sekarang bergerak hampir tanpa pembela. Mereka dibiarkan sendirian untuk bertahan hidup. Kedua, soal estetika yang dipaksakan. Bagi saya biarkan saja Teater berbasis kampus dengan estetika mereka sendiri. Tanpa intervensi berlebihan dari pihak diluar kampus. Apalagi para petualang yang justru bisa merusak eksistensi Teater berbasis kampus itu sendiri.
Abimanyu : Sebegitu menyeramkankah kondisi yang di hadapi Teater berbasis Kampus?
Stanis : Mungkin yang terjadi lebih dahsyat lagi. Saya justru sedang berupaya untuk menghaluskannya dengan semacam eufimisme tertentu, agar orang tidak lekas gampang kaget dan kemudian jadi jantungan.
Saturday, September 1, 2007
Stanislavsky Sistem
A great deal has been said and written about what has come to be known as "the Method." It is the preeminent acting style of American actors. It would be very difficult to improve on the following definition of the tenets of Method acting.11. The actor's essential task is to reproduce a credible reality—verisimilitude—on stage or screen, founded on acute observations of the world. Method teachers do not hold that this restricts actors to any one style of production, but this task does closely link the Method with American naturalism, which has the same aim.
2. The Method justifies all stage behavior by establishing its psychological soundness. To provide a unifying motivation for this behavior, the actor determines a single overall purpose for the character. This is commonly known as a "super-objective,"or "through line," or "spine." This larger purpose is divided into smaller, act able units called "objectives" or "actions."
3. Great value is placed on the expression of genuine emotion, which may be evoked through a technique called "affective memory."
2(Affective memory has become an extremely controversial device that has, in its most popular version, "emotional recall," split the community of Method teachers.)
3(a) The central purpose of the creative actor's work is the cultivation of "life of our inner feelings." According to Boleslavsky, this involves the development and use of the actor's "affective memory": the recalling and re-experiencing of previously felt emotions.Stanislavski developed exercises with which the actor, by recalling the sensory details that accompanied an emotional experience, could entice the emotion from his subconscious and re-experience it. Madame Ouspenskaya used to call the actor's affective memories "golden keys," which unlocked some of the greatest moments in acting.________In the last four pages of the "Overture, section of SWAN'SWAY, Marcel Proust describes a perfect example of the affective-memory phenomenon and how it is linked to particular sensory keys that can unlock long-forgotten feelings.
3 The novel's narrator recalls how his mother served him some tea with "those short, plump little cakes called `petites madeleines.'" He takes a sip of the tea into which he has dipped a piece of Madeleine and suddenly experiences an exquisite sense of joy. He tries another sip of the tea and cake and then another, but the sensation seems to diminish.He considers for a moment, then concentrates on the sense memory of the taste of "the crumb of Madeleine soaked in a decoction of lime-flowers," and immediately a flood of reminiscences is released: here members the Sunday mornings at Comb ray, when as a child, his aunt Leonie gave him a piece of the Madeleine she had dipped in her own cup of lime-flower tea, the re-experiencing of which unfolds in the complex of recollections that becomes REMEMBRANCE OF THINGS PAST.
There are many examples in theatre history of performers making unconscious use of their affective memories. For example,Edmund Kean was truly emotionally moved when he picked up the skull of Yorick in the gravediggers, scene in HAMLET. It seems each time he held Yorick's skull he would be reminded of a beloved uncle who had given him his first lessons in acting and who had introduced him to Shakespeare. By this example we see that the actor had a real emotional response that came from his connection with the play and the character.Specific acting exercises are used only as a last resort. The given circumstances of the play, character, and action are of primary importance. After the performer analyzes his part to see what feelingor emotion is necessary at a given moment in a scene, he searches his own life for a remembered feeling or emotion that parallels the former. Using sensory exercises the actor retrieves the parallel emotion from his affective memory. The actor is not to be concerned with how the emotion will manifest itself, only with finding it and creating the sensory realities that will unlock the memory. When the affective memory is tapped, the mental processes set in motion do cause psycho physical responses. They stimulate the player's physical and mental being with remembered sensations and emotions that color his or her behavior and vocal expression in ways that both the actor and the audience experience as real and exciting. This is what gives fine acting its "aliveness" and verisimilitude.The Method teacher Robert Lewis has this definition of affective memory:
4.The theory is that if, quietly relaxed, you think back over a certain incident in your life which moved you strongly at the time,and if you can remember and recreate in your mind the physical circumstances of that moment (where you were, who was there, what happened, the time of day, the place, surroundings) and start reliving it . . . it is possible that a feeling similar to what you felt at that time will recur.4. Each actor's own personality is not only the model for the creation of character, but the source from which all psychological truth must be distilled. Here's what Brando has to say about "use of self".
5.People often say that an actor "plays" a character well but that's an amateurish notion. Developing a characterization is not merely a matter of putting on makeup and a costume and stuffing Kleenex in your mouth. That's what actors used to do, and then call edit characterization. In acting everything comes out of what you are or some aspect of who you are. Everything is a part of your experience. We all have a spectrum of emotions in us. It is a broad one, and it is the actor's job to reach into this assortment of emotions and experience for the ones that are appropriate for his character and the story. Through practice and experience, I learnedhow to put myself into different moods and states of mind by thinking about things that made me laugh or be angry, sad, or outraged; I developed a mental technique that allowed me to address certain parts of myself, select an emotion, and send something akin to an electrical impulse from my brain to my body that enabled me to experience the emotion. If I had to feel worried, I'd think about something that worried me; if I was supposed to laugh, I thoughtabout something that was hilarious.
5. Improvisation is encouraged as a rehearsal aid, and even in some cases as part of performance, in an effort to keep the actingspontaneous, and thus lifelike.
6. The Method promotes intimate communication between actors in a scene, thus striving toward the performance ideal of true, unifiedensemble acting. Some acting exercises developed for this purpose are: the mirror, group use of imaginary objects, group movement exercises, and improvisations. Ensemble acting does mean more than just consistently good acting by all cast members. It generally implies that everyone onstage is acting in exactly the same style, and it requires concentrated group scenes. Unfortunately, the history of American drama and film contains few examples of it. It may be the sad case that for American actors, who strive to create theater in a highly commercial context that supports the star system, moments of intimate connection between individuals are often the closest they come toens emble acting.
67. The use of objects is stressed both for their symbolic value and as reminders of the solid, material world.
Jelajah Jogja
Friday, August 31, 2007
The PARTY'S Coming Up
22 Papringan Yogyakarta seputar akhir Januari sampai akhir Maret
2007, yang baru lalu, maka saya sebagai salah satu oknum yang
berkenan memungkinkan acara itu ada dan tentu saja tanpa menafikan
peran penting dari beberapa elemen teater yang hadir dan turut
terlibat dalam pembicaraan yang santai dan diiringi taburan aroma
harum kopi itu, maka saya perlu mereview kembali melalui milis kita
ini, beberapa pernyataan saya mengenai "Teater Berbasis Kampus".
Pertama adalah sebuah upaya untuk menghindari pengkutuban yang
sejatinya tidak perlu ada namun cenderung telanjur telah tercipta
tentang dikotomi teater kampus dan non kampus (untuk merujuk pada
komunitas teater yang hidup dan berkembang diluar kampus)
Kenapa saya memilih untuk tidak menggunakan istilah teater kampus
dan non kampus? Semata mengingat dari wacana sejarah teater modern
negeri ini, hampir tidak ada teater (modern) yang sungguh-sungguh
murni terlepas dari pengaruh kehidupan kampus.
Menyebut beberapa nama kelompok teater dinegeri ini yang terlanjur
dikenal, itupun tak lepas dari pengaruh para pengelolanya yang
terdiri atas sekumpulan manusia yang pernah mengenyam pendidikan
ataupun bersentuhan secara langsung maupun tidak dengan kehidupan
kampus.
Sayapun termasuk orang yang sepakat bahwa toleransi yang berlebihan
serta penggunaan bahasa permakluman yang tidak proporsional didalam
menimbang serta menakar kreativitas temen-temen teater kampus,
justru bisa berakibat fatal pada terjadinya pola pengerdilan atas
teater yang berbasis kampus tersebut.
Untuk itu saya mengajak kawan-kawan teater untuk menggairahkan
kembali diskusi usai pentas yang akhir-akhir ini mengalami bukan
saja kelesuan namun yang cukup menggelisahkan adalah kenyataan bahwa
ada sementara komunitas teater (di Jogja) yang menunjukkan sikap
apriori berlebihan serta terjebak dalam "diskusio-phobi" yang
sungguh-sungguh tiada perlu.
Semoga sedikit tegur sapa ini menggugah kita semua khususnya saya,
untuk mampu memperjalankan kehidupan berteater secara lebih sehat
dan manusiawi.
Aku ajak engkau semua sahabat-sahabat teaterku di Jogja ini
seperti :
Teater Gadjah Mada (UGM),
Senthir (UNWAMA),
Klenik (UNCOK),
Djemuran (FT UII),
Relung (Jur Bhs Inggris FBS UNY),
Lobby Doea (STPMD APMD),
Soekma (ABA YIPK),
Salam Manis
Catur Stanis
::Pengusung Spanduk bertuliskan "Theatro Ergo Sum"::
Monday, August 6, 2007
:Ngobrolin Teater
Anggauta milis yang budiman...sepuluh hari sesudah kuketikkan tulisan ini, milis kita tercinta akan segera memasuki tahun pertamanya berselancar di wilayah cyber. Tepatnya pada 14 Januari 2006. Sebagaimana lazimnya sebuah peringatan hari kelahiran, maka beberapa penggagas, pemrakarsa serta pengelola milis ini, beberapa waktu yang lalu telah bertemu dan duduk satu tikar di markas besar CS HOT (CaturStanis House Of Theatre), dikawasan Condongcatur Yogyakarta. Kantor yang tak begitu luas dan sepertinya memang jauh dari perawatan yang memadai sebagaimana layaknya sebuah ruang kantor itu telah dijubeli oleh ketiga "Trimurti" pendiri,penggagas sekaligus pengelola CS HOT yang merupakan lembaga resmi pemangku milis "Ngobrolin_Teater"kita yang tercinta ini.Mereka adalah; CN Graha, penyair yang bersetubuh dengan kesenyapan sunyi, Catur Stanis, Aktor penyendiri yang menyukai kesunyian yang baru saja menyelesaikan pentas tiga kotanya menggiring "Anjing Kudisan" di Jogja-Bandung dan Lampung, serta tak ketinggalan Remon Concat sang Penjaga Hati Wanita penderita penyakit kronis Syndroma of Woman oriented yang tak terobati itu. Bertemu dalam obrolan hangat seputar gagasan mewujudkan Ngobrolin Teater Live di Markas Besar CS HOT, dijl.Menur III/56, Perumnas Condongcatur, Yogyakarta. Gagasan itu muncul dari beberapa desakan kawan-kawan Jaringan KerjaTeater Kampus (JAKET KAMPUS) yang tidak bisa tidak merupakan embrio bagi lahirnya jabang bayi Ngobrolin_Teater pada 14 Januari 2005 lalu. Dari pergesekan kreativ dikalangan teater kampus itulah, maka CS HOT menemukan media pemenuhannya bagi aktualisasi serta kebutuhan silaturahmi dikalangan masyarakat teater, bukan saja di Jogja melainkan juga di seluruh penjuru dunia, melalui kendaraan internet. Dalam kesempatan ini, tak lupa kami haturkan terimakasih banyak dan banyak-banyak terimakasih kepada Yahoogroups, yang telah memungkinkan semua ini ada dan maujud bersama. Juga tak lupa ucap terimakasih yang tak terhingga kepada Google, sebagai asisten paling cerdas(setidaknya) untuk saat ini. Juga tentu saja tak kalah pentingnya adalah, ucapan terimakasih secara tulus bersama ikhlas kepada semua member milis Ngobrolin_Teater dimanapun anda berada.Kepada siapa milis ini dipersembahkan, semoga anda semua dapat menikmati kemanfaatan dari milis ini.Salam kami ucapkan kepada para pengelola milis sejenis ini, yang telah berkiprah mendahului kami, seperti Forum Teater Indonesia maupun Pojok Teater. Terimakasih atas kerja barengnya yang cukup mesra selama ini.Dari lubuk terdalam dihati kami bertiga, kami ucapkan terimakasih karena kalian semua masih mau berbuat bagi teater yang lebih baik lagi.Kepada rekan-rekan pekerja teater, Aktor, make-uper, Skenografer, Lighting Designer, Stage Manager, Programer, scriptwriter, serta semua dan siapapun saja yang terlibat secar aktif diwilayah pertunjukan teater, kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas perhatian yang indah dan membahagiakan selama ini. Semoga ditahun-tahun yang akan kita jelang mendatang, kita dapat melakukannya lebih dan lebih baik lagi. Selamat berbuat bagi teater...dan saatnya untuk menegakkan harkat dan martabat perteateran ditengah arus deras hedonisme yang menggejala bagai sesuatu yang biasa-biasa saja.
Condongcatur, saat malam mengetuk pintu pagi dan anjing dikejauhan melolong entah lapar, entah mengutuki nasibnya karena menjadi anjing.
Contact Person Kami:+6281802621581
Tuesday, July 31, 2007
Teater Tokoh
(Bali Post Review/Putu Setia)
Siapa Bapak Teater?
Dulu pernah dalam sebuah perbincangan angkringan di salah satu sudut kota Jogja suatu malam, saya bersama rekan-rekan mencoba mencarijawab atas pertanyaan nakal. "Kalau Palang Merah punya bapak namanyaHenry Dunant serta Gerakan Pramuka punya Lord Badden Powell. Kira-kira Dunia Teater siapa ya 'bapak'nya?"Tanpa bermaksud mengecilkan peran tokoh-tokoh yang lain,Drama Realistak mungkin menghilangkan peran yang terlanjur ditanamkan olehpeletak dasar akting didalam teater modern yang pengaruhnyapun terasasampai hari ini.Bahkan sejarah perfilman di Hollywood sendiri tak pernah bisamengenyahkan dari ingatan akan nama-nama besar seperti Marlon Brando,Robert De Niro, Dustin Hofman serta Al Pacino maupun banyak yanglainnya. Yang kesemuanya pernah merasakan sentuhan pola latihan "TheMethod"Pun juga buku yang pernah dijadikan rujukan internasional dalam duniaseni peran seperti "Acting Is Believing" juga tak bisa disterilkandari pemikiran pria kelahiran Moskwa satu itu.Siapakah Konstantin Stanislavsky itu? mari kita simak tulisan yangsengaja saya kutip utuh dari versi bahasa inggrisnya ini. Sebetulnyasaya pengen mengutip langsung dari versi bahasa Rusia, tapi nalurikekhawatiran saya mengatakan,"Slow wae Nis, tidak semua orang pahamdengan Bahasa Rusia". Memang agak susah dipahami, sebagaimana halnyakadang bagi banyak orang catur stanispun susah dipahami, hahaha.Wis lah daripada lebih panjang pengantarnya, silahkan menikmati...
Born in Moscow in 1863, Constantin Sergeyevich Stanislavsky had amore profound effect on the process of acting than anyone else in thetwentieth century. At age 14, Stanislavsky joined a theatrical grouporganized by his family, and soon became its central figure.Throughout the late 1800s he improved as an actor and began toproduce and direct plays. It was his assertion that if the theaterwas going to be meaningful it needed to move beyond the externalrepresentation that acting had primarily been. Over forty years hecreated an approach that forefronted the psychological and emotionalaspects of acting. The Stanislavsky System, or "the method," as ithas become known, held that an actor's main responsibility was to bebelieved (rather than recognized or understood).To reach this "believable truth", Stanislavsky first employed methodssuch as "emotional memory." To prepare for a role that involves fear,the actor must remember something frightening, and attempt to act thepart in the emotional space of that fear they once felt. Stanislavskybelieved that an actor needed to take his or her own personality ontothe stage when they began to play a character. This was a clear breakfrom previous modes of acting that held that the actor's job was tobecome the character and leave their own emotions behind. LaterStanislavsky concerned himself with the creation of physical entriesinto these emotional states, believing that the repetition of certainacts and exercises could bridge the gap between life on and off thestage.In his travels throughout the world with the Moscow Arts Theater,Stanislovsky earned international acclaim as an actor, director, andcoach. Among his collaborators were the writers Tolstoy and Chekov.While Stanislavsky's new method of acting supported actors inbreaking from the exact lines and actions of the script, it alsodemanded that they pay closer attention to the important unsaidmessages within the writing. This prompted writers such as Chekov tomake subtler emotionally alive work.Today in the United States, Stanislavsky's theories are the primarysource of study for many actors. Among the many great actors andteachers to use his work are Stella Adler, Marlon Brando, SanfordMeisner, Lee Strasberg, Harold Clurman, and Gregory Peck. Many of these artists have continued experimentation with Stanislavsky'sideas. Among the best known of these proponents is the Actor'sStudio, an organization that has been home to some of the mosttalented and successful actors of our time.
Sampai disini, saya kira tidak terlalu sembrono kalau saya menyebut Stanislavsky adalah peletak dasar Akting Realis. Anda boleh tidak setuju...dan mari kita perbincangkan hal ini sembari menyeruput kopi dan ngemil. hehehe. Meski kata teman saya yang jadi imam langgar, "Boleh jadi Stanislavsky memang salah satu bapak teater tapi aktor pertama di dunia pasti Nabi Adam hahahaha!"
Fakta Yang Agak aneh adalah sebuah kebetulan:
1888, Konstantin Stanislavsky mendirikan Society Of Literature and Art dimana seratus tahun kemudian ditahun 1988, Catur Stanis masuk Jurusan Teater ISI Yogya
1898, Konstantin Stanislavsky mendirikan Moscow Art Theatre seabad berselang di tahun 1998, Catur Stanis mendirikan CS HOT (catur stanis house of theatre)
Bisa jadi kedua fakta diatas, menunjukkan bahwa guyonan Dewo Hadiningrat senior Stanis di Jurusan teater waktu itu tidak mainmain memberikan anugerah julukan Stanis padanya saat malammalam mencekam penuh canda di Gempol Forum waktu itu.
Teater di Jogja mencoba menggeliat ditengah himpitan Mall
Potret Teater Kampus Awal 90an
Thursday, July 26, 2007
Menjahit (kembali) Yang (sempat) Robek
Saya memang bukan siapasiapa, dan tidak pernah sedetikpun bermimpi untuk menjadi apaapa. Saya yang sebetulnya bukan warga sastra, karena saya lebih afdol ketika bergaul di wilayah teater.(hanya saja karena teater bukan lagi sesuatu yang menarik untuk di FKYkan, maka saya memilih untuk jalanjalan dari kota kedesa kembali ke kota lagi di seantero nusantara)
Dan ini adalah bentuk keperihatinan saya dalam formatnya yang lain. Prihatin, Perih di Bathin, kurang lebih begitu saya memaknainya. Perih menyaksikan saudara-saudara saya di sastra terutama dalam konteks FKY ini begitu meributkan satu hal yang sebetulnya sangat bisa diselesaikan dengan cara yang lebih bermartabat. Semisal dengan Rembug, seperti diawal tulisan ini tadi telah coba saya kemukakan.
Kalau saya boleh berandaiandai untuk melipat waktu sebelum kejadian, tentu tak perlu ada konflik yang sesungguhnya tak perlu ada itu. Kalau saja divisi sastra FKY waktu itu mau mengadakan pertemuan sebelum memutuskan untuk memilih siapa yang berhak tampil di acara FKY, tentunya tak perlu ada gejolak, yang sedikit banyak lumayan membuat jantung kita sebagai penonton jadi kebat-kebit karenanya. Kalau saja dan kalau saja. Karena segalanya telah terjadi. Tinggal bagaimana sekarang langkah kita bersama untuk menjahit kembali sesuatu yang telah terkoyak itu. Bagaimanapun juga saya lebih percaya pada kearifan kita untuk menyikapi ini semua.
Dan inilah indahnya dinamika pergaulan Jogja. Sesakit apapun, permaafan selalu menjadi pintu pembuka bagi setiap nikmatnya silaturahmi. Mari kita rentangkan tangan, duduk bersama dalam satu tikar dilantai diskusi, seminar, lokakarya maupun omong-omong. Sebab semoga saja matahari esok pagi tetap bersinar menghiasi hari. Seyogyanya ada semacam lembaga ataupun person yang mau untuk menjadi media terjadinya ishlah bagi retak yang sempat ada ini. Bisa jadi lembaga semacam Taman Budaya atau Dinas Kebudayaan bisa lebih sigap lagi untuk merangkul kembali anakanaknya yang tengah dilanda kekisruhan itu. Semoga saja.
Maka kalaupun toh ini hanya sekadar menjadi sebuah impian, biarkan saja. Setidaknya ia pernah ada.
Wednesday, July 18, 2007
Sang Hyang Singha Parasu Deva
Polan seperti remaja yang lainpun mengalami semacam rasa puber tertentu kepada makhluk yang bernama Teater ini. Bisa jadi inilah bibit awal kecintaannya pada teater. Namun kalo kita runut kebelakang lagi, sebenarnya perkenalan pertama Polan pada teater justru saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar saat menyaksikan beberapa kakak Eks Bengkel Teater (yang memilih bertahan di Jogja) latihan di daerah Ketanggungan Jogja. Sementara Polan tinggal di Ngampilan tak jauh dari Ketanggungan. Saat itu di benak Polan yang belia tak pernah sedikitpun terbersit bayangan andai satu ketika ia justru menjadi sangat terlibat dalam serta merasuk jauh kedalam kubangan sumur tanpa dasar (meminjam istilah om Arifien) yang bertitel TEATER. Dalam benaknya yang belum begitu rimbun dengan istilah-istilah dramaturgi, Polan sekadar menikmati dan hanya menikmati geliat nikmat kakak-kakaknya di Bengkel maupun setelah itu Arisan Teater yang di back up oleh Himpunan Teater Yogyakarta.
Art Gallery Senisono disebelah selatan Gedung Agung seberang Beteng Vredeburg, serta Gedung PPBI di jalan (sekarang) Ibu Ruswo, adalah tempat dimana Polan menyaksikan bergulirnya beberapa peristiwa Teater. Kelebatan nama-nama kelompok Teater seperti; Dinasti (Fajar Suharno dkk), Alam (Azwar AN dkk), Stemka (Landung Simatupang;Hasmi dkk), Poladaya (Yoyok Aryo dkk), Muslim (Pedro Sudjono dkk), Ramadha (Brisman HS dkk),Kronis (Aziz Sumarlo dkk),Starka (Jasso Winarto dkk), Arena (Fred Wibowo dkk), Eska (Hamdy, Ali, Oto dkk), Pusaka (Arifin Brandan, Bambang Darto dkk), Shima (Puntung CM Pudjadi dkk), TGM (Heru Sembawa dkk), Ewer-ewer (Wahyono Giri MC dkk), Gedek (Suwarto Peyot dkk), Jeprik (Noor WA dkk), Gandrik (Butet dkk), serta masih banyak lagi yang tumbuh dan berkembang paska keberadaan Bengkel Teater setelah hijrahnya ke Jakarta dan lantas kemudian Depok itu. Belum lagi teater anak-anak seperti Teratai,Kancil dan lainnya mengukuhkan predikat Jogja sebagai “Kota Teater”. Semasa SMA itulah Polan sempat mengikuti proses produksi Teater Klithik yang pentas di Art Gallery Senisono. (Bisa jadi inilah pentas pertama dan terakhirnya di gedung yang pada era 90an sempat jadi kontroversi sebelum pembongkarannya)__Bahkan diam-diam Polan sempat menitikkan air mata dukanya saat Senisono pada akhirnya harus dirobohkan.
Dalam kesendiriannya sewaktu bergulat di wilayah estetika yang bernama Teater di salah satu Perguruan Tinggi Seni di kota Gudeg, yang sebelumnya konon sempat pula diramaikan oleh perdebatan panjang nan tak berujung dengan pembina teaternya di Klithik, Cornellius Sumedi di pinggir Kali Winongo, saat itulah Polan menemukan semacam gairah bercinta luar biasa dengan teater. Meski pada saat yang sama, keluarganya menyangka Polan telah terbius dan terbuai oleh virus teater yang diam-diam telah menjangkiti sanubarinya. Polan hampir saja tak bisa dipisahkan dengan teater. Lebih-lebih saat ia memilih untuk meninggalkan dunia asmaranya serta lebih memilih Teater sebagai kekasihnya luar-dalam. Seperti sepenggal catatan hariannya yang sempat terpublikasikan,
Dia yang seperti Resi Bisma
Terluka hatinya
Kerana cinta yang tak bergema
Ia bilang: "Telah kutimbun rasa cinta itu
sedalamdalamnya selamalamanya
sampai maut menjemput
Dan alam bangka terpampang
Di depan mata”
Memang terdengar sangat remaja, karena itu ditulisnya saat ia lagi gandrung-gandrungnya dengan Si Jelita yang bernama DRAMA. Saking dramatisnya adegan percintaannya dengan Teater, ia tuliskan besar-besar di tembok kamarnya, "TEATER IS ALL" penuh kegagahan sekaligus nampak lucu. Yang rada mengkhawatirkan ketika ia sempat membaiat dirinya dengan kalimat, "I give my life to die in theatre forever"
Teater menjadi semacam agama bagi Polan. Orang tua serta kakak-kakaknya (karena kebetulan ia lahir sebagai anak bontot) bahkan makin asing bercampur ngeri melihat perilakunya. Polan seperti terjepit diantara dua gunung yang menyesakkan dadanya.
Sampai suatu ketika, Polan melakukan hal besar ketika memutuskan untuk menghentikan kuliahnya dan memilih untuk tak pernah menjadi apa-apa. Sebuah pilihan yang setara gendengnya dengan pilihan untuk melanjutkan kuliah di jurusan teater waktu itu. Sampai di titik adegan ini, Polan mengalami kompleksitas psikologis yang cukup serius.(bayangin aja seperti orang yang lagi jatuh cinta, lantas direnggut paksa begitu saja untuk berpisah)
Polan memulai fase baru sebagai orang asing bagi dirinya sendiri. Sebuah situasi yang cukup sulit untuk anak semanis dia (ha-ha-ha). Maka julukan "Setan Yang Manis" alias Stanis (dari versi yang lain tentunya) seperti yang sering diperagakan oleh senior-seniornya sewaktu kuliah dulu menjadi trade mark kemanapun dia melangkahkan kaki.
Polan tercenung merutuki nasibnya yang aneh dan membingungkan itu. Maka ia memilih Pantai Parang Kusumo di sebelah barat pantai Parang Tritis, serta Barat Ketiga dan Pasareyan Eyang Panembahan SelaNing sebagai oase penyembuh bagi kegersangan jiwanya. Namun cukup berhasilkah Polan menemukan dirinya kembali? Bukankah ia lebih percaya dan bahkan sangat yakin, jikalau tempat baginya untuk kembali hanyalah teater?
Karena ini bukan soal kuis,seperti yang banyak bertaburan di layar gelas maka pertanyaan diatas tidak usahlah terlalu disikapi dengan kerut kening maupun kernyit dahi. Cukuplah dengan sebuah dukungan agar ia bisa kembali ke kancah drama. Entah sebagai Aktor, Sutradara, Penulis Naskah maupun sebagai konglomerat (Kayaknya yang terakhir agak berat perwujudannya ya?) Yang paling konkret dan paling mungkin untuk di capai adalah sebagai penonton.(sesuatu yang pernah sangat menggelisahkannya dahulu). Karena ini pun juga bukan sebuah biografi, maka merdeka saja untuk menyembunyikan namanya menjadi siapa saja. Atau sebut saja ia sebagai apa saja toh esensinya ada pada dirinya sendiri sebagai suatu unikum. Mau disebut Ki Ageng Pranadjiwa, Syaturi Al Menury, CN Graha, Remon Concat, maupun Catur Stanis pun sah-sah saja, ha-ha-ha.










hahhahaha...
